Tanggung Jawab Beribadah di Gereja dan di Rumah

0
168

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Kisah Para Rasul 2:41-47

(41) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (42) Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. (43) Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. (44) Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, (45) dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. (46) Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, (47) sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 

Perikop ini menggambarkan cara hidup Jemaat Kristen yang pertama. Mereka hidup dalam persekutuan yang indah, saling berbagi dan saling menopang. Selain itu, mereka menjalankan ibadahnya dengan tekun. Dalam ayat 46a kita membaca bahwa: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah.” Di mana mereka beribadah? Dalam bait Allah!

Jemaat Kristen Pertama betul-betul memanfaatkan rumah ibadahnya dengan baik. Tiap-tiap hari! Wow, luar biasa! Sebagai anak-anak Tuhan, mereka dengan tekun dan penuh kerinduan selalu datang untuk berkumpul, bersekutu, berdoa dan belajar firman Tuhan. Sekali lagi, mereka memanfaatkan rumah ibadahnya dengan baik! Bandingkan dengan rumah-rumah ibadah kita sekarang ini, terutama di negara-negara yang sudah maju. Dari segi biaya, rumah ibadahnya dibangun dengan biaya yang sangat muahaal sekali! Tapi bagaimana pemanfaatannya? Barangkali kurang atau lebih sedikit dari 1 persen. Nanti ada kegiatan pada hari Sabtu dan Minggu. Banyak orang Kristen berkecenderungan membangun rumah ibadah yang besar dan megah, hanya untuk ‘pamer’. Lihat, kami punya gereja yang paling megah! Tapi gedung yang megah itu kemudian tidak dimanfaatkan dengan baik. Ibadah dan persekutuan sangat jarang dilakukan di dalamnya.

Baca juga  Tujuh Elemen Dasar Yang Menopang Iman (2 Petrus 1: 5-7)

Tetapi juga jangan lupa bahwa selain melakukan ibadah di bait Allah, Jemaat Kristen Pertama juga melakukan hal yang tak kalah pentingnya di rumah-rumah. Dalam ayat 46b-47a kita membaca bahwa: “Mereka juga memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.” Bila di bait Allah mereka melakukan ibadah dan persekutuan yang sifatnya lebih formal (belajar firman, ibadah bersama, dan persekutuan lainnya), di rumah-rumah mereka melakukan yang sifatnya lebih informal dan lebih personal (perjamuan kasih, dan kegiatan-kegiatan yang membangun rasa kasih dan kekeluargaan). Jadi ada bagian yang mereka lakukan di gedung ibadah dan ada bagian yang mereka lakukan di rumah-rumah.

Kita harus belajar dari Jemaat Kristen Pertama. Apa yang perlu kita ambil dan pelajari dari mereka? Ada dua hal. Pertama, ibadah di gereja itu penting! Maka kita harus menghadirinya. Sebab di sana kita bersatu dengan seluruh jemaat sebagai saudara seiman dalam Tuhan. Kita tidak boleh tinggal di rumah, dan berkata: “Di rumah saya mendengarkan khotbah juga kog, dari TV atau radio.” Jangan kita keliru. Tuhan memanggil kita untuk selalu bersekutu dengan jemaat pada hari-hari ibadah. Kedua, persekutuan keluarga itu perlu! Maka kita harus mengadakannya (baik di rumah sendiri maupun secara bergiliran antar keluarga dalam wilayah). Sebab dalam keluarga kita menjalin hubungan kasih antar anggota keluarga dan melakukan pembinaan iman kepada anak-anak.

Jadi, kita mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan ibadah baik di gedung gereja maupun dalam rumah tangga kita. Sekarang ini banyak terjadi ketimpangan antar keduanya. Ada orang yang sangat aktif dengan ibadah di gereja, tapi melupakan persekutuan di rumahnya. Sebaliknya, ada orang yang rajin membuat persekutuan di rumahnya, tapi malas menghadiri ibadah dan pertemuan bersama dengan jemaat. Kita harus mengingat bahwa ada bagian dari iman kita yang harus kita wujudkan di gereja dan ada bagian yang kita wujudkan di rumah. Tanggung jawab beribadah di gereja dan di rumah mempunyai fungsinya masing-masing. Di gereja kita mendapatkan pengajaran-pengajaran formal (lewat khotbah dll.), di rumah-rumah kita menerapkan apa yang diajarkan itu (melalui persekutuan kasih dan kekeluargaan, perlawatan dan tindakan saling memperhatikan serta menolong sesama).

Baca juga  Menjadi Yang Terbesar Di Mata Tuhan

Contoh kecil, bagaimana kita dapat melihat hubungan keduanya, adalah pendidikan iman anak-anak kita. Kita tidak mungkin berkata bahwa dengan membawa anak-anak kita ke sekolah minggu, semuanya beres. Belum. Kita harus mendidik mereka juga di rumah. Kita harus terus mengarahkan dan memantau mereka dalam pertumbuhannya. Jika pendidikan iman di rumah kita lepaskan, ini akan merusak perkembangan moral anak-anak kita.

Hubungan antara ibadah di gedung gereja dan di rumah-rumah harus terus dipelihara. Jangan ada yang berat sebelah. Jangan sampai terjadi, saking kompaknya kita dalam persekutuan keluarga dan wilayah, lalu kita terlepas dari kesatuan jemaat karena kita merasa cocok sendiri. Jangan. Kita harus tetap menjadi bagian dari kesatuan jemaat, di mana kita tetap ikut ambil bagian di dalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here