Usung Konsep Experience dan Kopi Lokal, Titik Temu Coffee Ramaikan Indonesia Sports Summit 2026
4. Ramaikan Indonesia Sports Summit 2026, Titik Temu Coffee Kenalkan Produk Bestseller dan Perluas Jangkauan Pasar
JAKARTA, 12 September 2026 — Gelaran Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 yang berlangsung pada 11–13 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), GBK, Jakarta, tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya insan olahraga, tetapi juga para pelaku industri kreatif dan lifestyle. Mengusung tema “Beyond The Game 2.0: From Nation Building To Global Industry”, acara ini dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir.
Salah satu pelaku usaha yang turut menyemarakkan acara ini adalah jaringan kedai kopi ternama, Titik Temu Coffee (.TEMU). Kehadiran Titik Temu di ISS 2026 bertujuan untuk memperkuat brand awareness serta menjangkau audiens dan potensi pasar yang lebih luas.
Dipertemukan pada hari pertama kegiatan, Jumat (11/9/2026), Co-Founder sekaligus Owner Titik Temu Coffee, Nanda Oka, bersama Head Roaster & Quality Control .TEMU Roastery, Angeline Lauwrence, memamerkan sejumlah menu andalan mereka kepada para pengunjung.
”Untuk varian minuman bestseller, kami mengandalkan Mont Blanc dan Butterscotch Latte. Sementara untuk lini produk makanan pendamping, kami mengenalkan produk baru seperti Salt Bread Garlic dan Garlic Cheese Salad yang juga menjadi favorit,” ujar Nanda Oka.
Mengedepankan Experience dan Penggunaan Kopi Lokal
Sejak didirikan pada 2016 di Seminyak, Bali, Titik Temu dibangun oleh para pendiri dari beragam latar belakang—mulai dari arsitektur, food & beverage (F&B), hingga branding. Kolaborasi ini melahirkan karakter khas pada setiap gerai Titik Temu.
”Keunggulan utama kami terletak pada experience yang ditawarkan. Setiap gerai Titik Temu dirancang dengan arsitektur dan suasana unik yang berbeda satu sama lain, sehingga pelanggan tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga mendapatkan pengalaman ruang yang berkesan,” jelas Nanda.
Selain fokus pada pengalaman pelanggan, Titik Temu berkomitmen mendukung perkembangan industri kopi dalam negeri dengan memprioritaskan penggunaan biji kopi lokal. Meski tetap menyediakan beberapa jenis kopi impor, porsi biji kopi lokal tetap menjadi sajian utama di seluruh gerainya.
Satu Dekade Perjalanan dan Ekspansi Bisnis
Memasuki usia ke-10 tahun ini, Titik Temu telah berkembang pesat dari gerai pertamanya di Bali. Saat ini, Titik Temu telah mengoperasikan 14 gerai yang tersebar di Jakarta, Bali, Medan, dan Batam. Gerai ke-14 yang berlokasi di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, resmi dibuka bertepatan dengan momentum penyelenggaraan Indonesia Sports Summit 2026.
Pertumbuhan jaringan bisnis ini juga berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja, di mana saat ini Titik Temu mempekerjakan sekitar 300 karyawan, baik staf penuh waktu maupun paruh waktu.
Berada di segmen pasar premium dengan kisaran harga kopi Rp40.000–Rp50.000, Titik Temu juga sudah dapat dipesan melalui platform daring. Meski demikian, Nanda menegaskan bahwa daya tarik utama Titik Temu tetap ada pada pengalaman berkunjung langsung ke gerai.
Tantangan Industri dan Harapan Support Pemerintah
Dari sisi kualitas produk, Head Roaster & QC .TEMU Roastery, Angeline Lauwrence, menambahkan bahwa pengembangan rasa dan kontrol kualitas konsisten dilakukan dari hulu ke hilir untuk menjaga standar mutu sajian Titik Temu.
Menutup keterangannya, Nanda berharap pemerintah dapat memberikan dukungan fasilitas dan sumber daya yang lebih memadai bagi ekosistem kopi nasional, khususnya di sektor hulu/pertanian.
”Fluktuasi harga bahan baku kopi menjadi salah satu tantangan terbesar saat ini. Jika ada dukungan fasilitas dan resources dari pemerintah untuk petani, stabilitas harga dapat lebih terjaga sehingga industri kopi Indonesia dapat tumbuh lebih berkelanjutan,” tutup Nanda.
Tentang Titik Temu Coffee (.TEMU):
Titik Temu Coffee adalah jaringan kedai kopi independen asal Indonesia yang berdiri sejak tahun
Jakarta, Gramediapost.com
Indonesia Sports Summit 2026 yang berlangsung pada 11–13 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga mempertemukan berbagai pelaku industri kreatif dan gaya hidup. Mengusung tema “Beyond The Game 2.0: From Nation Building To Global Industry”, kegiatan ini dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir.
Salah satu pelaku usaha yang turut meramaikan ajang tersebut adalah Titik Temu Coffee (.TEMU). Kehadiran jaringan kedai kopi ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan brand sekaligus memperluas awareness kepada masyarakat yang hadir di Indonesia Sports Summit 2026.
Ditemui pada hari pertama kegiatan, Jumat (11/9/2026), co-founder sekaligus owner Titik Temu Coffee Nanda Oka bersama Head Roaster dan Quality Control (QC) .TEMU Roastery, Angeline Lauwrence, memperkenalkan sejumlah produk andalan yang ditampilkan kepada pengunjung.
Nanda mengatakan, Titik Temu saat ini memiliki sejumlah varian kopi dan produk pendamping. Beberapa di antaranya adalah Mont Blanc dan Butterscotch Latte, serta lini produk baru berupa Salt Bread dan Donut.
“Kalau bestseller untuk minuman, kita ada Mont Blanc. Kebetulan resep satu produk yang cukup baru juga dari kita. Untuk Salt Bread, kita ada Salt Bread Garlic. Garlic Cheese Salad juga bestseller,” ujar Nanda.
Menurut Nanda, konsep Titik Temu sejak awal dibangun dari pertemuan sejumlah pendiri dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang berasal dari bidang arsitektur, food and beverage (F&B), branding hingga bisnis. Perbedaan tersebut kemudian menjadi kekuatan dalam membangun karakter Titik Temu.
“Dari beberapa background yang berbeda, kita disatukan langsung. Jadi kita bikin Titik Temu,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu keunggulan Titik Temu adalah pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Setiap gerai dirancang memiliki karakter dan suasana yang berbeda, termasuk dari sisi arsitektur, sehingga pelanggan tidak hanya datang untuk menikmati kopi, tetapi juga mendapatkan pengalaman ketika berada di dalam gerai.
“Keunggulan kita memang menjual experience. Setiap datang ke Titik Temu, tempatnya berbeda-beda. Experience-nya juga berbeda. Arsitekturnya juga sangat bagus, jadi setiap tempat kita punya keunikan masing-masing,” jelas Nanda.
Dalam pengembangan produk kopi, Titik Temu juga memberikan perhatian terhadap penggunaan biji kopi lokal. Nanda mengatakan, meski pihaknya menggunakan sejumlah jenis kopi dari luar negeri, kopi lokal tetap menjadi pilihan utama karena ingin ikut mendorong perkembangan industri perkopian Indonesia.
“Kita utamanya kopi lokal karena memang kita mau memajukan industri perkopian lokal,” ujarnya.
Titik Temu Coffee sendiri telah memasuki tahun ke-10 sejak pertama kali membuka gerai pada 2016 di Seminyak, Bali. Dua tahun kemudian, brand tersebut melakukan ekspansi ke Jakarta dan terus mengembangkan jaringan gerainya di sejumlah daerah.
Dalam perjalanannya, jumlah gerai Titik Temu terus bertambah dan kini telah mencapai 14 gerai, termasuk gerai baru di Dharmawangsa yang dibuka bertepatan dengan penyelenggaraan Indonesia Sports Summit 2026. Selain Jakarta, Titik Temu juga hadir di Bali, Medan dan Batam.
Pertumbuhan jaringan tersebut turut membuka lapangan pekerjaan. Nanda menyebut jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam operasional bisnis Titik Temu kini telah mencapai sekitar 300 orang, termasuk karyawan part-time.
Dari sisi harga, produk kopi Titik Temu berada pada segmen premium dengan kisaran harga sekitar Rp40.000–Rp50.000 untuk sejumlah menu kopi. Titik Temu juga telah hadir di platform pemesanan makanan dan minuman secara daring, meski Nanda menilai kekuatan utama brand tetap terletak pada pengalaman yang diberikan di gerai.
Keikutsertaan dalam Indonesia Sports Summit 2026, lanjut Nanda, menjadi momentum untuk memperkenalkan Titik Temu kepada pasar yang lebih luas. “Untuk awareness, menjaga market baru. Mungkin tidak semua orang tahu Titik Temu. Dengan ikut acara ini jadi tahu Titik Temu,” katanya.
Sementara itu, Angeline Lauwrence menambahkan bahwa pengembangan produk dan kualitas kopi menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi produk Titik Temu. Dari sisi hulu hingga hilir, ia berharap ekosistem industri kopi Indonesia mendapat dukungan yang semakin kuat.
Nanda berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa fasilitas dan sumber daya bagi pelaku usaha kopi, khususnya di sektor pertanian. Menurutnya, fluktuasi harga bahan baku kopi menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian agar industri kopi nasional dapat tumbuh lebih berkelanjutan.
“Kalau kita bisa ada support secara resources dan fasilitas, mungkin itu bisa lebih terbantu, sehingga harganya tidak mau setinggi itu,” pungkas Nanda.



















