Ketika Kebajikan dan Kemurahan Tuhan Memburu Kita
Oleh: Johanes Libu Doni
Penerjemah Ahli Muda Pustrajak Kumdil Mahkamah Agung
Ada satu kata dalam Mazmur 23:6 yang sekilas terdengar biasa, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih kuat“mengikuti.”
Ayat yang sangat akrab bagi umat Kristen itu berbunyi, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”
Namun dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan sebagai “mengikuti” berasal dari radaph Kata ini tidak sekadar menggambarkan seseorang yang berjalan di belakang. Radaph berarti mengejar, memburu, bahkan mengejar dengan kegigihan yang kuat.
Perubahan satu kata ini membuat gambaran tentang kasih Allah dalam Mazmur 23 menjadi jauh lebih dinamis. Kebaikan dan kasih setia Tuhan bukan sekadar sesuatu yang kebetulan berada di belakang manusia. Keduanya digambarkan seperti kekuatan yang terus mengejar sepanjang hidup.
Bukan sekadar mengikuti
Dalam penggunaan bahasa Ibrani di Perjanjian Lama, radaph kerap muncul dalam konteks pengejaran yang intens. Kata ini digunakan untuk menggambarkan musuh yang mengejar lawannya atau seseorang yang memburu buruannya.
Menariknya, kata yang sama digunakan Daud dalam Mazmur 23 untuk menggambarkan kebajikan dan kemurahan Allah.
Gambaran ini tentu berbeda dengan pemahaman umum tentang kata “mengikuti”. Dalam percakapan sehari-hari, mengikuti bisa berarti sekadar berjalan di belakang, tanpa dorongan untuk mengejar atau memastikan sesuatu tidak terlepas.
Radaph menghadirkan gambaran yang berbeda: ada gerak, inisiatif, dan ketekunan.
Dengan perspektif itu, Mazmur 23:6 seolah mengatakan bahwa manusia bukan hanya berjalan ditemani kebaikan Tuhan. Manusia justru terus diburu oleh kebaikan dan kasih setia-Nya.
Daud tahu rasanya dikejar
Pemilihan kata tersebut menjadi semakin menarik jika melihat kehidupan Daud.
Ia pernah menjadi orang yang diburu. Raja Saul mengejarnya hingga Daud harus hidup berpindah-pindah dan bersembunyi di padang gurun. Di sisi lain, Daud juga seorang panglima yang berkali-kali memimpin pasukan mengejar musuh.
Karena itu, bagi Daud, pengejaran bukan sekadar metafora.
Ia tahu bagaimana rasanya hidup dengan ancaman di belakang. Ia tahu bagaimana seseorang bisa terus bergerak karena ada sesuatu yang mengejarnya.
Tetapi ketika melihat kembali perjalanan hidupnya, Daud menemukan sebuah ironi: ternyata sepanjang hidupnya ada sesuatu yang lain yang juga mengejarnya. Bukan hanya musuh, bukan hanya bahaya, melainkan kebajikan dan kemurahan Tuhan.
Daud pernah jatuh, menghadapi konflik, kehilangan, pemberontakan, bahkan krisis dalam keluarganya. Namun dalam seluruh kekacauan itu, ia melihat satu benang merah: kasih setia Tuhan tidak pernah kehilangan jejaknya.
Dua kata yang menentukan
Mazmur 23:6 menyebut dua hal yang mengikuti atau mengejar Daud: kebajikan dan kemurahan.
Dalam bahasa Ibrani, keduanya memiliki makna teologis yang dalam.
Kata tov merujuk pada kebaikan—sesuatu yang baik, indah, dan membawa kesejahteraan yang berasal dari Allah.
Sementara hesed merujuk pada kasih setia. Bukan sekadar perasaan iba, melainkan kasih yang berakar pada kesetiaan dan komitmen Allah terhadap umat-Nya.
Ketika keduanya ditempatkan sebagai subjek dari kata radaph, gambaran yang muncul menjadi sangat kuat: Allah bukan pribadi yang pasif menunggu manusia datang kepada-Nya. Kebaikan dan kasih setia-Nya aktif menjangkau manusia.
Dengan kata lain, ketika manusia merasa sedang kehilangan arah, kasih Allah tidak berhenti bekerja.
Allah yang mencari manusia
Tema tentang Allah yang mengejar manusia juga bukan sesuatu yang berdiri sendiri dalam Alkitab.
Dalam kisah Kejadian, ketika manusia bersembunyi setelah jatuh ke dalam dosa, Allah datang dan bertanya, “Di manakah engkau?”
Pertanyaan itu bukan sekadar soal lokasi. Di dalamnya terdapat gambaran tentang Allah yang mencari manusia yang telah menjauh.
Gambaran serupa muncul dalam perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Lukas 15. Sang gembala tidak tinggal diam menunggu domba itu pulang sendiri. Ia pergi mencarinya sampai ditemukan.
Dalam kerangka ini, Mazmur 23:6 dapat dibaca sebagai bagian dari narasi besar Alkitab tentang Allah yang aktif mencari, memelihara, dan membawa manusia kembali kepada-Nya.
Saat manusia merasa sedang dikejar masalah
Pesan ini terasa relevan di tengah kehidupan modern.
Banyak orang merasa hidupnya seperti dikejar sesuatu: target pekerjaan, tagihan, tuntutan keluarga, ketidakpastian masa depan, bahkan bayang-bayang masa lalu.
Di tengah situasi seperti itu, Mazmur 23 menawarkan cara pandang yang berbeda.
Ada sesuatu yang juga mengejar manusia: kebajikan dan kemurahan Tuhan.
Ini bukan berarti penderitaan otomatis hilang. Mazmur 23 sendiri justru berbicara tentang lembah kekelaman. Namun di tengah lembah itu, Daud tidak melihat dirinya sendirian.
Ia percaya bahwa kasih setia Tuhan tetap bergerak bersamanya.
Bahkan ketika seseorang merasa telah terlalu jauh dari Tuhan karena kegagalan atau dosa, gagasan tentang radaph memberikan harapan: kasih karunia Tuhan tidak mudah kehilangan jejak.
Bukan kita yang harus terus mengejar
Pemahaman ini juga membalik cara manusia memandang relasinya dengan Tuhan.
Sering kali orang merasa harus bekerja keras agar layak mendapatkan kasih Allah. Mereka mengejar Tuhan melalui berbagai usaha, ritual, dan prestasi spiritual.
Mazmur 23:6 menawarkan perspektif yang berbeda.
Bukan manusia yang harus terus berlari mengejar Tuhan. Justru Tuhanlah yang digambarkan terus mengejar manusia dengan kebajikan dan kasih setia-Nya.
Karena itu, respons manusia bukanlah bersembunyi dalam rasa bersalah. Bukan pula berlari karena ketakutan.
Responsnya adalah membiarkan diri ditemukan.
Ujung pengejaran itu adalah rumah
Mazmur 23:6 tidak berhenti pada kata “mengikuti”.
Daud melanjutkannya dengan keyakinan: ia akan diam di rumah Tuhan sepanjang masa.
Di situlah arah pengejaran tersebut menjadi jelas.
Kebajikan dan kemurahan Tuhan bukan mengejar manusia untuk menghukum. Pengejaran itu berujung pada rumah, tempat manusia menemukan perlindungan, kedamaian, dan persekutuan dengan Tuhan.
Setelah berlari melewati berbagai musim kehidupan, manusia pada akhirnya tidak ditinggalkan sendirian di jalan.
Ada rumah yang dituju.
Ada Gembala yang menyertai.
Dan ada kasih setia yang tidak berhenti mengejar.
Mazmur 23:6, dengan demikian, bukan hanya tentang apa yang mengikuti manusia. Ayat itu berbicara tentang sebuah keyakinan yang jauh lebih dalam: sepanjang hidup, manusia tidak pernah benar-benar lepas dari jangkauan kebaikan dan kasih setia Tuhan.
Di tengah dunia yang membuat banyak orang merasa terus dikejar oleh masalah, pesan ini menawarkan sebuah paradoks yang menenangkan kita memang sedang dikejartetapi oleh kebajikan dan kemurahan..



















