Hidup Menurut Kehendak Allah

0
172

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Kejadian 24:1-4, 10-14

(1) Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal. (2) Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: “Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, (3) supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. (4) Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.”

——–

(10) Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya dan pergi dengan membawa berbagai-bagai barang berharga kepunyaan tuannya; demikianlah ia berangkat menuju Aram-Mesopotamia ke kota Nahor. (11) Di sana disuruhnyalah unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air. (12) Lalu berkatalah ia: “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. (13) Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. (14) Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum — dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.”

 

Hidup menurut kehendak Allah. Orang yang hidup menuruti (dalam tindakan nyata!) kehendak Allah mendapat bagian yang indah dalam kehidupan bersama Tuhan Yesus. Dalam Matius 12:50 Tuhan Yesus berkata: “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Indah bukan? Kita dapat menjadi saudara-Nya Tuhan Yesus.

Baca juga  THE UNEXAMINED LIFE IS NOT WORTH LIVING' (Socrates)

 

Tapi bagaimana cara untuk hidup menurut kehendak Allah? Dalam Kisah Para Rasul 22:14 dikatakan: “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya.” Allah sudah menetapkan, artinya membuat kita sedemikian rupa, mengerti kehendak-Nya melalui kemampuan melihat yang benar dan mendengar firman-Nya. Siapa di antara kita yang tidak bisa melihat dan menilai apa yang benar? Semua bisa, kecuali orang tidak waras! Siapa di antara kita yang tidak dapat mendengar firman Tuhan? Semua dapat. Orang tuli pun dapat ‘mendengarnya’ melalui panca inderanya yang lain. Kecuali orang bodoh! Karena kita dapat, maka kenalilah kehendak Allah. Ini akan menjadi tugas kita masing-masing. Paulus, dalam Efesus 5:17 berkata: “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

 

Bagi setiap orang yang hidup menuruti kehendak Allah, maka janji Allah sudah tersedia baginya. Dalam 1 Yohanes 2:17 dikatakan: “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Juga dalam 1 Yohanes 5:14 disampaikan: “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” Tampak dengan jelas bahwa orang hidup menurut kehendak Tuhan akan dipelihara oleh Tuhan.

 

Meski sudah jelas bagaimana kita hidup menurut kehendak Tuhan, namun kita harus menyadari bahwa ada ‘proses’ yang harus kita lalui. Untuk itulah kita akan belajar dari pembacaan kita kali ini, Kejadian 24:1-4, 10-14.

 

Perikop ini memuat kisah mengenai Abraham menyuruh hambanya Eliezer untuk mencarikan istri yang dikehendaki Tuhan bagi anaknya, Ishak. Siapa istri yang dikehendaki Tuhan bagi anaknya? Pertama-tama Abraham memahami dulu apa yang tidak dikehendaki Tuhan supaya jangan dilakukan. Ia berkata kepada hambanya Eliezer: “Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam” (ayat 2-3). Abraham tahu bahwa Allah tidak menghendaki Ishak kawin dengan gadis Kanaan (bangsa yang tidak percaya kepada Allah). Jadi harus dihindari.

Baca juga  Kematian Yang Berharga

 

Langkah pertama untuk mengenal kehendak Tuhan adalah kenali dulu apa yang tidak Ia kehendaki. Dalam segala sesuatu yang mau kita lakukan kenali apa yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Jika ada yang tidak dikehendaki Tuhan, maka anda jangan menunggu lama untuk mengatakan tidak! Saya tidak akan melakukannya karena Tuhan tidak menghendakinya.

 

Setelah itu lakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Pesan Abraham kepada Eliezer: “Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku” (ayat 4). Karena sudah tahu apa yang tidak dikehendaki oleh Tuhan, maka Abraham ‘putar otak’. Ia menggunakan logikanya. Logikanya adalah: harus mencari gadis di luar Kanaan. Dengan pikirannya (logikanya) ia mengarahkan dirinya pada kehendak Tuhan. Logika itu penting dalam hidup beriman. Dia membantu kita untuk berpikir sebelum bertindak.

 

Segera Eliezer berangkat ke Nahor, tempat yang dimaksudkan oleh Abraham. Tiba di Nahor, Eliezer bingung untuk menentukan gadis mana yang akan dibawa sebagai istri bagi Ishak. Lalu dia sujud berdoa minta petunjuk dari Tuhan. Di sini Eliezer tidak dapat mengandalkan hanya pikiran (logikanya). Ia membutuhkan doa. Setelah berdoa Allah memberitahukan bahwa Ribkalah yang akan menjadi istri bagi Ishak. Walau doa merupakan andalannya dalam kondisi yang dihadapi, bukan berarti logikanya tidak berfungsi. Justru Eliezer harus menggunakan pikiran untuk menguji apakah Ribka sudah memenuhi petunjuk Tuhan atau belum.

 

Nah, jelas sudah bahwa hidup menurut kehendak Tuhan harus dimulai dengan mengenal apa yang tidak dikehendaki dan apa yang dikehendaki Tuhan. Dalam proses itu kita menggunakan pikiran dan topangan doa. Iman memang membutuhkan pikiran (logika) dan, tentu saja, yang sangat penting adalah doa.

Baca juga  Hati Yang Bersyukur Selalu Memberi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here