Wartakan Semangat Kartini di Musim Pandemi

0
88

Wartakan Semangat Kartini di Musim Pandemi

Oleh: Fridris Jimson S

Sejak lahirnya Kartini tersibaklah pengekangan akan hak-hak kaum perempuan, tepat 21 april 1879, dan terus diperingati hari yang sangat bersejarah ini sampai hari ini 21/4/2021.

Jika dikenang kembali kegigihan Kartini dalam memperjuangkan eksistensi kaum Hawa di mata para lelaki yang pada waktu itu tidak begitu memperhitungkan posisi perempuan, menganggap perempuan hanya berurusan dengan dapur, suami dan anak. Dengan bukunya “Habis Gelap terbit Terang ” tersirat semangat Nasionalisme, Demokrasi, tidak mau dijajah atau bebas dari penjajahan, dan kesadaran sebagai bangsa yang berdaulat”.

Itulah yang mendorong Kartini kelahiran Jepara pada masa penjajahan kolonial Belanda, hadir dengan membuktikan bahwa PEREMPUAN tidak boleh dianggap remeh, disepelekan, Dalam hasrat mulianya Kartini tidak ada rasa takut dan gentar sedikitpun apa akibat dari semua yang akan dilakukannya, Kartini mewakili perempuan Indonesia membuktikan bahwa perempuan Indonesia bisa melakukan apa saja yang terbaik untuk tanah airnya tanpa memandang gender, harus berjuang bersama seluruh rakyat Indonesia mempertahankan tanah air Indonesia, sehingga sosok perempuan tidak boleh dianggap rendah.

Kartini yang hanya duduk di bangku Sekolah Dasar yang dikenal pada saat itu (HIS) ” Hollandsch Inlandsche Scholl” . Karena yang diperbolehkan pihak Kolonial pada saat itu, hanya bangsa Belanda dan orang Indonesia dari golongan yang terpandanglah yang bisa sekolah termasuk R. A. Kartini.

Di antara elite pribumi perempuan zaman kolonial yang dekat dengan pergaulan lintas rasial, Kartini merupakan salah satunya. Sejak kecil, putri Bupati Jepara itu berkawan dengan banyak orang Belanda, baik laki-laki maupun perempuan yang dikenalnya berkat status ningratnya. (Tirto.co.id).

Kesempatan ini dipergunkan dengan baik oleh Kartini, untuk mempertahankan Emansipasi perempuan hingga perempuan Kolonil menyetujui Kartini mendirikan Sekolah di Indonesia untuk mengangakat derajat Perempuan. Jauh sebelum Ki Hajar Dewantara (1889) dan Bodi Oetomo (1908). Yang pada akhirnya perempuan bisa duduk dibangku sekolah, supaya bisa ditempatkan di posisi strategis di semua profesi dan pemerintahan. Hasil kerja keras dan perjuangannya untuk kaum perempuan di negeri kita Indonesia, dengan tidak pernah ada kata ” menyerah ” , untuk negeri dapat kita saksikan sekarang banyak dengan melihat perempuan tidak lagi hanya di dapur, urus suami dan anak akan tetapi banyak yang sudah menjabat di posisi strategis Pemeritahan, Legislastif, Judikatif, TNI dan POLRI, serta di segala bidang yang sangat membanggakan.

Baca juga  PDIP: Rekapitulasi Berjenjang TKN 01 Semakin Pastikan Kemenangan Jokowi-KH Ma'ruf Amin dan PDI Perjuangan

Sedikit berbeda perjuangan kaum perempuan dengan Kartini yang sudah wafat, bukan lagi memulai tetapi meneruskan untuk mewartakan Semangat sosok seorang Perempuan yang didambakan Negri ini, seorang Perempuan yang sabar, tegar, mempunyai tanggung jawab dalam semua profesi, di tengah keluarga, tentu sekali jangan lupa pesan sendiri : Selalu mengingatkan apa yang dipesankan Ibu : ” pake masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun..

Selamat Hari Kartini..!!

( Fridris Jimson S )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here