Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

Argowisata dan Koperasi Jadi Andalan Pengembangan Destinasi Super Prioritas Danau Toba

×

Argowisata dan Koperasi Jadi Andalan Pengembangan Destinasi Super Prioritas Danau Toba

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Argowisata dan Koperasi Jadi Andalan Pengembangan Destinasi Super Prioritas Danau Toba

 

Example 300x600

Jakarta, Gramediapost.com

 

Pemerintahan Jokowi-Maruf sudah memutuskan “10 destinasi wisata baru”, dan salah satu yang menjadi super prioritas adalah Danau Toba. Hal ini disampaikan Sahala Panggabean MBA, Founder Yayasan SAPARI, saat membuka acara webinar  FGD Virtual Akademi Pariwisata ULCLA Tarutung, pada hari Sabtu, (10/10).

“Kawasan Danau Toba sebagai satu dari Destinasi Super Prioritas serta telah ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark pada sidang Eksekutif UNESCO menambah nilai lebih, popularitas dan daya tarik pariwisata,” kata Sahala Panggabean.

Ia menambahkan, kami bersama pemerintah daerah dan pusat, bersamaan dengan terus dibangunnya infrastuktur di era Jokowi, yang paling penting adalah menyiapkan infrastruktur Sumber Daya Manusia (SDM).

“Kita harus siapkan SDM yang telah mengalami transformasi karakter dengan cara pendidikan, serta dukungan beberapa pihak dari baik perorangan, putra putri daerah, maupun diaspora agar bagaimana Danau Toba bisa mendunia dan menyiapkan SDM yang memiliki mutu unggul melalui pendidikan pariwisata yang berkualitas,” ujar Sahala Panggabean.

Di kesempatan yang sama keynote speaker Odo R.M. Manuhutu, Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Maritim dan Investasi mengatakan,
“Salah satu yang saya lihat menjadi kesempatan bagi kawasan Danau Toba adalah desa wisata sebagai pendukung utama penunjang destinasi prioritas,” ujar Odo Manuhutu.

Maka pemerintah terus berupaya untuk menjamin agar seluruh pembangunan di kawasan Danau Toba menjadi prioritas, tidak hanya sebatas infrastruktur fisik tapi juga Sumber Daya  Masyarakat agar berjalan dengan maksimal, serta manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Odo Manuhutu juga menekankan justru di masa pandemi ini juga mengajak perlunya gerakan nasional bangga Indonesia, dimana mendorong aktivitas ekonomi UMKM setempat untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan adanya pariwisata Danau Toba.

Sementara itu narasumber berikutnya, Staf Ahli Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf, Dr. Frans Teguh MA menjelaskan, hal terpenting yang harus digaris bawahi yaitu peranan Sumber Daya Manusia untuk aktif bergerak menyesuaikan perilaku wisatawan domestik dan mancanegara, hal ini diperlukan aspek skill, knowledge dan attitude.

“Ini adalah konstruksi yang diterjemahkan dalam pembelajaran melalui modul-modul yang pasti Akademi Pariwisata ULCLA sudah cukup advance dalam kurikulum pendidikannya,” ujar Frans Teguh.

Frans juga mengatakan,terkait menyiapkan SDM, menjadi hal yang sangat penting bagi pengelola, dan semua pelaku pariwisata untuk bersatu padu agar ekosistem pariwisata di Danau Toba harus menciptakan pengalaman otentik yang menjadi kekuatan utama.

” Pariwisata itu rohnya (dalam Sumber Daya Manusia) adalah berbasis hospitality yang akan mendatangkan kepuasan wisatawan sehingga niscaya akan berkunjung kembali serta bahkan memberikan referensi,” ungkap Frans Teguh.

Agrowisata dan Koperasi

Sementara itu Arie Prasetyo, Direktur Utama Badan Pelaksanan Otorita Danau Toba memjawab pertanyaan dari awak media mengenai kesiapan BPODT terkait destinasi wisata ramah muslim, yang akan berkunjung ke Danau Toba.

” Dilihat dari statistik wisatawan yang datang ke Danau Toba berdasarkan data BPS di tahun lalu Sumatera Utara sekitar 260 ribu wisatawan (sebelum covid-19). Di bulan Januari 2020 masih cukup bagus dan target psikologis tahun ini diangka 300 ribu wisatawan. Nah, 50 % wisatawan yang datang ke Sumatera Utara dari survey yang kita lakukan itu sekurangnya 60 % wisatawan yang datang ke Danau Toba. Lalu 50% dari mereka berasal dari Malaysia, biarpun memang tidak keseluruhannya muslim,” ujar Arie Prasetyo.

” Yang telah kami lakukan berkoordinasi dengan pemilik hotel melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat bagi wisatawan muslim seperti contohnya menyediakan petunjuk kiblat dan menyediakan fasilitas sejadah dan pelengkapan ibadah lainnya di kamar,” kata Arie Prasetyo.

“Terkait dengan makanan halal kita bekerjasama dengan MUI, untuk melakukan sertifikasi restoran yang menyediakan makanan halal, agar menambah confident level wisatawan muslim,” ujar Arie Prasetyo.

” Harapan kita agar wisatawan bisa tinggal lebih lama,” ujar Arie Prasetyo.

Adapun Prof. Dr. Ir. Santum. R. P. Sitorus, Pakar Agro Bisnis dan Guru Besar IPB membicarakan peluang agrowisata dan ecowisata menjadi destinasi pendukung sekaligus menjadi meningkatkan kesejahreraan masyarakat.

Ia menjelaskan, kalau dilihat dari pengembangan agrowisata jika dikaitkan dengan kawasan wisata Danau Toba, secara garis besar mencangkup beberapa aspek. Pertama, pengembangan sumber daya manusia. Kedua, Sumber daya alam. Ketiga, promosi. Keempat, dukungan sarana.dan Kelima, kelembagaan.

Agrowisata perlu direncanakan dan dirancang sesuai dengan keunikan pertanian, keunikan kehidupan masyarakat/petani dan potensi spesifik lokasi.

Selain itu Dr. Ir. Johnny  Walker  Situmorang, M.S., Ketua Komunitas Samosir Maju serta Peneliti Ahli Utama Kemenkop & UKM menerangkan bagaimana mengelola potensi yang bisa mensejahterakan masyarakat melalui budaya, agro mapun rekreasional yang berbasis koperasi. Pembangunan pariwisata berbasis koperasi menjadi kekuatan pariwisata Indonesia

Seperti yang diketahui koperasi merupakan wadah yang bertujuan untuk memajukan secara bersama -sama perekonomian ekonomi setempat.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…