Memanasnya Pertikaian antara China-Taiwan dan Dampaknya.

0
1096

Memanasnya Pertikaian antara China-Taiwan dan Dampaknya.

*Penulis : Jeannie Latumahina*
*Ketua Relawan Perempuan dan Anak Perindo*

Jakarta, Jumat 19 Agustus 2022

 

 

Hubungan China semakin panas ke Taiwan pasca kedatangan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi. Bagamana tidak, karena kunjungan tersebut menurut China, berarti pengakuan pada kemerdekaan Taiwan. Dimana pemerintah Amerika hanya mengakui satu China yaitu Beijing, bukan Taiwan.

China kemudian memberi sejumlah sanksi ekonomi ke barang-barang produk Taiwan. Tidak hanya ini. Latihan perang digelar dalam waktu panjang dengan menerjunkan kapal perang, jet tempur disertai tembakan rudal.

Taiwan membalas melakukan latihan serupa. Meski menegaskan latihan militer telah diatur sebelumnya dan bukan sebagai balasan ke China, operasi serupa akan terus dilakukan dengan tembakan misil selaiknya perang sesungguhnya.

Tentunya dunia International tidak menghendaki terjadinya peperangan antara China dengan Taiwan, mengingat dunia belum juga usai dari dampak pandemi virus, dan masih berlangsungnya perang antara Rusia vs Ukraina, yang berdampak luas terhadap banyak negara termasuk Indonesia mengingat kedua negara tersebut adalah pensuplay besar bahan pangan dan energi.

Sehingga dunia berada dalam ancaman krisis ekonomi dan energi yang luar biasa. Bahkan dikutip dari IMF dan World Bank oleh presiden Jokowi, akan ada sekitar 60 negara terancam bangkrut. Lalu bagaimana bila terjadi perang terbuka antara China dan Taiwan.

China belum lama ini mengeluarkan “buku putih” soal Taiwan, Rabu (10/8/2022). Buku putih itu berjudul “Pertanyaan Taiwan dan Reunifikasi China di Era Baru”. Menguraikan bagaimana China bermaksud untuk mengambil alih pulau itu. Mulai dari berbagai insentif ekonomi hingga tekanan militer.

Secara rinci buku putih menegaskan kembali fakta bahwa Taiwan adalah bagian dari China. Lalu tekad Partai Komunis China (PKC) dan rakyat Tirai Bambu serta komitmen untuk reunifikasi nasional.

Baca juga  Pengamanan di Dermaga Keberangkatan oleh Sat Pam Obvit, Wujudkan Rasa Nyaman Bagi Wisatawan

Resolusi Majelis Umum PBB 2758 adalah dokumen politik yang merangkum prinsip satu-China yang otoritas hukumnya tidak diragukan lagi dan telah diakui di seluruh dunia. “Prinsip satu-China mewakili konsensus universal komunitas internasional”.

Dalam buku itu diuraikan bagaimana ekonomi Taiwan menjadi maju karena hubungan dengan China. Akibat adanya kerja sama keduanya selama tujuh dekade yang membawa manfaat bagi warga pulau tersebut.

Disebut pula ketegangan hubungan akibat Partai Progresif Demokratik Taiwan yang dianggap Beijing sebagai separatis. Dan disebutkan juga adanya kekuatan eksternal lain yang mencoba memprovokasi dan berdampak pada proses reunifikasi damai.

Di sisi lain, masih dalam catatan yang sama China juga menuliskan tawarannya untuk Taiwan yang memiliki ideologi sendiri. Prinsip ‘satu negara, dua sistem’ akan ditawarkan sebagaimana sebelumnya diberikan ke Hong Kong.

“Ini adalah solusi paling inklusif untuk masalah ini. Ini adalah pendekatan yang didasarkan pada demokrasi. Prinsip, menunjukkan niat baik, mencari resolusi damai dari pertanyaan Taiwan, dan memberikan keuntungan bersama. Perbedaan dalam sistem sosial bukanlah halangan untuk reunifikasi atau pembenaran untuk pemisahan diri”.

Hingga sekarang ini masih belum terlihat tanda-tanda menurunnya ketegangan hubungan antara China dan Taiwan, bahkan terlihat peningkatan eskalasi latihan perang keduanya.

Disatu sisi juga terdapat negara-negara NATO akan mengadakan latihan militer bersama “Pitch Black 2022” yang akan digelar di Australia. Diperkirakan bakal ada 100 pesawat dan 2.500 personal militer bergabung. Mereka berasal dari 17 negara. Mengutip informasi dari laman resmi Angkatan Udara Australia, latihan tersebut akan diselenggarakan pada 19 Agustus hingga 8 September 2022.

Sementara itu, President Rusia Vladimir Putin sendiri telah mengecam aktivitas NATO di Asia-Pasifik. Menurutnya akan ada sistem mirip NATO yang dibuat di kawasan ini.

Baca juga  Penumpang Kapal Yang Akan Ke Pulau di Dermaga Keberangkatan di Himbau Taat ProKes

Dampak Konflik China vs Taiwan

Kedua negara tersebut merupakan mitra dagang yang penting bagi Indonesia. Perlu diketahui sumbangan atau share ekspor dan impor China mencapai lebih dari 20 persen terhadap total ekspor dan impor Indonesia.

Sementara itu, share ekspor dan impor Taiwan pun tercatat terus mengalami peningkatan hingga Juni 2022, meski relatif kecil dibandingkan China.

China dan Taiwan keduanya adalah negara eksportir utama komponen elektronik dunia. Jika dirincikan, China merupakan eksportir terbesar pertama di dunia untuk mesin pengolah data otomatis dan unitnya (computer) dan office machine part, serta eksportir kedua terbesar untuk sirkuit elektronik terpadu (integrated circuits).

Sementara itu, Taiwan merupakan eksportir terbesar pertama di dunia untuk sirkuit elektronik terpadu (integrated circuits) dan eksportir terbesar keempat untuk office machine part.

Adapun, ekspor utama Indonesia ke China diantaranya komoditas bahan bakar mineral, besi dan baja, dan lemak & minyak hewan/nabati. Sedangkan ekspor utama Indonesia ke Taiwan yaitu besi dan baja, bahan bakar mineral, serta bijih, kerak, dan abu logam.

Secara konflik geopolitik potensi dampak rambatan dari konflik itu bisa muncul terhadap mobilitas perdagangan dan investasi. Mengingat bahwa, China disamping Amerika Serikat merupakan mitra dagang Indonesia, sehingga gangguan dari masing-masing pihak maupun keduanya bisa berpengaruh terhadap perdagangan Indonesia.

Berkaca dari konflik antara Rusia dan Ukraina yang tidak melibatkan Indonesia tetapi dampak rambatannya sangat terasa, bahkan secara global. Demikian halnya jika terjadi peningkatan eskalasi konflik China dan Taiwan.

Sri Mulyani mengatakan, aksi proteksi oleh masing-masing negara kini menjadi tidak terhindarkan. Sebab belajar dari perang Rusia dan Ukraina, terlihat banyak negara alami krisis energi dan pangan.

Baca juga  Tern Hadir Sebagai Solusi Kemacetan di Ibukota

“Kondisi geopolitik yang penuh potensi perang membuat berbagai negara mencari ketahanan ekonomi masing-masing, proteksionisme akan makin besar, blok menguat”.

“Dalam artian situasi demand-supplynya tetap terjaga. Inflasi memang tertahan karena memberi subsidi banyak. Tapi ekspor dan konsumsi yang supporting ini dengan sisi supply juga responsif. Kita bisa mendapatkan growth 5,4% dengan inflasi relatif stabil”, demikian Sri Mulyani.

Maka tentunya mendapatkan ketahanan ekonomi, dan proteksi perlu dilakukan mengingat bahwa subsidi yang diberikan untuk energi saja sudah mencapai diatas 500 Trilyun, maka perlu terus ditingkatkan sumber-sumber penguatan di sektor pangan dan produksi.

Menggerakkan seluruh potensi masyarakat melalui UKM-UKM akan sangat memegang peran penting dengan kemandirian berproduksi yang disertai dukungan oleh kemudahan dari pemerintah. Niscaya berkat gerak bersama seluruh lapisan masyarakat, Indonesia dapat mengatasi badai yang menerpa dunia. Dunia memang sedang tidak baik-baik saja.

Jakarta , Jumat 19 Agustus 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here