Menjadi Yang Terbesar Di Mata Tuhan

0
107

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

Lukas 9:46-48

(46) Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. (47) Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, (48) dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

 

Manusia mempunyai kecenderungan naluriah (insting). Jika kecenderungan naluriah ini dibiarkan bergerak dengan bebas, maka kita akan berbenturan satu sama lain. Mengapa? Karena sifat paling dasar dari naluri adalah ingin menang sendiri. Coba bayangkan, apa jadinya kalau dalam suatu jemaat semua bertindak sesuka hati menurut naluri? Semua pihak tidak ada saling pengertian dan kompromi? Wah, semua akan menjadi kacau balau.

Bagaimana cara mengatasi liarnya kecenderungan naluriah? Ada tiga resep yang sering ditempuh oleh banyak orang. Pertama, perkuat diri sendiri supaya kita dapat menguasai kelompok. Dengan begitu benturan tidak tidak terjadi. Kedua, masing-masing orang berusaha untuk menahan diri. Maka keadaan tetap terkendali. Ketiga, mau mengalah dan saling mendukung untuk kebaikan bersama. Manjurkah resep ini? Dalam pengalaman manjur juga. Tetapi sering kali hanya membantu untuk sementara waktu. Kenapa? Karena resep itu tidak menyentuh inti persoalan yang sebenarnya, yaitu “ke-akua-an” (ego).

Ke-aku-an ini pulalah yang merupakan inti pertengkaran di antara murid-murid Yesus. Inti pertengkaran: Siapa yang terbesar di antara mereka. Masing-masing merasa bahwa dialah yang terbesar dari yang lainnya. Berikut ini sebuah “dialog imajinatif” antara murid-murid untuk memperlihatkan kelebihan masing-masing.

 

Baca juga  Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu

Petrus : “Dari sudut usia, saya paling senior. Dari sudut prestasi, saya telah membuat pengakuan yang amat bersejarah itu. Tetapi terserah, saya tidak berambisi kok.”

Yakobus : “Betul, tetapi jangan lupa siapa yang pertama membawa Petrus kepada Guru! Jadi sebagai murid, saya lebih senior, dan pasti lebih kalem!”

Yohanes : “Lho, yang kita cari ini orang yang paling senior, yang paling berjasa, atau yang paling mampu? Kalau bicara soal kemampuan, maka anda tahu siapa orang.”

Yudas : “Realistislah! Untuk apa jasa dan untuk apa kemampuan, kalau tidak didukung oleh keuangan? Pilihlah siapa yang paling pintar mengelolah keuangan!”

 

Mulut orang bisa saja nyerocos bicara tentang pengabdian atau tentang pengorbanan. Tetapi, umumnya, tujuan dari semua itu adalah untuk menunjukkan ke-aku-annya. Jika ada perbenturan dalam jemaat, sembilan puluh persen disebabkan karena kecenderungan ke-aku-an.

Yesus mengajar kita untuk menaklukan kecenderungan ke-aku-an bukan dengan tiga resep di atas. Tapi dengan menunjuk kepada anak kecil. Kata Yesus, “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Artinya siapa pun yang menerima sesamanya yang “kecil” dalam iman kepada Yesus, dialah yang terbesar. Ajaran Yesus ini memang “berhikmat”. Kalau kita menghargai orang-orang lemah dan kecil maka hidup ini akan mengalami kemajuan. Kita tidak akan pernah menjadi besar selama kita belum mampu merendahkan diri dan menjadi solider dengan mereka yang “kecil”, yaitu mereka yang lemah dan hina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here