QUARANTINE TALES, FILM 5 CERITA DARI 5 SUTRADARA DI MASA KARANTINA SIAP TAYANG EKSKLUSIF DI BIOSKOP ONLINE 18 Desember 2020

0
44

QUARANTINE TALES, FILM 5 CERITA DARI 5 SUTRADARA DI MASA
KARANTINA SIAP TAYANG EKSKLUSIF DI BIOSKOP ONLINE 18 Desember 2020

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Film Quarantine Tales hasil kolaborasi Bioskop Online dengan Base
Entertainmentsegera tayang pada 18 Desember 2020, eksklusif di Bioskop Online. Film ini diharapkan menjadi tontonan yang menghibursekaligus menjadi catatan akhir tahun yang
merangkum perjalanan kehidupan kita di tahun 2020.

“Dengan dirilisnya film ini kita bisa melihat bahwa di tengah kondisi yang serba terbatas akibat pandemi, para kreator bisa tetap menjaga kreatifitasnya dan menjaga pertumbuhan industri
perfilman dengan bekerja sama dan bersinergi. Itulah yang dilakukan oleh Bioskop Online bersama dengan BASE Entertainment.” demikian disampaikan Ajeng Parameswari, President Digital Business Visinema Group.

“Bioskop Online ingin bertumbuh bersama ekosistem industri perfilman, dan melalui proyek Quarantine Tales ini kami berusaha mendorong proses bertumbuh itu. Dari sisi kreatif, film ini unik sekaligus relevan karena memotret berbagai aspek kehidupan selama masa karantina,” lanjut Ajeng Parameswari.

Quarantine Tales bukan cuma unik karena mengangkat aspek kehidupan selama karantina, tapi pada proses penggarapannya pun menjadi tantangan tersendiri karena harus dilakukan di tengah kondisi serba terbatas.

Dian Sastrowardoyo salah satu sutradara di Quarantine Tales ikut merasakan pengalaman yang
menantang. Selain pertama kalinya menjajal posisi sebagai sutradara, Dian Sastrowardoyo juga harus menjalani syuting dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Kita lumayan sadis, kita pastikan area clear, mewajibkan hasil swab dan kita tetap pakai masker. Semua jadi nyaman banget, kru dan aktor sama-sama enak kerjanya. Ayo sama-sama saling jaga
selama di lokasi.”, ucap Dian Sastrowardoyo.

Meski serba terbatas, namun semua pemain yang terlibat, tetap maksimal memberikan yang terbaik. Termasuk Adinia Wirasti, yang berperan sebagai Ajeng dalam cerita Nougat, yang
disutradarai Dian Sastrowardoyo. Adinia mengungkapkan bahwa perannya selain sangat erat dengan kondisi pandemi tapi juga memiliki banyak makna, terutama tentang hubungan dalam keluarga.

“Ajeng ini unik, karena Nougat ini pendek, tetapi dunianya luas. Ini bukan hanya bisa dilihat dari sisi pandemi, tapi bagaimana si Ajeng ini menjadi jembatan di keluarganya,” ucap Adinia Wirasti. Adinia Wirasti berharap film ini akan menjadi tontonan yang menghibur dan relate dengan kondisi saat ini.

Sementara itu, Roy Sungkono yang memerankan tokoh Didit Iseng dalam cerita Prankster juga mengungkapkan dirinya tertantang untuk terlibat di film ini. Tantangannya bukan terkait kondisi
pandemi, tapi justru tentang karakter yang akan ia perankan. Di mana ia akan berperan sebagai seorang youtuber yang terkenal dengan konten prank-nya. “Yang
menjadi tantangan adalah menjaga energi di film ini, karena nanti ceritanya lagi live dan harus bisa membawa itu, harus bisa menjaga dan menyampaikan energinya,” ujar Roy Sungkono. Meski
memiliki garis besar tentang pandemi, tetapi kelima cerita di Quarantine Tales memiliki warnanya masing-masing, seperti yang diharapkan oleh Shanty Harmayn, produser dan CEO Base Entertainment.

Baca juga  YLBHI: HENTIKAN MERAMPAS TANAH ADAT BASIPAE

“Kami ingin menampilkan ragam perspektif di film ini. Kebetulan kelima cerita ini punya genre yang berbeda. Benang merahnya, di share experience itu dan film ini akan menjadi catatan reflektif, dari cerita yang tidak disangka-sangka,” ungkap Shanty Harmayn.

Quarantine Tales adalah film tentang lima kisah yang menyuarakan rasa kehilangan dan terhubung kembali, bayangan masa lalu, ilusi mimpi, balas dendam, dan rasa bersalah. Kelima kisah ini digarap oleh 5 sutradara yang berbeda yaitu; Ifa Isfansyah (Cook Book), Jason Iskandar (Prankster), Sidharta
Tata (The Protocol), Aco Tenri (Happy Girls Don’t Cry) dan Dian Sastrowardoyo (Nougat).

Tokoh-tokoh dalam setiap kisah mewakili berbagai emosi yang dominan dirasakan manusia selama pandemi: marah, cemas, bingung, takut, bahkan menjadi oportunis. Setiap karakternya juga menggambarkan rasa keterpisahan: terpisah dari keluarga, berjarak dari masa lalu, terputus hubungan dengan kawan baik, bahkan berjarak dari identitasnya sendiri. dan mewakili banyak emosi.

Film Quarantine Tales adalah medium untuk memahami manusia, mengenal diri kita, karena pada akhirnya #IniCeritaTentangKita. Jangan lupa, film ini bisa disaksikan mulai 18 Desember 2020, secara eksklusif di www.bioskoponline.com, dengan harga tiket hanya Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

*****

Sinopsis Cook Book, disutradarai Ifa Isfansyah

Di saat virus mengancam kehidupan manusia, semua harus karantina di dalam rumah. Halim (Verdi
Soelaiman) seorang chef masakan China, berusia 50 tahun mengisi masa karantina dengan menuliskan sebuah buku resep.

Namun bagaimana jika setelah buku resep tersebut selesai justru membawanya pada sebuah
pertemuan virtual dengan wanita berusia 18 tahun bernama Li (Brigitta Cynthia)? Li mengatakan bahwa dirinya dan Halim adalah dua manusia yang tersisa di dunia dan mereka harus bersama untuk
melahirkan keturunan dan menciptakan peradaban baru.

Sinopsis The Protocol, disutradarai Sidharta Tata Sang Perampok (Abdurrahman Arif) panik saat partner-nya, Icuk (Kukuh Prasetya) mendadak tewas setelah batuk-batuk. Sang Perampok dihantui kebingungan, satu sisi dia takut tertular virus mematikan dan ingin meninggalkan Icuk, di sisi lain ia tak tega membiarkan sang partner begitu saja.

Menguburkan Icuk di sebuah hutan adalah pilihan yang diambil Sang Perampok. Namun, apa yang
terjadi jika ternyata lokasi yang dipilih sebagai tempat menguburkan Icuk adalah hutan berhantu?
Sinopsis Prankster, disutradarai Jason Iskandar Didit Iseng (Roy Sungkono) yang dikenal sebagai prankster ulung, justru mendapat “kejutan” dari
Aurel (Windy Apsari), seorang food vlogger dan teman lamanya. Naasnya, kejutan tersebut ditayangkan secara langsung. Mungkin Aurel sudah kehilangan akal sehatnya.

Baca juga  Meity Magdalena Ussu, SE., MBA. Reses Tampung Aspirasi Rakyat di Dapil 2 Jakarta Utara

Sinopsis Happy Girls Don’t Cry, disutradarai Aco Tenri
Adin (Arawinda Kirana), yang berasal dari keluarga kurang mampu mendapat hadiah iMac dari youtuber favoritnya. Di tengah kebahagiaannya, Adin dihadapkan pada kondisi kedua orang tuanya yang kehilangan pekerjaan karena pandemi. Apa yang akan dilakukan Adin jika kedua orang tuanya
meminta ia menjual iMac tersebut untuk biaya bertahan hidup selama pandemi?
Sinopsis Nougat, disutradarai Dian Sastrowardoyo Berkisah tentang tiga saudara; Ajeng (Adinia Wirasti), Ubay (Marissa Anita) dan Denok (Faradina
Mufti) yang kehilangan orangtua mereka. Di tengah pandemi, Ajeng si anak tengah, tetap berusaha
menjaga ikatan dengan kedua saudaranya. Tapi hidup berubah dan mereka terpisah. Akankah Ajeng
mampu mempertahankan ikatan dengan kedua saudaranya?

*****

Tentang Bioskop Online

Bioskop Online adalah sebuah layanan TVOD (Transaction Video On Demand) yang menawarkan kurasi film dari berbagai produser film lokal dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp5.000,- dan masa sewa selama 48 jam. Konten-konten di Bioskop Online terdiri dari antara lain film panjang,
konten original dengan durasi mid-feature, dan special show.

Tentang BASE Entertainment

BASE Entertainment adalah sebuah studio film yang fokus pada kegiatan pendanaan, pengembangan
cerita dan IP (Intellectual Property), serta distribusi film di Indonesia. Produksi pertama BASE Entertainment, “Perempuan Tanah Jahanam”, adalah hasil kolaborasi bersama sutradara Joko
Anwar. Tidak hanya bekerja sama dengan kreator lokal, BASE Entertainment juga mengembangkan sebuah cerita adaptasi dari novel grafis terkenal Filipina, “Trese”, karya Budjette Tan dan Kajo Baldisimo. Ingin bekerja dengan banyak figur berbakat lainnya di industri, BASE Entertainment juga bermitra bersama Dian Sastrowardoyo dan berkomitmen untuk membuat film-film yang selain menghibur, juga mempunyai pesan sosial yang relevan dengan keadaan di Indonesia. “Guru-Guru Gokil’, film pertama dari kolaborasi ini adalah debut Dian Sastrowardoyo sebagai produser. Dan di tahun 2020, BASE kembali bekerjasama dengan sineas muda dari Studio Antelope, yaitu Jason Iskandar. Bersama BASE, Jason akan memulai debut panjang pertamanya lewat film bergenre Romance Fantasy berjudul “Akhirat: A Love Story”.

Tentang Dian Sastrowardoyo

Salah satu aktris papan atas di Indonesia, Dian Satrowardoyo telah membuat karir nya memerankan
karakter-karakter ikonik di kancah perfilman Indonesia. Mulai dari memenangkan penghargaan
aktris terbaik di Deuville Asian Film Festival untuk perannya di PASIR BERBISIK hingga peran
legendarisnya yaitu Cinta di film ADA APA DENGAN CINTA, Dian terus-menerus memukau penonton
film Indonesia. Dengan 6.4 juta followers di Instagram, dia mempunyai basis penggemar yang sangat
aktif untuk menunggu proyek-proyeknya yang akan datang. Baru-baru ini, Dian menambah satu profesi lagi, yakni memproduseri film GURU-GURU GOKIL dengan Base Entertainment. Kehadiran
antologi ini akan menambah repertoarnya sebagai debutnya menjadi sutradara.

Baca juga  PT. Young On Top 10 Tahun : Menyatukan Indonesia

Tentang Ifa Isfansyah

Memulai perusahaannya Fourcolours Films dengan pembuat film lokal lainnya. Dia terpilih dalam BUSAN Akademi Film Asia pada tahun 2006 dan mendapat beasiswa untuk mengikuti Im Kwon Taek
College of Film & Performing Arts, KOREA. Menyutradarai film pertamanya, GARUDA DI DADAKU (2009), yang mengalami kesuksesan komersial yang luar biasa. Film keduanya, THE DANCER (2011) mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik dan Film Terbaik di Festival Film Indonesia. Menjadi
produser pada film SITI (Eddie Cahyono, Telluride FF 2015), TURAH (Wicaksono Wisnu LEGOWO,
Indonesian Official Entry for OSCAR 2018) and THE SEEN AND UNSEEN (Kamila ANDINI, Toronto IFF
2017), MEMORIES OF MY BODY (Garin NUGROHO, Venice Film Festival 2018) dan juga pendiri JOGJA
NETPAC Asian Film Festival serta JOGJA FILM ACADEMY.

Tentang Sidharta Tata

Pendidikan Seni Rupa yang pernah dipelajarinya di UNY nampaknya benar- benar membuatnya
mencintai dunia Audio Visual. Musik dan film selalu menjadi bagian dari hidupnya. Setelah tahun 2006 berhasil mengeluarkan Full length album bersama band Hardcorenya, ia mulai menginjakkan kaki ke dalam dunia profesional sebagai Sutradara di dalam industri periklanan di Jakarta. Hingga
2016 sudah 3 film pendek yang berhasil dibuatnya, salah satunya adalah Natalan ( 2015 ) yang berhasil masuk ke dalam nominasi film pendek terbaik di FFI 2015. Lewat film terbarunya, Loz
Jogjakartoz (2018) Ia sedang berusaha untuk menjadi seorang pencerita yang baik dengan gaya estetika yang khas, sebagai jalan menuju ke industri perfilman nasional. Filmography: The
Messenger (Short movie) 2013, Natalan (short movie) 2015, Tunnel (Drama series) 2019.

Tentang Jason Iskandar

Pendiri perusahaan produksi konten yang sukses bernama Studio Antelope, Jason membuat membuat konten yang bergaya dan menarik dalam kalangan anak muda. Dia juga adalah seorang
filmmaker yang telah memenangkan banyak award dan sekarang sedang mengerjakan debut film panjangnya berkolaborasi dengan BASE Entertainment yang berjudul AKHIRAT: A LOVE STORY, yang telah selesai diproduksi tahun ini.

Tentang Aco Tenri

Dia adalah mahasiswa jurusan film dalam tahun terakhirnya di Institut Kesenian Jakarta, Indonesia.
Parsitipasinya di CinemadaMare Film Festival (Italy) pada tahun 2016 membawa dia untuk mendapatkan beasiswa di Academy of the Performing Arts in Bratislava (VŠMU), Slovakia, dengan fokus dalam Penulisan & Penyutradaraan. Setelah kembali ke Jakarta, Aco telah banyak bekerja
dalam pembuatan film pendek, digital / internet video, web series dan music videos.
(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here