Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Ketika Mata Menjadi Jendela Kesehatan: EyRIS dan Terobosan Skrining Retina Berbasis AI untuk Deteksi Dini Diabetes, Ginjal, dan Jantung

×

Ketika Mata Menjadi Jendela Kesehatan: EyRIS dan Terobosan Skrining Retina Berbasis AI untuk Deteksi Dini Diabetes, Ginjal, dan Jantung

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Mata Menjadi Jendela Kesehatan: EyRIS dan Terobosan Skrining Retina Berbasis AI untuk Deteksi Dini Diabetes, Ginjal, dan Jantung

Di balik kejernihan retina tersimpan cerita tentang kesehatan tubuh secara menyeluruh. Melalui kecerdasan artifisial, EyRIS hadir sebagai terobosan yang memungkinkan deteksi dini penyakit sistemik hanya melalui pemindaian retina dalam hitungan detik, membuka babak baru dalam lanskap skrining kesehatan Indonesia.

Example 300x600

 

JAKARTA, Gramediapost.com

 

Dalam dunia kedokteran, terdapat sebuah pepatah lama yang kembali menemukan relevansinya: mata adalah jendela jiwa. Namun bagi para klinisi dan peneliti di bidang kesehatan digital, mata kini memiliki makna yang jauh lebih substantif—ia adalah jendela bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Melalui pembuluh darah mikro di retina, para ahli dapat membaca jejak-jejak penyakit yang selama ini bersembunyi diam-diam: diabetes, gangguan ginjal, hingga risiko penyakit jantung.

Adalah Aznaib I Gindo, Direktur PT. Nova Prima Utama, yang melihat peluang besar di balik fenomena fisiologis tersebut. Melalui inovasi terbaru perusahaan—EyRIS, sebuah solusi skrining retina berbasis kecerdasan artifisial—ia membawa visi yang selama ini terdengar seperti fiksi ilmiah ke dalam realitas pelayanan kesehatan Indonesia.

“Retina memberikan gambaran langsung dan non-invasif dari pembuluh darah kecil,” ujarnya dalam wawancara eksklusif. “AI EyRIS menganalisis foto retina untuk melihat perubahan seperti pendarahan, penyempitan pembuluh darah, dan pola pembuluh darah abnormal yang dapat mengindikasikan penyakit mata atau risiko kesehatan sistemik.”

Pernyataan tersebut bukanlah klaim tanpa dasar. Di baliknya terdapat landasan ilmiah yang kokoh, yang telah melalui proses validasi klinis ketat dan dipublikasikan di jurnal-jurnal bergengsi dunia.

—

Landasan Ilmiah yang Kokoh: Ketika Data Berbicara

Dalam dunia kedokteran berbasis bukti, klaim tanpa validasi adalah kemewahan yang tak dapat ditoleransi—terutama ketika menyangkut nyawa manusia. Menyadari hal ini, ia menekankan pentingnya transparansi ilmiah di balik teknologi EyRIS.

“Penelitian dasar kami, yang dipublikasikan di JAMA pada tahun 2017, mengevaluasi 71.896 gambar dari 14.880 pasien dalam dataset validasi utama,” jelasnya.

Angka-angka tersebut bukanlah statistik biasa. Mereka merepresentasikan ribuan jam kerja klinis, jutaan data titik yang dianalisis, dan—yang terpenting—harapan bagi jutaan pasien yang selama ini terlambat terdiagnosis.

Dibandingkan dengan penilaian dokter spesialis, sistem yang dikembangkan oleh EyRIS—dikenal sebagai SELENA+—mencapai performa yang mengesankan:

· Referable DR (retinopati diabetik yang memerlukan rujukan): sensitivitas 90,5% dan spesifisitas 91,6%.
· Vision-threatening DR (retinopati diabetik yang mengancam penglihatan): sensitivitas 99% dan spesifisitas 91,1%.

“Secara terpisah, penelitian dalam The Lancet Digital Health melaporkan nilai AUC sebesar 0,911 untuk model penyakit ginjal kronis berbasis gambar saja pada dataset validasi SEED,” tambahnya.

Namun, ia dengan rendah hati mengingatkan bahwa angka tersebut harus dipahami dalam konteks yang tepat. “Nilai ini mengukur kemampuan model untuk membedakan antara orang yang memiliki penyakit dan yang tidak; nilai ini tidak berarti akurasi 91,1% atau secara otomatis berlaku untuk setiap produk EyRIS. Model risiko sistemik memerlukan validasinya masing-masing.”

Pernyataan tersebut mencerminkan integritas ilmiah yang jarang ditemui di tengah derasnya klaim teknologi kesehatan. Kejujuran ilmiah adalah fondasi dari kepercayaan publik.

“Skrining retina membantu mengidentifikasi individu yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Teknologi ini tidak menggantikan tes darah untuk diabetes dan penyakit ginjal atau pemeriksaan jantung yang sesuai,” tegasnya.

—

Menjangkau yang Terjangkau: Mimpi Skrining Massal di Daerah 3T

Jika terdapat satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit kritis di Indonesia, maka jawabannya adalah keterlambatan diagnosis. Pasien sering kali datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit telah mencapai stadium lanjut—ketika pilihan pengobatan semakin terbatas dan biaya semakin membengkak. Ironisnya, keterlambatan ini kerap terjadi bukan karena kelalaian, melainkan karena ketiadaan akses.

Di sinilah EyRIS menawarkan harapan yang substantif. Dengan kemampuannya beroperasi tanpa memerlukan kehadiran dokter spesialis mata di lokasi, teknologi ini berpotensi menjadi katalis bagi skrining massal—terutama di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

“Hadirnya skrining AI retina ke Puskesmas, toko optik, dan klinik perusahaan dapat memperluas deteksi dini, terutama di daerah 3T yang masih kekurangan layanan kesehatan,” ujarnya. “Staf terlatih dapat mengambil gambar tanpa perlu kehadiran dokter spesialis mata di lokasi, dan pasien akan dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.”

Namun, di balik optimisme tersebut, ia tidak menutup mata terhadap realitas tantangan yang ada. Dengan gaya khas seorang pemimpin yang berpijak pada bumi, ia menguraikan tiga hambatan utama:

Pertama, biaya kamera. “Ketersediaan kamera fundus berkualitas baik dengan harga terjangkau sangatlah penting,” ujarnya. Tanpa perangkat yang memadai, teknologi tercanggih pun akan menjadi menara gading yang tak tersentuh.

Kedua, infrastruktur. “Penempatan berbasis cloud memerlukan koneksi internet yang andal; sedangkan lisensi on-premise dapat mendukung lokasi dengan konektivitas terbatas.” Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa EyRIS dirancang dengan kesadaran akan keragaman kondisi geografis Indonesia.

Ketiga, mekanisme pendanaan dan rujukan. “Adopsi melalui BPJS atau program pemeriksaan kesehatan gratis memerlukan mekanisme pendanaan yang disepakati, bukti efektivitas biaya, serta akses ke layanan penanganan lanjutan.”

Di sinilah letak kebijaksanaan strategisnya. Ia memahami bahwa teknologi, betapapun canggihnya, tidak akan berarti tanpa ekosistem yang mendukung—tanpa jaminan bahwa pasien yang terdeteksi akan mendapatkan penanganan yang layak.

“Nilai utamanya berasal dari kemampuan menghubungkan skrining dengan penanganan tepat waktu serta membuktikan hasil kesehatan yang lebih baik dengan biaya yang berkelanjutan,” pungkasnya.

—

Etika, Privasi, dan Martabat Pasien: Ketika Teknologi Menghormati Manusia

Dalam era ketika data pribadi menjadi komoditas yang semakin berharga, kekhawatiran terhadap privasi adalah hal yang wajar—bahkan mulia. Pemindaian retina, yang merupakan data biometrik sensitif, menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah teknologi ini menghormati martabat pasien, atau justru menjadi ancaman bagi privasi mereka?

Ia menjawab pertanyaan tersebut dengan ketenangan seorang pemimpin yang telah memikirkan implikasi etis dari inovasinya.

“Pemindaian EyRIS pada retina bertujuan untuk menganalisis pembuluh darah guna melihat risiko kesehatan sistemik, bukan untuk identifikasi biometrik,” jelasnya. “Berbeda dengan pengenalan iris atau wajah, teknologi EyRIS tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi identitas seseorang.”

Pernyataan tersebut bukanlah sekadar klaim pemasaran. Ia didukung oleh komitmen nyata terhadap perlindungan data.

“Semua informasi pasien yang diproses selama analisis retina kami disamarkan sepenuhnya (anonymised) dan mematuhi regulasi perlindungan data pribadi (PDPA/UU PDP) setempat,” tegasnya.

Namun, privasi hanyalah satu sisi dari koin etika. Sisi lainnya adalah kekhawatiran terhadap overdiagnosis—fenomena ketika diagnosis berlebihan menimbulkan kepanikan yang tidak perlu dan beban psikologis bagi pasien. Menyadari hal ini, EyRIS dirancang dengan pendekatan komunikasi yang hati-hati.

“Laporan secara eksplisit menjelaskan bahwa temuan skrining bukanlah diagnosis definitif dan memberikan panduan yang jelas mengenai pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan, sehingga membantu mengurangi kecemasan yang tidak perlu,” ujarnya.

Yang tak kalah penting, ia menegaskan bahwa AI EyRIS tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan dokter.

“AI berfungsi membantu triase dan rujukan, sementara dokter tetap mendiagnosis dan menginterpretasikan hasil temuan bersamaan dengan riwayat kesehatan pasien serta tes klinis lainnya.”

Filosofi ini—bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti—mencerminkan penghormatan mendalam terhadap seni kedokteran yang selama ini dibangun di atas relasi manusiawi antara dokter dan pasien.

—

Masa Depan yang Terbuka: Setelah Diabetes, Ginjal, dan Jantung

Ketika ditanya tentang masa depan EyRIS, matanya tampak berbinar—bukan karena ambisi komersial, melainkan karena visi tentang kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah.

“Area penelitian masa depan mencakup penyakit ginjal diabetik (diabetic kidney disease), risiko stroke, dan kondisi neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer,” ungkapnya.

Namun, sekali lagi, ia menekankan pentingnya kehati-hatian ilmiah.

“Setiap aplikasi baru memerlukan validasi klinis terpisah dan persetujuan regulasi yang berlaku sebelum dapat digunakan secara rutin.”

Pernyataan tersebut menggarisbawahi sebuah prinsip yang jarang ditemui di industri teknologi kesehatan: bahwa inovasi sejati bukanlah tentang menjadi yang tercepat ke pasar, melainkan tentang memastikan bahwa setiap langkah didasari oleh bukti dan tanggung jawab.

—

Refleksi: Ketika Teknologi Menjadi Jembatan Harapan

Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital yang kerap kali kehilangan jiwanya, kisah EyRIS menghadirkan sebuah perspektif yang menyegarkan. Teknologi, pada akhirnya, bukanlah tentang algoritma atau data—ia adalah tentang manusia. Tentang seorang pasien di pelosok yang mungkin kini memiliki kesempatan untuk mengetahui risikonya lebih awal. Tentang seorang dokter yang dapat mengambil keputusan lebih tepat berkat dukungan analitik. Tentang sebuah bangsa yang dapat menekan beban penyakit kritis melalui deteksi dini yang lebih merata.

Aznaib I Gindo, melalui PT. Nova Prima Utama, telah menunjukkan bahwa inovasi sejati selalu berpijak pada dua hal: keunggulan ilmiah dan kepekaan sosial. EyRIS bukan sekadar produk—ia adalah jembatan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan nyata masyarakat Indonesia.

Ketika retina—bagian terkecil dari tubuh manusia—dapat menyingkap cerita tentang kesehatan secara menyeluruh, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan babak baru dalam sejarah kedokteran Indonesia. Sebuah babak di mana mata tidak lagi sekadar jendela jiwa, tetapi juga jendela harapan.

—

Tentang Aznaib I Gindo

Aznaib I Gindo adalah Direktur PT. Nova Prima Utama, perusahaan penyedia solusi sistem informasi rumah sakit berpengalaman lebih dari satu dekade. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan terus mendorong transformasi digital kesehatan Indonesia—fokus pada implementasi EMR, integrasi sistem, inovasi AI kesehatan seperti EyRIS, dan optimalisasi proses bisnis rumah sakit. Dengan visi yang berpijak pada keunggulan ilmiah dan kepekaan sosial, ia berkomitmen menghadirkan teknologi yang bukan hanya canggih, tetapi juga bermakna.

Tentang PT. Nova Prima Utama

PT. Nova Prima Utama adalah penyedia solusi sistem informasi rumah sakit berpengalaman lebih dari satu dekade. Fokusnya meliputi implementasi EMR, integrasi sistem, pengembangan inovasi AI kesehatan seperti EyRIS untuk skrining retina berbasis kecerdasan artifisial, dan optimalisasi proses bisnis rumah sakit. Dengan komitmen pada inovasi, validasi klinis, dan kualitas layanan, perusahaan terus mendorong transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia—menghadirkan teknologi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga etis dan berkelanjutan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai EyRIS, silakan kunjungi https://eyris.io/contactus.cfm atau website resmi kami di www.nova-hub.com.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *