Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Sumpah Pemuda Jangan Hanya Jadi Ritual Tahunan

×

Sumpah Pemuda Jangan Hanya Jadi Ritual Tahunan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sumpah Pemuda Jangan Hanya Jadi Ritual Tahunan

 

Example 300x600

 

*GramediaPost.com | Jakarta, Rabu (28/10/2026)*

 

– Guru Besar Ilmu Hukum Program Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Jayabaya, Prof. Abdul Latif, mengingatkan peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak boleh dimaknai sekadar sebagai ritual historis tahunan yang berhenti pada pembacaan teks ikrar dan upacara seremonial.

Di tengah disrupsi digital, pergeseran teori kontrak sosial, dan kompleksitas tata kelola pemerintahan, nilai-nilai Sumpah Pemuda harus ditransformasikan menjadi landasan etis, orientasi strategis, dan aksi kolektif yang nyata untuk kesejahteraan dan perlindungan hukum rakyat.

Menurut Abdul Latif, negara dalam konsep welfare state tidak cukup hanya menjaga ketertiban sosial, melainkan harus berperan aktif mewujudkan kesejahteraan. Karena itu, ia menawarkan kerangka refleksi untuk mengaktualisasikan semangat Sumpah Pemuda hari ini.

*1. Transformasi nasionalisme dari emotional patriotism menuju civic competence*
Semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, kata dia, harus melampaui sentimen emosional.

“Generasi muda harus dibekali kesadaran hukum dan etika digital yang tinggi, mengingat ruang publik hari ini banyak berpindah ke ranah virtual,” ujar Abdul Latif.

Nasionalisme di era modern diwujudkan melalui tanggung jawab bermedia, memerangi disinformasi, menjaga integritas ruang siber, serta menjadi aktor intelektual yang kritis namun konstruktif terhadap kebijakan publik dan penegakan hukum, bukan sekadar objek mobilisasi politik.

*2. Penguatan integrasi nasional di tengah fragmentasi*
Rasa kebangsaan hanya akan kokoh jika seluruh warga, terutama di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), merasakan kehadiran negara dan keadilan sosial. Pemerataan hasil pembangunan, baik di Ibu Kota Nusantara (IKN), kawasan transmigrasi, maupun kawasan ekonomi khusus, menjadi kunci.

*3. Kontribusi nyata generasi muda dalam pembangunan berkelanjutan*
Jika dahulu ikrar menjunjung bahasa persatuan adalah alat pemersatu perjuangan, hari ini bahasa persatuan tersebut harus diterjemahkan menjadi bahasa kerja, produktivitas, dan inovasi. Pemuda harus mengambil peran sentral dalam riset, inovasi teknologi, transisi energi hijau, dan transformasi digital pemerintahan melalui SPBE, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar tetapi juga produsen teknologi.

*4. Reformasi moral dan integritas penyelenggaraan negara*
Sumpah Pemuda dicetuskan oleh para pemuda visioner yang memiliki integritas tinggi. Momentum ini harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa, khususnya para pemimpin muda untuk membangun budaya antikorupsi sejak dini dan menegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu.

> “Refleksi utama Sumpah Pemuda hari ini adalah bagaimana kita menerjemahkan persatuan ke dalam kerja kolaboratif yang terukur, mencerdaskan kehidupan bangsa, menegakkan keadilan, serta membawa Indonesia hadir secara bermartabat di kancah global,” kata Prof. Latif.

> “Pemuda hari ini bukan lagi sekadar pewaris sejarah, melainkan arsitek masa depan. Jika Sumpah Pemuda 1928 adalah janji untuk bersatu merebut kemerdekaan, maka Sumpah Pemuda hari ini adalah janji untuk berkolaborasi mewujudkan kesejahteraan.”

*Pemuda Agen Perubahan*

Prof. Latif menegaskan, di setiap perubahan besar sejarah Indonesia dari Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi 1998, selalu pemuda yang ada di depan.

“Masa depan itu tidak datang sendiri. Dia diciptakan hari ini. Apa yang pemuda lakukan hari ini akan menentukan wajah Indonesia 10-20 tahun ke depan,” ujarnya.

Ia menyebutnya sebagai _civic competence_. Pemuda tidak cukup hanya cinta Indonesia secara emosional, tapi harus kompeten menguasai teknologi, sadar hukum, dan punya etika digital.

“Maju mundurnya bangsa ditentukan oleh pemuda. Kalau pemuda hanya jadi konsumen teknologi luar negeri, bukan produsen, bangsa akan mundur. Tapi kalau pemuda hari ini mau riset, bangun UMKM, jaga integrasi di tengah polarisasi, bangsa pasti akan maju,” pungkasnya.
(Berlian)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *