Tetelestai: Ketika Salib Menjadi Simbol Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia
Oleh: Johanes Libudony, S.S. Litbang MA
Golgota menjadi saksi salah satu peristiwa paling mengguncangkan dalam sejarah umat manusia. Di sebuah bukit di luar Yerusalem, seorang bernama Yesus dari Nazaret disalibkan di tengah penghinaan, penderitaan, dan penolakan. Namun, di balik tragedi yang tampak seperti kekalahan itu, tersimpan sebuah pesan teologis yang diyakini umat Kristen sebagai puncak karya penyelamatan Allah.
Banyak orang melihat penderitaan Yesus terutama dari sisi fisik: cambukan yang merobek tubuh-Nya, mahkota duri yang menusuk kepala-Nya, paku yang menembus tangan dan kaki-Nya, serta ejekan orang-orang yang menyaksikan penyaliban itu.
Namun, kisah Injil mencatat sebuah peristiwa yang jauh lebih dalam maknanya. Pada saat Yesus berada di kayu salib, kegelapan meliputi seluruh wilayah itu selama tiga jam, sejak tengah hari hingga pukul tiga sore (Matius 27:45).
Bagi iman Kristen, kegelapan tersebut bukan sekadar perubahan suasana alam. Ia dipahami sebagai gambaran simbolis tentang beratnya beban dosa manusia yang sedang ditanggung oleh Kristus. Di atas kayu salib, Yesus tidak hanya menghadapi penderitaan tubuh, tetapi juga memasuki pengalaman penderitaan rohani yang menjadi inti dari misi-Nya.
Cawan Penderitaan dan Misteri Salib
Dalam keyakinan Kristen, hubungan antara Allah Bapa dan Allah Anak adalah hubungan kasih yang sempurna dalam Tritunggal Mahakudus. Namun, di kayu salib, Yesus mengambil posisi sebagai penanggung dosa umat manusia.
Rasul Paulus menulis dalam 2 Korintus 5:21 bahwa Kristus “telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”
Seruan Yesus,
“Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
sebagaimana dicatat dalam Injil, menjadi salah satu perkataan paling mendalam dalam sejarah iman Kristen. Seruan itu menggambarkan penderitaan yang luar biasa saat Sang Juruselamat memikul beban dosa dunia.
Salib menjadi tempat bertemunya keadilan dan kasih Allah. Hukuman yang seharusnya diterima manusia ditanggung oleh Kristus sebagai bentuk pengorbanan untuk membawa pemulihan hubungan antara manusia dan Pencipta.
“Tetelestai”: Sebuah Deklarasi, Bukan Kekalahan
Ketika Yesus akhirnya mengucapkan,
“Tetelestai” — “Sudah selesai” (Yohanes 19:30),
perkataan itu bukanlah suara seseorang yang menyerah kepada keadaan. Dalam pemahaman iman Kristen, itu adalah deklarasi bahwa tugas penyelamatan telah digenapi.
Istilah tetelestai dalam bahasa Yunani mengandung makna sesuatu yang telah diselesaikan hingga mencapai tujuan akhirnya. Kata tersebut menggambarkan sebuah pekerjaan yang telah tuntas dan sempurna.
Bagi umat Kristen, perkataan itu menjadi tanda bahwa karya penebusan telah selesai. Salib bukan akhir dari harapan, melainkan awal dari kemenangan.
Dampak Salib bagi Kehidupan Manusiabb
.
Peristiwa salib membawa makna besar bagi jutaan orang yang percaya kepada Kristus. Ketika Yesus menyerahkan diri-Nya, penghalang antara manusia dan Allah digambarkan runtuh.
Injil mencatat bahwa tabir Bait Suci terbelah menjadi dua dari atas sampai ke bawah ketika Yesus wafat (Matius 27:51). Peristiwa itu dipahami sebagai simbol terbukanya jalan bagi manusia untuk datang kepada Allah.
Salib akhirnya bukan hanya tentang penderitaan seorang manusia yang dihukum mati. Bagi iman Kristen, salib adalah kisah tentang kasih yang rela berkorban, pengampunan yang diberikan, dan kemenangan rohani yang mengubah sejarah umat manusia.
Dua ribu tahun kemudian, seruan “Tetelestai Sudah selesai” tetap dikenang sebagai salah satu pesan paling kuat tentang pengharapan, penebusan, dan kasih Allah kepada manusia.

















