Hidup Dalam Damai

0
586

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

1 Tesalonika 5:12-22

[12] Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; [13] dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain. [14] Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. [15] Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. [16] Bersukacitalah senantiasa. [17] Tetaplah berdoa.

18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [19] Janganlah padamkan Roh, [20] dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. [21] Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. [22] Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

 

Hidup  damai adalah tujuan kekristenan. Damai harus diwujudkan kapan dan di manapun. Semua orang Kristen harus memperjuangkan hal ini, siapa pun dia. Sesungguhnya, anjuran untuk hidup damai bukan baru ditemukan dalam 1 Tesalonika ini. Dalam bagian-bagian Alkitab lainnya juga ada. Dapat disebutkan beberapa di antaranya.

Kepada kaumnya nabi Zakharia pernah menyerukan: “Maka cintailah kebenaran dan damai” (Zakharia 8:19b); Daud dalam mazmurnya menghimbau: “Carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya” (Mazmur 34:15b); kepada para murid dan pengikut-Nya Tuhan Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:19); dan Paulus menasihati jemaat di Roma: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18).

Baca juga  Pdt. Weinata Sairin: "Leve fit quod bene fertur onus. Beban yang dipanggul dengan kerelaan hati akan menjadi lebih ringan".

Dalam suratnya kepada orang-orang Tesalonika, lagi, Paulus dengan nada yang hampir sama menyampaikan harapannya: “Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain” (1 Tesalonika 5:13b). Damai yang diharapkan Paulus dalam nasihatnya ini mempunyai titik-acu pada konteksnya. Paulus melihat pada waktu itu ada orang-orang Tesalonika yang tidak menghargai pemimpin-pemimpin (atau pelayan-pelayan jemaat). Dapat dimaklumi, karena hidup bergereja saat itu baru dimulaikan. Masih banyak orang yang hidup menurut keinginannya sendiri, ketika mereka dilayani untuk hidup sungguh-sungguh dalam Kristus mereka malah menjauh dan bersikap kontra terhadap para pelayan. Hal lain, karena para pelayan yang bersedia membantu Paulus kebanyakan berasal dari strata masyarakat bawah sehingga seringkali tidak digubris atau tidak disukai oleh mereka yang berada pada strata atas. Mereka tidak menghormatinya. Menurut Paulus, biar bagaimana pun, para pelayan (dari strata manapun) patut diberi hormat dan bahkan didukung karena mereka melakukan tugas yang berat demi kebaikan jemaat sendiri. Damai tidak akan terwujud bila jemaat mengeraskan hati untuk menaati firman Tuhan yang dibawakan oleh para pelayan.

Damai yang diharapkan oleh Paulus juga berhubungan dengan kerelaan jemaat untuk membangun hidup bersama ke arah yang lebih baik. Paulus menyebutkan sikap-sikap yang harus dimiliki jemaat untuk saling membangun. Tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib. Jika jemaat mengetahui ada saudaranya yang hidup menyimpang dari norma iman, maka ia berkewajiban untuk menegor dan mengarahkannya. Tentu, dilakukan dalam itikad tulus dan bukan untuk menjatuhkan saudara sendiri. Hiburlah mereka yang tawar hati. Jemaat jangan membiarkan sesamanya mengalami keputusasaan, kedukaan ataupun kemalangan lainnya sendiri. Mereka harus dihibur dan dibantu. Belalah mereka yang lemah. Sebagai satu kesatuan Tubuh Kristus, kehidupan antar jemaat harus saling menunjang. Contohnya membantu orang-orang miskin, bersedia menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang tidak dapat meneruskan pendidikan karena kesulitan biaya dan membantu saudara-saudara yang menjadi korban penindasan semena-mena dari yang kuat. Sabar terhadap semua orang. Iman harus dibuktikan dalam sikap ini. Kita sabar karena Allah panjang sabar. Akhirnya, jangan membalas jahat dengan jahat. “Hukum kedagingan” selalu mengambil prinsip ‘pembalasan lebih kejam dari perbuatan’. Manusia cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan. Tapi Kristus mengajarkan “Hukum Sorgawi” supaya umat Tuhan jangan seperti itu, sebaliknya jemaat harus berusaha melakukan apa yang baik dalam segala hal. Dengan sikap-sikap ini Paulus mau mengatakan bahwa tidak akan damai jika ada orang yang hidupnya menyimpang, putus asa, menderita, angkuh dan jahat.

Baca juga  Kebebasan Adalah Oksigen Jiwa

Selanjutnya, jemaat yang hidup dalam semangat damai di atas akan memperlihatkan tiga ciri iman yang sejati yaitu bersukacita, berdoa dan bersyukur.

Tampaklah bagi kita bahwa hidup damai membutuhkan perjuangan. Memang harus diperjuangkan. Damai tidak turun langsung dari langit. Barangsiapa melakukannya dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan menolong dan memberkatinya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here