Siapa Bilang Menjadi Petani Selalu Miskin?

0
168

 

Jakarta, Gramediapost.com-

 

Berdua temanku tadi menyempatkan diri mengunjungi lahan pertanian yang telah diolah sejak tahun 2004. Letaknya di daerah Rawa Lini dan tak jauh dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta.

Mas Bagas usia sekitar 18 tahun lulus SMA dan akan melanjutkan ke jurusan manajemen untuk memperdalam ilmu dan menambah wawasan meneruskan usaha pertanian yang telah dirintis ayahnya.

Dari usia masih kanak-kanak Mas Bagas sudah dilibatkan oleh ayahnya yaitu Bapak Suratman mantan supir angkot tidak tetap bahkan dulu sempat dikenal sebagai preman, untuk ikut berkecimpung di bidang pertanian. Lahan sekitar 26 ha disewa dari pengembang/perusahaan yang merupakan lahan tidur.

 

Usaha pertanian digeluti oleh ayah Bagas dari nol. Mengolah lahan, menanaminya dengan bermacam-macam bibit sayuran. Melibatkan penduduk sekitar lahan , anak pondok pesantren, remaja-remaja pengangguran bertato.

Saat ini sayur mayur segar tersebut dipasok ke pasar tradisional Jabodetabek, Alfamart, Superindo, Indomaret dll.

Bahkan mereka telah mengembangkan menanam bibit labu madu, melon untuk pasar export ke Hongkong dll.

Lahan yang mereka tanami melon terletak di daerah Serang Banten.

Berapa saat ini penghasilan yang mereka peroleh dari bergelut di sektor pertanian ini? Waaaoouuw dari beberapa artikel yang dimuat di beberapa surat kabar sekitar 100 jt per hari.

Menurut penuturan Mas Bagas, saat ini dia juga sembari usaha toko obat-obatan terkait pertanian.

Pernah suatu waktu saat hendak panen, tanamannya terlanda banjir. Namun hal itu tidak menjadikan mereka untuk menyerah namun bangkit lagi melanjutkan usaha pertanian yang telah digelutinya.

(Johan S/Lili J)

Baca juga  Pesan Malam Renungan Lilin Kebangsaan GMKI - PIKI - GAMKI - PGI - PARKINDO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here