Mantan KAPOLRI : Calon TRIBRATA 1 Harus Paham IT Dan Terorisme

0
497

Mantan KAPOLRI : Calon TRIBRATA 1 Harus Paham IT Dan Terorisme

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Jelang pensiunnya Idham Aziz sebagai Kalpolri membuat bursa konstetasi orang nomor satu di Tribrata semakin menghangat untuk diperbincangkan.

Termasuk bagi kalangan Tokoh Pemuda hingga Purnawirawan Polisi. Seperti hal nya muncul figur fIgur baru yang berpotensi menjadi calon kapolri, bahkan ada juga prediksi adanya calon tunggal yang bakal diajukan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Melihat semakin seksi nya pembahasan pengganti idham Aziz, Kapolri periode 2001-2005, Jenderal Pol (P) Tan Sri Prof. Drs. Dai Bachtiar, S.H, A.O angkat bicara terkait hal tersebut.

Menurut Dai semua polisi dengan pangkat Komjen punya peluang yang sama untuk menjabat Kapolri. “Di TNI-Polri kariernya jelas. Ada mekanisme kepangkatan. Walaupun akhirnya pilihan ada di Presiden. Jadi polisi yang punya pangkat tertinggi atau jenderal senior dengan usia pensiun masih lama yaitu 3 tahun, itulah kandidatnya,” Ujar dai pada sebuah acara deklarasi Keluarga Besar Purna Tugas ASN/BUMN dan BUMD di Indramayu, Jumat (20/11/2020).

selain jenjang kepangkatan, yang tidak kalah penting adalah pengalaman terkhusus dalam bidang Terorisme, menguasai IT dan berhubungan baik dengan semua lembaga. Apakah pengalamannya cocok dengan situasi sekarang. “Menurut saya pribadi, calon pimpinan Polri bisa dilihat dari pengalaman dikaitkan dengan situasi sekarang, misalnya sindikat terorisme baik nasional dan internasional dan harus memahami IT agar bias dengan mudah menganalisa kasus serta mempunya hubungan baik antar lembaga tinggi di indonesia” jelasnya.

Menurut Da’i, situasi saat ini beda dengan zaman saat ia menjabat Kapolri. Teroris masih ada. Tapi yang jadi persoalan sekarang bagaimana mengelola masyarakat dengan munculnya fenomena media sosial yang bisa mempengaruhi massa atau masyarakat. “Menghadapi isu di media sosial dan Daring (dalam jaringan/online-Red) polisi harus ‘wise’. Artinya bagaimana kemampuan polisi mendeteksi hal tersebut (isu di media sosial-Red) sehingga tidak ada pengerahan massa akibat hoaks,” kata pria yang pernah juga menjabat Duta Besar Malaysia ini.

Baca juga  PT. SATRIA MEGA KENCANA TBK GELAR PUBLIC EXPOSE SECARA DARING

Selain dari mantan jenderal kapolri, turut juga berbicara ditempat yang sama tokoh pemuda nasional terkait bursa calon kapolri, Koordinator Seknas Indonesia maju, Rusdi Ali Hanafia.

“Kita Sebagai pemuda harus turut serta mengkaji figur-figur dalam bursa calon Kapolri. Saya juga meyakini Pak Jokowi akan memilih calon Kapolri untuk kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan kelompok apalagi partai politik, karena mulai tercium ada salah satu Figur yang sedang naik daun dan itu menurut analisa saya figure tersebut sangat syarat dengan kepentingan parpol oposisi pemerintah” kata Rusdi.

Rusdi juga angkat biacara soal adanya kubu-kubu di internal Polri yang saat ini menguat yakni kubu Solo dan Kubu Makassar. Menurut Rusdi, kubu-kubu di internal Kepolisian sebaiknya dilepaskan terlebih dahulu. “Saat ini kepolisian harus sejalan dengan kebijakan pemerintah, melayani masyarakat dan menciptakan keamanan apalagi saat pandemi seperti ini, apalagi di usia Polri yang sudah ke-74 yang sejatinya konsolidasi ke dalam semakin mantab” ungkap Rusdi.

Kapolri harus menjunjung profesionalitas dengan tidak menjadi alat kepentingan politik.
“Calon Kapolri harus mampu mengawal netralitas institusi Polri sehingga tidak terbawa arus kekuasaan yang tertuju pada ambisi partai politik,” lanjut nya.

Sebagai informasi yang dihimpun dari CNBC Indonesia, ada tiga calon kuat, yaitu Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Gatot Eddy Pramono, Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar.( R )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here