Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

“Beli Teknologi Saja Tidak Cukup”: Rektor ITTS Onno W. Purbo Desak Pembangunan Talenta Digital sebagai Fondasi Kemandirian Teknologi dan Keamanan Siber Nasional

×

“Beli Teknologi Saja Tidak Cukup”: Rektor ITTS Onno W. Purbo Desak Pembangunan Talenta Digital sebagai Fondasi Kemandirian Teknologi dan Keamanan Siber Nasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

“Beli Teknologi Saja Tidak Cukup”: Rektor ITTS Onno W. Purbo Desak Pembangunan Talenta Digital sebagai Fondasi Kemandirian Teknologi dan Keamanan Siber Nasional

Jakarta, 13 Agustus 2026 —

Example 300x600

 

Penguatan keamanan siber dan kemandirian teknologi Indonesia dinilai tidak dapat dicapai hanya dengan membeli perangkat dan sistem teknologi. Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengembangkan, mengoperasikan, dan mengamankan teknologi secara mandiri menjadi faktor penentu dalam menghadapi eskalasi ancaman digital yang semakin kompleks.

Pandangan tersebut disampaikan Rektor Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS), Onno W. Purbo, saat ditemui di sela-sela ajang Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Indonesia Mampu Bangun Teknologi Sendiri

Menurut Onno, Indonesia sesungguhnya memiliki kapasitas untuk membangun dan mengembangkan teknologi secara mandiri, termasuk di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan keamanan siber. Namun, potensi tersebut hanya dapat terwujud apabila pengembangan teknologi nasional berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas talenta digital.

“Indonesia sebenarnya bisa bikin sendiri. Kita tidak harus tergantung pada ChatGPT, Gemini, dan segala macam. Kita bisa membuat sendiri,” ujar Onno dengan nada tegas.

Pernyataan tersebut, menurutnya, bukan sekadar optimisme, melainkan cerminan dari berbagai pengembangan teknologi yang telah dilakukan tim ITTS dan komunitas teknologi dalam negeri.

Pendidikan Teknologi Harus Terbuka dan Merata

Sebagai langkah konkret, Onno menjelaskan bahwa ITTS bersama jejaringnya terus mendorong pemerataan akses pendidikan teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat. Salah satu inisiatif utama adalah penyediaan materi pembelajaran secara cuma-cuma.
Hingga saat ini, ITTS telah menerbitkan 23 buku pembelajaran AI yang dirancang untuk berbagai jenjang pendidikan—mulai dari SD, SMP, SMA, hingga SMK. Seluruh buku tersebut dapat diakses dan diunduh secara gratis, dan telah mencatat sekitar 4 juta kali unduhan.

“Ilmunya kita lepas gratis. Tujuannya supaya bangsa Indonesia bisa pintar dan bisa membangun teknologinya sendiri,” kata Onno.

Selain buku, ITTS juga menyediakan materi pendidikan melalui platform Open Course ITTS, yang mencakup berbagai bidang strategis seperti teknologi informasi, AI, keamanan siber, ethical hacking, hingga pengembangan dan rekayasa teknologi.

AI Bukan Sekadar Chatbot: Instrumen Analisis Data dan Strategi Bisnis

Di ajang INTI 2026, Onno turut mendemonstrasikan sejumlah pengembangan teknologi yang dilakukan tim ITTS, termasuk pemanfaatan AI untuk analisis informasi terbuka di internet (Open Source Intelligence/OSINT).

Menurutnya, teknologi tersebut memiliki spektrum pemanfaatan yang jauh lebih luas dari sekadar percakapan atau pembuatan konten. AI dapat difungsikan untuk:
-Riset dan investigasi informasi secara terbuka;
-Pemetaan aktivitas kompetitor di dunia usaha;
-Analisis pola perkembangan bisnis dan penyusunan strategi;

Pengambilan keputusan berbasis data di level korporasi maupun pemerintahan.

Onno memberikan ilustrasi praktis: “Misalnya kita dagang sabun. Kita ingin tahu kompetitor bergerak ke mana, mengerjakan apa, dan berada di kota mana saja. Kita bisa melihat petanya sehingga strategi bisnis bisa disusun dengan lebih baik.”

Ia menekankan, paradigma pemanfaatan AI di Indonesia perlu digeser dari sekadar alat percakapan (conversational tool) menjadi instrumen strategis untuk analisis data, riset, dan pengembangan keputusan bisnis.
Ancaman Siber Makin Kompleks, SDM Jadi Garis Pertahanan Utama
Dalam kesempatan yang sama,

Onno menyoroti tantangan keamanan siber nasional yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Berbagai organisasi, lembaga pemerintah, dan sektor swasta menghadapi risiko serangan digital serta potensi kebocoran data yang terus meningkat baik dari sisi frekuensi maupun sofisticasi.

Ia mengingatkan, penguatan sistem keamanan siber tidak cukup dilakukan dengan mengalokasikan anggaran untuk membeli perangkat atau berlangganan layanan teknologi. Tanpa SDM yang kompeten, investasi teknologi sebesar apa pun tidak akan memberikan perlindungan yang memadai.

“Komputer Itu Bukan Seperti Lemari Es”

Onno mengkritisi paradigma yang masih umum di kalangan pengambil kebijakan, yakni anggapan bahwa persoalan keamanan teknologi dapat diselesaikan semata-mata dengan menyediakan anggaran dan membeli perangkat.

Padahal, setiap sistem teknologi membutuhkan tenaga ahli untuk melakukan instalasi, konfigurasi, pengoperasian, pemantauan (monitoring), pemeliharaan (maintenance), hingga pengembangan berkelanjutan.

“Komputer itu bukan seperti lemari es. Dibeli, dicolok, lalu selesai. Harus di-install, dikonfigurasi, dan dioperasikan. Itu membutuhkan orang pintar,” tegasnya.

40.000 Pendaftar, Hanya 70 yang Lulus: Kesenjangan Talenta Siber yang Mengkhawatirkan

Untuk menggambarkan kedalaman tantangan SDM keamanan siber, Onno membeberkan data dari program pembelajaran keamanan siber gratis yang diselenggarakan ITTS. Program tersebut pernah diikuti sekitar 40.000 pendaftar, namun hanya sekitar 70 peserta yang berhasil memenuhi standar kelulusan.

Angka tersebut, menurut Onno, mencerminkan besarnya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga ahli keamanan siber yang benar-benar memiliki kompetensi teknis memadai.

“Kalau lembaga pemerintah dan institusi yang harus diamankan jumlahnya ratusan, kemudian tenaga ahlinya hanya puluhan, bagaimana kita mau mempertahankan Republik?” ujarnya retoris.

Kampus Harus Melahirkan Praktisi, Bukan Sekadar Teoretisi
Onno juga menyoroti urgensi transformasi kurikulum dan metode pembelajaran di perguruan tinggi. Ia menilai, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi harus mampu mencetak praktisi yang siap menyelesaikan persoalan teknologi di lapangan.

Tingginya kebutuhan industri terhadap talenta digital, lanjut Onno, bahkan telah mengubah pola rekrutmen secara fundamental. Mahasiswa dengan kemampuan teknis kini mulai direkrut perusahaan sebelum menyelesaikan pendidikan formal.

“Mahasiswa kita bahkan sudah diambil sejak semester tiga. Mereka bekerja, kemudian kuliahnya pindah ke kelas malam,” ungkapnya.

Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi indikator kuat bahwa kebutuhan industri terhadap tenaga digital kompeten jauh melampaui pasokan yang tersedia.

Kolaborasi Multipihak untuk Kemandirian Teknologi

Kehadiran ITTS dalam ekosistem INTI 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan berbagai pengembangan teknologi sekaligus memperluas kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan komunitas teknologi.

Onno menegaskan, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian teknologi apabila dua pilar utama dibangun secara simultan: infrastruktur digital dan kapasitas sumber daya manusia.

“Teknologinya ada. Ilmunya ada. Yang menjadi masalah adalah orangnya. Karena itu manusianya harus kita siapkan,” pungkasnya.

Tentang INTI 2026

Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 merupakan ajang pameran dan konferensi teknologi yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Ajang ini menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri teknologi, inovasi, digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan smart manufacturing untuk memperkuat konektivitas antara perkembangan teknologi global dengan kebutuhan industri nasional.

Tentang ITTS

Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS) adalah perguruan tinggi yang berfokus pada pengembangan pendidikan dan riset di bidang teknologi informasi, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan rekayasa digital. ITTS berkomitmen memperluas akses pendidikan teknologi melalui penyediaan materi pembelajaran terbuka serta mencetak praktisi teknologi yang siap menjawab kebutuhan industri.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *