Pdt. Suyapto Tandyawasesa, M.Th.: Gereja Harus Menjadi Pilar Masyarakat Sipil dan Kekuatan Moral Bagi Bangsa!

0
293

 

Suyapto

“Ormas Kristen merupakan salah satu pilar, corong, komunikator dan representasi Gereja dan umat di dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Ormas Kristen berfungsi menjadi katalisator, fasilitator, dinamisator, motivator, aspirator, motor dan jembatan penghubung Gereja ke masyarakat dan pemerintah. Karena itu, keberadaan dan fungsi ormas Kristen yang sangat strategis dan penting dalam dinamika perkembangan masyarakat saat ini harus senantiasa dicermati, dikritisi dan direvitalisasi. Saat ini banyak Ormas Kristen sedang mengalami krisis fungsional, krisis eksistensial dan krisis kepemimpinan. Kita semua harus prihatin dengan krisis yang sedang kita hadapi ini. Karena, kalau peran dan pengaruh ormas Kristen lemah dan kecil di masyarakat, lemah pula bargaining position dan suara kita. Jadi, ormas Kristen sebagai bagian sentral dari masyarakat sipil harus mampu dulu membangun diri menjadi organisasi yang kuat, mapan, solid dan berintegritas,- baru bisa mempengaruhi, menggarami dan menerangi masyarakat dan pemerintah secara kuat dan efektif. Di tengah-tengah krisis global dan krisis kebangsaan kita saat ini, umat Kristen harus terus berusaha menjadi kekuatan moral dan spirit kebangkitan bangsa dengan memperkuat civil society.”demikian dikemukakan Pdt.Suyapto Tandyawasesa, M.Th., ketika menerima audiensi Tritunggal, di kantornya di Jakarta.

“Ormas Kristen didirikan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, terutama untuk menghadirkan berkat dan kasih Allah dan mengusahakan kesejahteraan bangsa. Apabila ormas Kristen tidak berjuang keras untuk menciptakan keadilan sosial, masyarakat sejahtera dan negara demokrasi, maka ormas Kristen akan menjadi organisasi marjinal. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat saat ini yang sedang dilanda krisis dalam segala aspek kehidupan, maka ormas Kristen tidak hanya harus bisa menjadi nabi untuk berbicara tentang kondisi sosial masyarakat, tetapi harus juga bisa berfungsi menjadi agen pembebasan dan agen kesejahteraan bangsa. Melawan ketidakadilan akibat globalisasi, mengadvokasi kepentingan kaum miskin dan membela perdagangan yang adil juga harus disuarakan ormas Kristen.

Baca juga  PETA SOSIOLOGI KEPEMIMPINAN POLRI DAN AGENDA MEMBANGUN INDONESIA MAJU

Orientasi utama/dasar Ormas Kristen Protestan adalah sebagai Abdi Masyarakat Sipil (Civil Society’s Servant). Ormas Kristen harus berjiawa dan berhati pelayan dan bersemangat pengabdi. Kristus memanggil dan mengutus kita ke dalam dunia ini untuk menjadi abdi, pengabdi, pelayan, pengerja bagi masyarakat, bangsa dan dunia. Umat dan ormas Kristen harus bisa menjadi pembawa terang/pencerahan, penyalur berkat/kasih Allah, pembawa damai sejahtera, keadilan, kasih, pengharapan dan rekonsiliasi. Tugas besar/utama kita adalah menjadi agen, administrator, kontributor dan partisipator utama pembangunan nasional.”tegas Pdt. Suyapto.

“Ormas Kristen memang masih sedikit di Indonesia. Karena itu semakin banyak ormas Kristen semakin baik. Karena Ormas Kristen merupakan bagian integral dari kesaksian dan pelayanan, kita sangat mendukung kehadiran ormas Kristen yang misi dan visinya untuk pelayanan sosial-kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.Kita harus mendorong umat Kristen (warga gereja) dalam membangun ormas-ormas Kristen yang baru. Namun, ormas Kristen harus memperjuangkan kepentingan nasional atau kepentingan bangsa secara keseluruhan, bukan kepentingan umat Kristen semata-mata, tetapi untuk semua kelompok. Politik kita adalah politik kebangsaan. Visi kita adalah visi kebangsaan, kerakyatan dan kesejahteraan bersama. Saya berharap Gereja dan ormas Kristen dapat menjadi pilar civil society yang kuat, kredibel dan bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat. Kita adalah Agen Moral Bangsa” tambah Pdt. Suyapto.

“Untuk memperkuat masyarakat sipil tersebut maka Gereja dan umat Kristen harus “melek politik”. Sudah lama dan masih banyak orang Kristen yang memahami politik berada di luar tanggung-jawab utama sebagai orang Kristen. Menurut saya, dari sudut pandang Firman Tuhan, perbedaan dualistis antara gereja dan dunia, antara yang kudus dan sekuler itu salah. Kristus adalah Tuhan atas seluruh dunia, atas seluruh dimensi ciptaan. Kita harus membawa setiap pemikiran, setiap kegiatan, setiap tanggung-jawab ke hadapan terang Firman Tuhan. Semua kehidupan adalah ciptaan Tuhan dan milik Tuhan. Karena itu, seluruh dimensi kehidupan harus sesuai dengan kebenaran dan standar Firman Tuhan. Baik sebagai warga negara maupun pejabat negara kita harus menyelaraskan kehidupan pribadi dan kehidupan sosial dengan standar Alkitab. Kita harus menumbuhkembangkan pemahaman dan kesadaran komprehensif tentang politik menurut Alkitab. Kita harus mempunyai pandangan politik Kristen yang sesuai dengan dasar-dasar dan kebenaran Firman Tuhan, sesuai dengan etika dan moralitas Kristen. Misalnya, kita harus menolak gerakan aborsi, Kita harus menolak pandangan dunia yang bertolak dengan Firman Tuhan.

Baca juga  *BUNUH DIRI MASAL PERGURUAN TINGGI - MENUJU PENDIDIKAN ASEMBLING* SUDARYONO Kompas 29 Agustus 2017 Akhir-akhir ini di media sosial sedang hangat didiskusikan dan diperdebatkan perihal universities disruption yang dipicu artikel Jim Clifton, ”Universities: Disruption is Coming”. Isinya secara garis besar mempertanyakan dan mengkhawatirkan peran masa depan pendidikan tinggi dalam menyuplai tenaga kerja industri di dunia. Pemicu ditulisnya artikel tersebut adalah iklan Google dan Ernst & Young yang akan menggaji siapa pun yang bisa bekerja dengannya tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari perguruan tinggi (PT). Iklan dari Google dan Ernst & Young tersebut seperti halilintar di siang bolong. Ia mengejutkan dan menyambar kemapanan yang telah dinikmati oleh PT di seluruh dunia dalam perannya sebagai penyuplai tenaga ahli, hasil riset, dan pemikiran-pemikiran yang dibutuhkan dunia industri. Namun, peran penting PT saat ini seakan telah dinihilkan oleh Google dan Ernst & Young, yang sebentar lagi barangkali diikuti oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang lain. Lonceng kematian PT seakan telah didentangkan oleh kedua perusahaan raksasa tersebut, menyusul artikel yang ditulis oleh Terry Eagleton, berjudul ”The Slow Death of the University” (2015). Artikel Eagleton memberikan gambaran bahwa PT sedang melakukan bunuh diri massal melalui pengabaian pada tugas utamanya, yakni ”pendidikan”, karena telah bergeser lebih mengutamakan ”riset dan publikasi”. Lebih menyedihkan lagi, tradisi hubungan dosen dan mahasiswa yang seharusnya berbasis ”guru dan siswa” telah bergeser menjadi ”manager dan pelanggan”. Khusus di Indonesia, fenomena bunuh diri massal ini ditambahkan oleh keluhan bahwa para dosen saat ini lebih mementingkan meng-updateLKD (laporan kinerja dosen) karena berkaitan dengan tunjangan kinerja dosen daripada meng-update materi kuliah yang diampunya. Pertanyaan menarik untuk diajukan adalah apakah eksistensi pendidikan tinggi akan segera berakhir ataukah tetap akan ada tetapi arahnya akan berbelok tajam tidak mengikuti garis linier lagi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu: (1) melihat lagi ke belakang sejarah kaitan antara pengetahuan, sains, dan teknologi; (2) tahap-tahap perkembangannya; (3) esensi dan sifat dasar kaitan ketiganya dalam perspektif kekinian; dan (4) pengaruhnya pada arah pendidikan tinggi kita di masa depan. Sejak kelahirannya pada abad ke-17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi. Pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains, yang untuk selanjutnya sains akan berperan sebagai ibu kandung dari kelahiran teknologi. Pengetahuan tentang benda-benda di langit yang didasarkan pada pengamatan yang berulang, pada akhirnya telah melahirkan prinsip-prinsip serta dalil-dalil di bidang sains. Kemudian disusul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipotesis yang dibangun oleh abstraksi sains. Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber berpikir atau guru bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak di kemudian hari, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasi dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkannya melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit. Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, yang usianya sampai saat ini baru sekitar 200 tahun, tetapi pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa. Perkembangan selanjutnya Revolusi industri ternyata bukan saja hasil puncak dari perkembangan sains modern, melainkan juga awal terciptanya alam (buatan) baru. Tradisi cara berpikir manusia kemudian berubah dari linier jadi siklikal karena produk-produk teknologi yang dihasilkan manusia tidak saja hanya dilihat sebagai ”hilir” dari pengetahuan dan sains, tetapi juga sebagai ”hulu” pengetahuan untuk melahirkan sains dan produk-produk teknologi baru. Pergeseran cara berpikir ini dapat kita kenali dari berubahnya cara berpikir yang semula disebut sebagai discovery menjadi innovation. Cara berpikir ”inovasi” telah meremas pengetahuan, sains, dan teknologi ke dalam satu genggaman tangan untuk kemudian dibentuk jadi bentukan-bentukan baru yang lebih mudah dipahami, lebih canggih, lebih mudah untuk memudahkan manusia, dan tentu saja lebih memesona. Namun, yang sangat mengejutkan, ternyata dalam waktu hanya sekitar 15 tahun terakhir ini cara berpikir manusia modern sudah bergeser dari ”inovasi” menjadi ”hiper-inovasi” atau tepatnya ”hiper-siklikal”. Artinya, inovasi tidak lagi sekadar dijalankan di atas ”produk tunggal” untuk menambah nilai kebaruan dari produk tersebut, tetapi inovasi dilakukan di atas ”banyak produk” (multiproduk) untuk dilipat jadi satu produk. Alhasil, ia bukan saja melahirkan nilai kebaruan pada produk lama, melainkan sekaligus melahirkan produk-produk baru atau benda-benda baru yang sebelumnya belum pernah ada. Cara berpikir seperti ini kemudian melahirkan panggung-panggung perlagaan di dunia industri untuk saling bunuh dan saling mengalahkan. Akhirnya, kita banyak menyaksikan perusahaan-perusahaan raksasa dunia terjungkal tanpa membuat kesalahan manajemen maupun produksi hanya karena munculnya benda-benda industri baru yang mengambil teritori pasarnya lantaran para pelanggannya dengan sukarela meninggalkan produk-produknya karena dianggap kuno alias tidak gaul lagi. Dalam payung berpikir seperti itu (hiper-inovatif), baik produsen maupun konsumen hidup dalam perlagaan-perlagaan yang sangat ketat, sibuk, dan cepat karena ”kegaulan” produk-produk teknologi saat ini jadi berusia amat pendek. Cara berpikir asembling Untuk melahirkan benda-benda baru serta jasa-jasa baru tersebut di atas dalam payung berpikir ”hiper-inovasi”, sesungguhnya kita telah mereduksi cara berpikir kita dari discovery ke innovation lalu ke asembling. Cara berpikir yang terakhir ini adalah cara berpikir yang menggunakan ilmu gathuk (Jawa). Meng-gathuk-kan orang yang punya sepeda motor atau mobil dengan orang yang memerlukan jasa transportasi melalui IT. Meng-gathuk-kan orang yang perutnya lapar dengan pemilik produk makanan dengan pemilik sepeda motor yang mau disuruh dengan upah melalui IT. Dengan ”ilmu gathuk”, saat ini banyak orang bisa mendapatkan rezeki tanpa harus bekerja di kantor atau di pasar, dan juga banyak orang malas tetapi punya duit yang dimudahkan. Saat ini, cara-cara berpikir dengan ”ilmu gathuk” telah tumbuh dengan pesat dan subur serta telah melahirkan karya-karya jasa ataupun produk benda-benda yang sangat nyata dan dibutuhkan oleh masyarakat. Ilmu semacam ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari PT. Cara berpikir seperti inilah barangkali salah satu yang dibaca dan ditangkap Google dan Ernst & Young untuk berani merekrut siapa pun tanpa ijazah apa pun untuk bekerja dengannya. Sistem pendidikan asembling Atas dasar kondisi seperti itulah barangkali Jim Clifton merasa gelisah dan khawatir akan masa depan eksistensi PT dalam perannya sebagai penyedia tenaga kerja industri. Keahlian ilmu gathuk seperti itu ternyata ”tak pernah” dan ”tak perlu” diajarkan PT. Ilmu seperti itu dapat dipelajari siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Kekhawatiran Jim Clifton barangkali ”sangat berguna” untuk mendefinisikan ulang peran pendidikan tinggi dalam perubahan-perubahan alam dan kehidupan manusia di masa depan. Paling tidak, ada dua arus utama pendidikan tinggi yang dapat ditawarkan kepada masyarakat. Pertama, pendidikan tinggi yang diselenggarakan atas dasar semangat discovery. Artinya, pendidikan tinggi semacam ini mengorientasikan kegiatannya untuk dapat meraih ”penemuan-penemuan” besar yang berguna bagi perubahan-perubahan kehidupan manusia di masa depan. Riset-risetnya dilakukan atas dasar ”kerja kolektif” untuk diarahkan pada ”penyelesaian masalah-masalah besar” dan ”penemuan-penemuan besar” sehingga PT semacam ini jumlahnya memang harus dibatasi, termasuk jumlah mahasiswanya juga dibatasi pada mereka yang memang memiliki kemampuan dasar luar biasa (melalui seleksi yang ketat). Untuk perguruan tinggi semacam ini, idealnya diselenggarakan atas basis subsidi, dalam arti mahasiswa tidak dipungut biaya alias gratis karena mereka kelak akan jadi pemandu perubahan kehidupan manusia. Setelah lulus mereka tidak dibiarkan mencari pekerjaannya sendiri, tetapi sudah dikaitkan dengan tugas-tugas besar yang harus dilakukan. Kedua, pendidikan tinggi yang diselenggarakan atas semangat berpikir asembling, atau pendidikan yang diselenggarakan untuk melembagakan cara berpikir ”perakit”, sehingga tugas utamanya melahirkan sebanyak-banyaknya tenaga ahli perakit yang sangat dibutuhkan oleh industri. Pendidikan seperti ini mungkin mirip pendidikan vokasi, tetapi bedanya terletak pada ”cara berpikir” yang luas, melintas disiplin, dan kompetensi yang dihasilkannya mampu melahirkan produk-produk baru, baik berupa barang maupun jasa. Mungkin pendidikan semacam ini tepat disebut ”pendidikan vokasi plus”. Taiwan, Korea, dan China tampaknya telah memberi perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan semacam ini. Dengan menyelenggarakan dua arus utama pendidikan tinggi semacam itu (discovery dan asembling), kekhawatiran atas kemungkinan bangkrutnya pendidikan tinggi tidak beralasan lagi. Selain eksistensi pendidikan tinggi tetap dapat dipertahankan, maka pendidikan tinggi dikembalikan lagi perannya sebagai pemandu atau penuntun peradaban manusia, bukannya sebagai pembebek (pengekor) apa saja yang telah dilakukan oleh dunia industri. Sudaryono, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Tantangan politis kita sebagai umat Kristen adalah bagaimana merealisasikan tanggung-jawab politis dunia kita dalam ketaatan kepada Kristus. Bagaimana kita memimpin diri kita secara politis dengan prinsip-prinsip Kristen dalam kehidupan sosial kita?

Jadi, kita harus menganggap bahwa masalah-masalah dan tantangan-tantangan kemanusiaan adalah problem-problem dan tantangan bagi gereja juga. Sehingga kita tidak mengatakan masalah ekonomi, politik, sains, teknologi dan media massa merupakan masalah “duniawi” yang terpisah sama sekali dari Kekristenan, yang bukan merupakan bagian dari struktur dan fungsi dari iman Kristen. Sedangkan kehidupan Kristen hanya berurusan dengan masalah kesalehan pribadi, keselamatan jiwa, kegiatan gereja, doa keluarga dan pelajaran Alkitab.

Karena itu, sudah waktunya kita terlibat secara aktif dan kreatif dalam dunia politik dan dalam kehidupan publik. Karena Politik yang menentukan arah dan dinamika bangsa kita, yang dengan sendirinya akan mempengaruhi eksistensi kita. Dalam pemilu 2014 ini, semua potensi politik umat Kristen harus digerakkan dan disinergikan, karena suara kita sebenarnya bisa menjadi King Maker dalam konstelasi politik nasional. Karena itu, Gereja-gereja dan pendeta-pendeta harus menggerakkan jemaatnya menggunakan hak pilih dan hak politiknya secara bijaksana, cerdas dan tepat. Umat Kristen jangan pasif dan golput! Iman kita harus berkaitan dengan pertimbangan etis dan politis. Kita harus mengintegrasikan dan menyelaraskan iman Kristen dengan pandangan-pandangan politik. Kita harus berperan dalam membangun demokrasi pluralistis. Politik bagi kita adalah politik garam. Politik sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan professional dan personal kita. Politik Kristen harus bertolak dan bertumbuh dari kebenaran iman Kristen.”harap mantan Bendahara Umum PGI ini.

“Umat Kristen harus bisa membawa transformasi kehidupan; hidup yang semakin harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam. Kita sangat prihatin karena banyak umat Kristen yang penghayatan imannya dangkal, kurang memahami imannya sendiri dan iman orang lain. Iman kita harus membumi. Membumi berarti harus diaktualisasikan di dalam kehidupan nyata dan dihayati. Sehingga membuat kita menjadi pribadi yang otentik, yang mampu berinteraksi dan berkorelasi dengan seluruh ciptaan dengan mendasarkan seluruh pelayanan pada azas cinta kasih. Iman harus dipraktekkan secara bertanggung-jawab di dunia kita yang sedang mengalami globalisasi. Iman harus berkontribusi bagi humanisasi dari proses-proses globalisasi. Sehingga bisa menuntun kita pada rekonsiliasi dan hidup berdampingan secara damai. Kita harus mempromosikan peran positif iman Kristen dalam realitas global di abad XXI, dan mendemonstrasikan hasil positif iman kita, dengan bekerja sama. Akan tetapi, Kita harus berhati-hati menggunakan bahasa iman dalam diskursus publik.

Baca juga  Ketika Pancasila Dipakai untuk Menghancurkan Pancasila*

Salah satu cara utama untuk mencapai hasil ini adalah melalui pendidikan. Peran besar agama adalah untuk kebaikan masyarakat dalam ekonomi global. Nilai-nilai agama harus menyatukan, bukan memecahbelah kita. Iman harus bisa berfungsi sebagai agen perdamaian, kemajuan dan kesejahteraan untuk semua bangsa di dunia ini.

Kita harus sadar bahwa setelah kebangkrutan komunisme internasional, maka ke depan akan ada tiga idiologi visioner yang akan mempengaruhi dan mentransformasi umat manusia secara global. Pertama, Sekularisme Barat yang berjiwa humanisme anti-agama. Kedua, Kelompok Khilafah yang ingin menerapakan Hukum Syariah bagi dunia. Dan yang ketiga, Kekristenan, yang ingin mengtransformasi dunia dengan nilai-nilai Injil dan kuasa Allah.”papar Pdt. Suyapto ketika mengakhiri pembicaraan dengan Tritunggal. (Hotben Lingga)