Mendorong Pertumbuhan Digital Berkelanjutan: Country Head STT GDC Indonesia, Hendrikus Hendra Gozali, Soroti Tantangan Efisiensi Energi dan Ketersediaan Talenta di Industri Data Center
Jakarta, 2 September 2026 –
Industri pusat data (data center) memegang peran yang semakin strategis di tengah pesatnya laju transformasi digital dan masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun, di balik lonjakan pertumbuhan tersebut, tingginya kebutuhan konsumsi energi menjadi tantangan utama bagi para pelaku industri untuk menjaga keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability).
Hal tersebut ditegaskan oleh Country Head STT GDC Indonesia, Hendrikus Hendra Gozali, saat berbicara kepada awak media dalam rangkaian pameran Indonesia Energy & Engineering Series 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Hendrikus menyampaikan bahwa sebagai operator data center, STT GDC Indonesia memikul tanggung jawab penuh untuk memastikan seluruh fasilitas yang dikelola beroperasi secara efisien, tangguh, dan ramah lingkungan.
“Kewajiban kita sebagai operator data center adalah membuat fasilitas ini menjadi lebih green. Energi yang dibutuhkan data center sangat besar, sehingga fokus utama kita adalah bagaimana menciptakan data center yang ramah lingkungan melalui efisiensi energi yang terukur dan optimal,” ujar Hendrikus.
Ia menekankan bahwa langkah mewujudkan green data center tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dirancang sejak tahap awal (design phase). Desain fasilitas wajib mengacu pada standar internasional yang ketat, dilanjutkan dengan tahap implementasi, audit, serta pengukuran kinerja yang transparan dan obyektif.
“Kita harus melakukan desain yang benar berbasis standar internasional. Setelah diimplementasikan, kinerjanya wajib diukur menggunakan standar yang tepat—salah satunya melalui penerapan standar manajemen energi ISO 50001 serta standar teknis relevan lainnya. Kita tidak bisa sekadar mengklaim bahwa data center kita green tanpa adanya proses pengukuran dan audit yang jelas, persis seperti tata kelola manajemen mutu,” tegasnya.
Efisiensi Energi sebagai Tanggung Jawab Moral Industri
Lebih lanjut, Hendrikus menilai bahwa efisiensi energi bukan lagi sekadar strategi bisnis atau efisiensi investasi semata, melainkan sebuah tanggung jawab moral terhadap kelestarian lingkungan dan generasi mendatang.
Tingginya komputasi AI memicu beban daya yang jauh lebih besar pada infrastruktur digital. Oleh karena itu, inovasi serta inisiatif penekanan efisiensi energi harus terus dikembangkan tanpa mengorbankan keandalan (reliability) layanan pusat data.
“Ini bukan hanya soal investment return, melainkan kewajiban moral kita sebagai pelaku industri untuk menghadirkan infrastruktur yang berwawasan lingkungan. Perkembangan AI membuat kebutuhan komputasi melonjak drastis. Karena data center adalah tulang punggung layanan digital masyarakat, pembangunannya harus berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan,” tambahnya.
Penerapan Prinsip ESG: Berdampak Positif bagi Masyarakat.
Komitmen STT GDC Indonesia terhadap keberlanjutan tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan (Environmental), tetapi juga menyasar aspek sosial (Social). Perusahaan berkomitmen memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan operasionalnya.
Inisiatif sosial tersebut diwujudkan melalui program pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pelatihan kejuruan, serta kolaborasi aktif dengan pemerintah setempat.
“Kami juga menggelar pelatihan serta bermitra dengan professional school dan pihak kecamatan sekitar untuk menyediakan fasilitas publik yang lebih sehat. Kehadiran data center harus memberikan manfaat yang holistik—bukan hanya bagi ekosistem teknologi dan ekonomi, tetapi juga sosial-masyarakat,” ungkap Hendrikus.
Menjawab Kesenjangan Talenta Digital lewat Kolaborasi Pendidikan
Selain isu energi, tantangan kritikal lain yang dihadapi industri data center saat ini adalah keterbatasan talenta siap kerja yang memiliki spesialisasi keahlian di bidang pusat data.
Sebagai industri yang relatif baru dan berkembang sangat pesat, kurikulum di banyak lembaga pendidikan tinggi dinilai masih berfokus pada industri konvensional. Hal ini menciptakan kesenjangan (gap) antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan riil industri digital.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, STT GDC Indonesia aktif membangun kolaborasi strategis dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan kejuruan melalui program magang dan pelatihan mendalam (immersive program).
“Talent gap menjadi tantangan global karena industrinya masih sangat baru. Melalui kerja sama dengan universitas, kami memfasilitasi mahasiswa untuk mendapatkan edukasi komprehensif dan praktik kerja langsung di fasilitas kami. Masa praktiknya pun tidak singkat, berkisar antara 6 hingga 10 bulan,” jelas Hendrikus.
Melalui program program magang berdampak tinggi ini, para peserta mendapatkan pengalaman langsung mengenai operasional data center, pemahaman standar keamanan, hingga pengelolaan fasilitas berstandar internasional.
“Ketika mereka menyelesaikan masa pendidikannya, mereka sudah menjadi talenta siap pakai (job-ready talent) yang siap memperkuat ekosistem digital nasional,” pungkasnya.
Sinergi Menuju Masa Depan Digital Berkelanjutan
Mengakhiri pernyataannya, Hendrikus menegaskan bahwa akselerasi industri data center di Indonesia memerlukan sinergi dan kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia diharapkan dapat melaju pesat seiring dengan efisiensi energi, perlindungan lingkungan, serta peningkatan kualitas SDM nasional yang berdaya saing global. STT GDC Indonesia terus berkomitmen menjadikan prinsip green data center sebagai pilar utama dalam mendukung perjalanan transformasi digital Indonesia.



















