JEJAK DIGITAL DAN POST-TRUTH POLITICS DALAM PILPRES 2019

0
120

JEJAK DIGITAL DAN POST-TRUTH POLITICS DALAM PILPRES 2019
(Kasus Aneka Lembaga Survei yang Memenangkan Prabowo)

 

Oleh: Denny JA

 

Jejak digital itu sidik jari politik di era media sosial.

Dulu, sidik jari digunakan untuk kasus kriminal. Pun penggunaan sidik jari hanya bisa dikerjakan oleh mereka yang profesional dengan aneka test labolatorium. Dibutuhkan waktu cukup lama, setidaknya dalam hitungan hari, untuk melacak jejak kriminal dengan test sidik jari.

Tapi kini, era digital memiliki sidik jarinya sendiri. Pun penggunaannya tak hanya untuk kriminal. Jauh lebih banyak untuk mengeksplor, mengenali track record seseorang, sekelompok orang, atau isu atau gagasan, yang terekam dalam aktivitas internet.

Tak hanya ahli, tapi setiap individu dapat menggunakan jejak digital. Tak perlu berhari-hari tapi hanya dalam hitungan detik, kita bisa mendapatkan hasil jejak digital. Tak memerlukan test labolatorium, cukup dengan Google Search, jejak digital yang dicari hadir, apa adanya.

Marilah mulai dengan contoh soal. Ini kisah tentang Fadli Zon dan lembaga survei Puskaptis. Hanya dengan melihat berita online IDN Times 9 April 2014, judulnya sudah bercerita. Fadli Zon: Survei Puskaptis sejalan dengan riset BPN.

Yang dimaksud Fadli Zon soal survei puskaptis pada berita itu hasil mutakhir puskaptis yang baru saja diumumkan. Hasilnya Prabowo menang tipis atas Jokowi dalam survei yang diklaim dilaksanakan dalam periode 26 Maret- 2 April 2019.

Namun cukup ketik di Google Search dengan teks “survei dan quick count Puskaptis,” abakadabra! Dalam hitungan detik, keluar berita itu.

Di tahun 2014, di hari pencoblosan pemilu presiden, Prabowo capres saat itu sujud syukur. Kompas.com 9 juli 2014, lengkap dengan waktu: pukul 16:38 WIB, berjudul: Merasa menang dalam “Quick Count,” Prabowo sujud di lantai.

Itu sungguh sebuah momen yang emosional, penuh keharuan, ujung sebuah perjuangan. Akhirnya Prabowo terpilih sebagai capres 2014.

Apa yang membuat Prabowo bersyukur? Salah satunya Quick Count hasil lembaga survei Puskaptis yang mengabarkan Prabowo-Hatta menang 52.05% dibanding 47,95% Jokowi- JK.

Baca juga  Babak Baru Hubungan Bilateral: Indonesia-EFTA Tandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehesif

Kini kita tahu. Astaga! Betapa salahnya quick count Puskaptis. Betapa Prabowo telah tertipu oleh quick count Puskaptis. Dan betapa fatalnya kekeliruan Puskaptis. Asosiasi lembaga survei, Persepi pun memecat Puskaptis, juga JSI, dari keanggotannya. Dalam dunia akademik, kesalahan Quick Count itu fatal bin maha fatal!

Kini kita lihat sebuah drama. Fadli Zon kembali mempercayai lembaga survei yang terbukti sudah fatal salah. Fadli Zon tidak ragu dengan hasil survei Puskaptis yang sudah mempermalukan Prabowo hingga sujud syukur. Kini Fadli Zon meyakini Puskaptis, lembaga yang sudah dipecat dari asosiasi lembaga survei.

Apa yang menyebabkan Fadli Zon percaya? Itu semata karena Puskaptis kembali memenangkan Prabowo dalam pilpres 2019!!

Jejak digital membuat kita tahu dua kisah ironi politik.

Ironi politik pertama, yang agak menyentuh, betapa sangat mendalam kerinduan Fadli Zon dan team Prabowo akan hadirnya lembaga survei yang memenangkan Prabowo pada pilpres 2019.

Apa daya lebih dari 8 lembaga survei mainstrem, yang kredibel, mengumumkan kemenangan Jokowi dua digit dan telak. Akibat kerinduan itu, lembaga survei yang membuatnya tertipu 2014, ia kapitalisasi, hanya semata karena ada pesan Prabowo menang di sana.

Ironi politik kedua, yang agak mengkhawatirkan, pilpres 2019 memperkuat hadirnya “Post-Truth Politics.” Istilah ini mengacu pada sikap politik yang hanya ingin mengkonfirmasi keyakinan dan harapan sesuai dengan kepentingannya.

Fakta, data, kebenaran yang sebenarnya, dalam paham Post-Truth Politics bukan lagi yang utama. Kebenaran tak lagi dipedulilan jika bertentangan dengan apa yang ingin ia yakini.

Sebaliknya, informasi yang salah sejauh sesuai dengan gelora kepentingannya, ia yakini bahkan ia kapitalisasi. Post-Truth politics membuat debat berdasarkan akal sehat menjadi mustahil.

-000-

Daftar lembaga survei yang memenangkan Prabowo tak hanya Puskaptis. Beberapa contoh lain dapat kita kemukakan tidak dalam rangka bergosip ria.

Baca juga  Adv. Kamaruddin Simanjuntak, S.H. Mengklarifikasi Pernyataan Bupati Kobar Terkait Sengketa Tanah

Pemaparan ini semata untuk menujukkan betapa jejak digital telah datang sebagai berkah peradaban modern. Kasus dapat dinyatakan untuk pesan. Kini setiap individu memiliki fasilitas untuk tahu hal ihwal yang sebenarnya, hanya dengan mengetik di Google Search yang “Hampir Maha Tahu.”

Lembaga survei lain di bulan April 2019 yang memenangkan Prabowo bernama NCID: Nurjaman Center for Indonesia Democracy.

Lebih nekad dibanding Puskaptis, NCID mengumumkan kemenangan telak Prabowo: 58, 23 persen. Jokowi dibuat di angka hanya 41, 77 persen. Prabowo unggul dua digit.

Survei NCID seolah membalikkan 7-8 lembaga survei yang panjang jejaknya. Yang menang double digit itu bukan Jokowi, tapi Prabowo!

Om Google hadir membantu siapapun untuk melacak jejak digital. Cukup dengan mengetik Nurjaman Center dan survei, keluarlah jejak itu.

Misalnya, PublicaNews tanggal 5 Juni 2018, lengkap dengan waktu:20: 22:15. Judulnya: Sudirman Said ungguli Ganjar Pranowo. Ini hasil survei Nurjaman Center soal Pilkada Jateng. Ia mengabarkan Sudirman Said yang menang, bukan Ganjar Pranowo!

Atau soal Pilkada Jabar. Itu berita dalam SkalaNews tanggal 25 Juni 2018. Judulnya cukup mentereng: Pasangan Asyik diprediksi menangkan Pilkada Jabar. Kembali yang menjadi kesimpulan adalah hasil survei Nurjaman Center. Pasangan Asyik yang menang, bukan Ridwan Kamil!

Lebih jauh lagi jejak pemilu 2014. Berita Satu tanggal 9 April 2014. Judulnya besar: Hasil Exit Poll NCID: Gerindra menang, PDIP kedua, Golkar ketiga. Tak hanya survei, Nurjaman Center juga mengklaim melakukan Exit Poll. Bukan PDIP yang juara pemilu 2014, tapi Gerindra!

Kita tahu betapa salah Nurjaman Center baik pada pilkada Jabar, Jateng atau pemilu 2014.

Kini tak hanya lembaga survei domestik yang memenangkan Prabowo, tapi juga the so called “lembaga survei international”. Nama lembaga itu PPPP: Precision Public Policy Polling. Jika partai di Indonesia ada P yang hingga tiga kali PPP, lembaga ini P nya empat kali PPPP. Ada kata Precision pula di sana.

Baca juga  Milenial Lintas Rumah Ibadah dalam Memperingati Kelahiran Pancasila 1 Juni 2019: “Menjaga Pancasila Mulai Dari Rumah Ibadah”

Lembaga ini juga memenangkan Prabowo dengan angka 54 persen. Jokowi hanya 37 persen. Yang belum menentukan 7 persen.

Kembali jejak digital bisa membantu. Siapakah PPPP ini? Pernahkah ia melakukan survei sebelumnya?

Tak ada jejak lembaga itu pernah melakukan survei sebelumnya. Tak ada pemberitaan bahwa lembaga itu pernah ada sebelum mengumumkan survei pilpres 2019.

-000-

Masih banyak lagi contoh lain. Tapi cukup dari tiga kasus di atas kita temukan nada dasar yang sama dalam aneka lembaga survei yang memenangkan Prabowo.

Pertama, itu lembaga yang bahkan sudah dipecat oleh asosiasi lembaga survei. Kedua, itu lembaga yang terbukti salah berkali-kali dalam pilkada, bahkan pemilu nasional. Entah kebetulan atau tidak, yang dimenangkan lembaga itu selalu pasangan yang berasosiasi dengan Prabowo/Gerindra.

Ketiga, itu lembaga yang namanyapun baru kita dengar. Hadirnya bumbu bahwa itu lembaga survei dari Amerika, atau adanya kemasan singkatan istimewa melampaui PPP (3 P) dan ini PPPP (4 P), tak banyak membantu. Jejak digital tak terkesan dengan kemasan. Jejak digital hanya ingin sampaikan apa yang ada dalam rekaman internet.

Namun isu lembaga survei hanya pertanda saja. Yang kita khawatirkan kultur di balik itu.

Telah tiba. hal yang lebih besar, lebih serius. Sebuah kultur yang disebut Post-Truth Politics semakin tumbuh meraksasa. Kultur ini semakin terasa dominan dalam percakapan publik kita.

Ialah kultur yang tak lagi saling mendengar. Kultur yang tak lagi menjadikan data, argumen, fakta dan kebenaran sebagai dasar kesimpulan. Kultur yang tak lagi menjadikan debat ruang publik sebagai area saling mengoreksi. Kultur yang tak lagi peduli pada pencerahan.

Meyakini lembaga survei yang jelas jelas pernah salah fatal dan dipecat asosiasinya adalah bentuk telanjang dari kultur Post-Truth Politics! ***

April 2019

Link: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/2095740357188769?sfns=mo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here