Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

Kawal Kualitas Pelayanan Publik Lewat Pelatihan Handling Customer Complaints

×

Kawal Kualitas Pelayanan Publik Lewat Pelatihan Handling Customer Complaints

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kawal Kualitas Pelayanan Publik Lewat Pelatihan Handling Customer Complaints

 

Example 300x600

Jakarta, Gramediapost.com

 

Pada 15 dan 16 September 2023 lalu telah terlaksana pelatihan batch-1 handling customer complaints secara daring melalui aplikasi Zoom. Kegiatan ini merupakan kelas interaktif yang berhasil mempertemukan para penyelenggara pelayanan publik pada sektor pemerintah maupun swasta diantaranya Konsulat Jenderal Republik Indonesia Frankfurt, Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah, PT Phiraka Sinergi Indonesia, dan TropBRC IPB University.

Kelas ini digagas oleh Fauziah Kurniati, S.K.Pm, CPS, CHCS yang merupakan certified public speaking dan certified handling complaint specialist yang saat ini bekerja di Ombudsman Republik Indonesia. Di dalam kelas ini, para peserta yang bergabung diberikan materi terkait public service in digital era, customer insight, manajemen customer voice (suara pelanggan), knowledge base management, SLA (Service Level Agreement), root cause analysis, metode handling complaint, dan Customer Satisfaction Index (CSI). Selain materi, para peserta juga diberikan ruang untuk melakukan aktivitas FGD (Focus Group Discussion) untuk menggali isu akar permasalahan penyebab sering terjadinya maladministrasi pada sektor pelayanan publik.

Maladministrasi dimaknai sebagai perilaku atau perbuatan melawan hukum, melampaui wewenang, menggunakan wewenang untuk tujuan lain dari yang menjadi tujuan wewenang tersebut, termasuk kelalaian atau pengabaian kewajiban hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh Penyelenggara Negara dan pemerintahan yang menimbulkan kerugian materiil dan/atau immateriil bagi masyarakat dan orang perseorangan (Pasal 1 Ayat (3) UU No. 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia). Menariknya, menurut Survei Populi Center 2021, masalah utama layanan publik yang paling banyak dikeluhkan adalah persyaratan berbelit, dikeluhkan oleh 11,4% masyarakat (dari 1200 responden). Hal ini tentu menjadi gambaran bahwa kualitas pelayanan publik kita belumlah maksimal.

Melalui kelas “Level up handling customer complaints”, wanita bernama Fauziah Kurniati atau yang akrab disapa Nia ini berharap agar kelas ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan publik di Indonesia dari sisi peningkatan kapasitas pada garda terdepan dalam hal ini customer service (Tier-1) maupun di tim top level management. Saat ini bukan lagi eranya “Menuntut dan memberi arahan saja kepada para penyelenggara pelayanan publik untuk dapat memberikan service excellent kepada masyarakat sebagai pengguna layanan”, namun kita harus turun gunung untuk memberikan edukasi, pelatihan, dan memastikan bahwa SDM yang menduduki jabatan sebagai pengelola pengaduan pelayanan publik di masing-masing institusi itu benar-benar diisi oleh orang-orang yang kompeten dan passionate, ujar Nia.

Selain itu, kita juga masih punya PR di mana teman-teman yang saat ini bekerja di bidang pengelolaan pengaduan pelayanan publik khususnya di sektor pemerintahan, menjadikan “pengelolaan pengaduan” baru sebatas tugas tambahan, dikarenakan belum tersedianya SDM yang secara khusus, baik secara jabatan maupun struktural di bidang tersebut, tambahnya.

“Ini merupakan hal yang menyenangkan buat saya, karena kalau kita di birokrasi pemerintah mungkin mindset-nya berbeda ya dengan pelayanan publik yang ada di korporat. Memang kondisi nyatanya adalah kadang-kadang kita bukan merekrut orang yang tepat untuk berada di pelayanan publik untuk berada di garda terdepan, karena memang tidak semua orang punya kompetensi, skill atau punya passion di bidang tersebut”, ujar Donna Fitrah sebagai peserta pelatihan.

“Jadi, terima kasih banyak Ibu Nia, terima kasih sebenarnya kita udah mendengarkan orang-orang hebat di dalam Zoom, jujur kami yang di daerah memang kurang coaching, bahkan teman-teman di Tier-1 itu memang belum pernah ada mengikuti coaching atau pelatihan-pelatihan yang seperti ini”, ujar Titin Sulastri selaku Tier-2 pengelola pengaduan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah.
“Kelas ini benar-benar mengubah mindset saya, terutama di Dinas Kesehatan kalau dulu saya merasa dibutuhkan oleh masyarakat, sekarang kita tuh harus melayani”, ujar wilmayosi.

Testimoni positif pun juga hadir dari seorang customer succes manager, Fahmi Ramadhani Liu “Dari kelas ini saya jadi tahu ternyata masih ada bad point-bad point yang terjadi di penyelenggara pelayanan publik khususnya di pemerintahan, dan ada hal-hal yang belum terimplementasikan maupun yang telah diimplementasikan di pemerintah namun belum berjalan di layanan korporat, ke depan saya jadi tahu harus melakukan hal-hal apa saja yang dapat membuat layanan kita ke masyarakat makin baik”.

“Semoga dengan adanya kelas seperti ini, kita bisa sama-sama berpartisipasi aktif untuk meningkat kualitas pelayanan publik Indonesia dari garda terdepan, memiliki energi baru untuk melakukan sebuah transformasi pelayanan dimulai dari mindset “service culture”, jika bukan kita siapa lagi yang akan memulainya? Indonesia Emas 2045 sudah di depan mata, mari bersiap dari segi peningkatan kualitas SDM pada sektor pelayanan publik menuju cita-cita Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, ujar Nia.

Selanjutnya, jika rekan-rekan penyelenggara pelayanan publik yang membutuhkan informasi pelatihan handling customer complaints dapat menghubungi Ibu Nia melalui kanal Instagram @nia.fauzi (msha.ke/niafauzi).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…