Menenggelamkan Gelombang Kekhawatiran, Menemukan Kelegaan dalam Panggilan Yesus
Oleh: Johanes Libu Doni
Penerjemah Ahli Muda Pustrajak Kumdil Mahkamah Agung
Kekhawatiran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Persoalan ekonomi, ketidakpastian masa depan, hingga berbagai tekanan kehidupan dapat membuat seseorang merasa kehilangan ketenangan.
Dalam perspektif kekristenan, kekhawatiran bukan semata-mata persoalan manusia modern. Alkitab menggambarkannya sebagai persoalan yang telah melekat dalam kehidupan manusia sejak kejatuhan manusia.
Dalam Matius 6:25–34, Yesus Kristus mengingatkan manusia agar tidak dikuasai kekhawatiran mengenai kebutuhan hidup, seperti makanan, minuman, dan pakaian.
Kekhawatiran, dalam konteks tersebut, digambarkan sebagai kondisi ketika perhatian manusia beralih dari Allah kepada berbagai persoalan yang dihadapinya. Yesus bahkan menyebut orang yang dikuasai kekhawatiran sebagai orang yang “kurang percaya”.
Menurut pandangan tersebut, persoalannya bukan karena manusia sama sekali tidak mengenal Allah. Namun, fokus iman dapat bergeser ketika seseorang lebih banyak memandang masalah daripada mempercayakan kehidupannya kepada Tuhan.
Belajar dari Burung dan Bunga
Yesus kemudian menggunakan ciptaan di sekitar manusia sebagai gambaran mengenai pemeliharaan Allah.
Dalam Matius 6, burung-burung di udara dan bunga bakung di ladang menjadi contoh. Burung tidak menabur maupun menuai, tetapi tetap dipelihara. Bunga bakung juga tidak bekerja dan tidak memintal, tetapi memiliki keindahan yang bahkan dibandingkan dengan kemegahan Salomo.
Pesan tersebut bukan berarti manusia diminta berhenti bekerja atau bersikap pasif terhadap kehidupan. Sebaliknya, gambaran itu menjadi pengingat mengenai keterbatasan manusia dalam mengendalikan masa depan.
Manusia kerap merasa bahwa kehidupan sepenuhnya berada dalam kendalinya. Ketika perencanaan dan perhitungan tidak berjalan sesuai harapan, kekhawatiran dan kepanikan pun muncul.
Yesus menawarkan cara pandang berbeda, yakni mempercayakan kehidupan kepada Allah yang diyakini memelihara ciptaan-Nya.
“Marilah kepada-Ku”
Pengetahuan bahwa manusia tidak perlu dikuasai kekhawatiran terkadang belum cukup untuk memberikan ketenangan. Bagi orang yang sedang menghadapi tekanan, kecemasan ekonomi, beban dosa, maupun kelelahan hidup, diperlukan sebuah tempat untuk meletakkan beban tersebut.
Dalam Matius 11:28, Yesus menyampaikan undangan:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Ayat tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pesan Injil mengenai kelegaan bagi manusia yang berada dalam tekanan.
Yesus tidak sekadar menawarkan sebuah metode untuk mengelola stres. Ia justru mengarahkan manusia kepada diri-Nya sebagai tempat untuk datang dan menyerahkan beban kehidupan.
Kata “letih lesu” menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami kelelahan akibat bekerja atau berjuang. Sementara itu, “berbeban berat” merujuk pada beban yang menindih kehidupan seseorang, baik dalam konteks keagamaan maupun persoalan duniawi.
Yesus sebagai Sumber Kelegaan
Kekhawatiran juga dapat dilihat sebagai bentuk pencarian manusia terhadap rasa aman, kepastian, pengakuan, dan kendali atas kehidupannya.
Dalam pencarian tersebut, manusia terkadang mencoba menemukan kepuasan melalui berbagai hal duniawi. Namun, ketika sumber kepuasan tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan batin, rasa gelisah justru dapat semakin besar.
Dalam iman Kristen, Yesus Kristus dipandang sebagai sumber kelegaan dan kepuasan sejati bagi jiwa yang gelisah.
Undangan Yesus untuk datang kepada-Nya juga dilanjutkan dengan ajakan untuk memikul kuk yang dipasang-Nya dan belajar kepada-Nya sebagaimana tertulis dalam Matius 11:29.
Dengan demikian, perubahan utama bukan semata-mata terletak pada hilangnya persoalan hidup, melainkan pada perubahan fokus manusia. Perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju pada apa yang ditakuti, tetapi kepada siapa yang dipercayai.
Pesan tersebut sejalan dengan Matius 6:33:
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Mencari Kerajaan Allah dipahami sebagai bentuk penyerahan hidup kepada Allah dan menempatkan kehendak-Nya sebagai prioritas utama.
Menyerahkan Pergumulan kepada Tuhan
Kekhawatiran dapat membuat seseorang merasa harus menyelamatkan dirinya sendiri di tengah berbagai persoalan kehidupan. Ketika kemampuan manusia terbatas, rasa takut pun dapat semakin besar.
Namun, dalam iman Kristen, Yesus Kristus diyakini hadir sebagai Pribadi yang memberikan kelegaan kepada mereka yang datang dengan segala pergumulannya.
Melepaskan kekhawatiran bukan berarti mengabaikan persoalan atau berhenti berusaha. Sebaliknya, hal itu dapat dimaknai sebagai keberanian untuk mengakui keterbatasan manusia sekaligus mempercayakan kehidupannya kepada Tuhan.
Bagi umat Kristiani, damai sejahtera yang berasal dari Yesus menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai bentuk kekhawatiran. Karena itu, pergumulan hidup tidak perlu dipikul seorang diri, tetapi dapat diserahkan ke dalam tangan Tuhan Yesus Kristus yang diyakini sebagai Juruselamat dan penuntun manusia menuju kehidupan kekal.











