Siapa Percaya Takhayul, Dikuasai Takhayul

0
92

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Kolose 2:20-23

(20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.

 

Banyak orang Kristen, katanya, mengaku percaya kepada Yesus, tapi dalam kenyataannya mereka masih terikat kepada takhayul-takhayul. Padahal iman harus membebaskan kita dari takhayul. Tahukah Anda, mengapa takhayul ada? Karena manusia memiliki rasa takut dan terancam. Jadi orang yang hidup dalam takhayul adalah orang yang diliputi perasaan takut dan terancam. Siapa percaya kepada takhayul akan dikauasai oleh takhayul.

 

Orang Kristen yang masih percaya pada takhayul adalah orang yang belum sepenuhnya mengenal dan hidup di dalam Allah. Allah yang mereka bayangkan adalah Allah sesuai pikiran mereka. Bahayanya lagi, ketika pikiran mereka disusupi dan dikuasai oleh ajaran-ajaran yang berkembang di sekitarnya. Mereka percaya kepada Allah, tetapi Allah dalam bayangan mereka sendiri.

 

Firman Tuhan membersihkan hati dan pikiran kita dari takhayul. Melalui firman kita diperkenalkan dengan Allah yang sebenarnya. Allah yang dapat menjamin dan menolong kita. Allah yang dapat membebaskan kita dari rasa takut dan terancam.

 

Puji Tuhan, melalui firman (Alkitab) kita dibawa kepada Yesus Kristus. Lewat Yesus kita dituntun untuk berjumpa dengan Allah. Yohanes 1:18, berkata: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya.”

Baca juga  Mengasihi Musuh Kita

 

Melalui Yesus Kristus (Sang Firman Sejati), kita mengenal Allah dengan lebih jelas. Dia bukan Allah menurut gambaran-gambaran kita atau gambaran-gambaran dari ajaran manapun. Dia adalah Allah yang Mahapengasih dan yang menyelamatkan. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menaklukan diri kepada takhayul-takhayul.

 

Oleh karena itu, waspadalah: siapa percaya kepada takhayul, akan dikuasai oleh takhayul! Tetapi barangsiapa percaya kepada Allah, hidup dalam anugerah dan jaminan Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here