M.Hokli H. Lingga, S.H.: Gereja Harus Menjadi Kelompok Strategis dalam Pembangunan Bangsa

0
146

Gereja Harus Menjadi Kelompok Strategis Dalam Pembangunan Bangsa

Oleh:  M. Hokli H. Lingga, S.H.
HokliGereja harus bisa menjadi kelompok strategis yang berperan besar, signifikan, maksimal dan luar biasa dalam pembangunan bangsa dan masyarakat dalam semua aspek kehidupan. Ada tiga tugas besar (peran) yang harus dilakukan oleh Gereja dalam dialektika dengan negara-bangsa. Pertama, Gereja harus menjadi Kontributor dan Partisipator dalam pembangunan bangsa. Di sini Gereja-gereja turut  berperan aktif dalam membangun “infrastruktur” bangsa, seperti membangun banyak sekolah-universitas untuk pengembangan SDM bangsa/masyarakat, membangun karya-karya sosial kemanusiaan, seperti RS dan Poliklinik-poliklinik, panti-panti asuhan dan panti jompo. Kedua, meminjam istilah/pemikiran Martin Luther, Gereja harus menjadi “hati nurani atau suara hati” sebuah bangsa. Gereja bukanlah Tuan atau pelayan (alat) Negara. Tetapi, Gereja harus menjadi “nabi” atau penuntun moral bagi sebuah bangsa. Kalau tidak Gereja akan menjadi klub sosial yang tidak relevan tanpa otoritas moral atau spiritual. Gereja seharusnya menjadi suara bagi kaum yang tidak bisa bersuara. Gereja harus pedudi dan tidak acuh tak acuh pada nasib orang. Gereja harus mengkritisi ketidakadilan sosial, korupsi, kejahatan, pelanggaran HAM, penyalahgunaan kekuasaan. Gereja harus mendorong umat Kristen untuk berpartisipasi dalam pembangunan hukum, moralitas dan tatanan sosial berdasarkan ideologi Pancasila dan idealisme iman Kristen. Gereja jangan takut berbicara tentang kebenaran dan kasih, jangan takut memberi masukan, nasehat dan kritik kepada pemerintah. Gereja harus berperan sebagai warga Negara yang baik, kritis dan aktif dalam pembangunan bangsa.

Gereja dan umat Protestan telah berusaha maksimal untuk memajukan dunia pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Dari sejak masuknya Injil ke tanah air tercinta, Gereja selalu menjadi pionir dalam membangun sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dan RS-RS. Gereja telah berusaha untuk menjadi “agen pembangunan” dan “agen perubahan sosial”. Dimana Gereja hadir di situ pendidikan selalu dimajukan juga. Membangun sekolah dan perguruan tinggi adalah bagian dari panggilan dan kesaksian untuk mengajari semua manusia untuk mengenal Firman Tuhan, mengenal Kristus, agar bisa menjadi manusia yang bermartabat, beradab dan berkarakter ilahi. Saat ini sudah banyak sekolah Protestan yang menjadi sekolah kebanggaan bangsa seperti BPK Penabur, IPEKA, Pelita Harapan, Petra, Methodist, BOPKRI, PSKD, Nommensen dan lain-lain. Demikian juga Universitas, seperti Petra, Maranatha, Pelita Harapan, UKI, Nommensen, Satya Wacana, UKRIDA, Duta Wacana, dan lain-lain. Gereja juga turut ambil bagian dalam bidang pembangunan kesehatan masyarakat. RS PGI Cikini, RS Immanuel, RS Bethesda, RS YAKKUM, RS UKI, RS Methodist, RS Bala Keselamatan dan lain-lain. Ini adalah bentuk nyata partisipasi Gereja dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Baca juga  Jokowi Kerja Nyata, Pembenci Tetap Ada

Tugas dan peran Gereja yang ketiga adalah sebagai saksi, garam dan terang, teladan dan transformator bangsa. Gereja diutus untuk menyaksikan kasih Allah, kabar baik kepada semua bangsa. Gereja harus menyampaikan syalom Allah dengan beradab, komunikatif, bijaksana, cerdas, tulus, etis dan humanis.

Secara umum, Gereja dan umat Kristen harus berperan aktif, progresif dan all-out dalam 7 bidang strategis yang paling mempengaruhi kehidupan manusia, paling mempengaruhi kebudayaan dan peradaban manusia, yaitu: Bisnis, Pemerintahan, Media, Kesenian dan Hiburan, Pendidikan, Keluarga dan Agama. Medan-medan strategis ini adalah medan peperangan besar (battlefields) yang harus kita menangkan agar kita bisa membuat perubahan, transformasi bagi bangsa dan masyarakat. Medan-medan ini yang menentukan survive atau gagalnya dan kuat atau lemahnya Kekristenan dalam pergulatan wacana dan praksis kehidupan manusia. Kalau Gereja bisa menjadi “pemimpin” atau “kontributor utama” dalam bidang-bidang strategis ini, kita bisa memberi orientasi, warna, pegangan dan nilai pada masyarakat dan bangsa dalam proses pembangunan nasional sekarang ini dan di masa depan.

Dengan berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara maka gereja telah melaksanakan fungsinya sebagai garam dan terang dunia yaitu untuk menyatakan kasih, berkat solidaritas, kebaikan, kebenaran, keadilan, persaudaraan, damai sejahtra dan harmoni sosial. Ditengah-tengah perkembangan globalisasi dunia yang terjadi begitu cepat dari hari-kehari oleh karena perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin canggih, Gereja juga harus berpacu dengan waktu agar mampu menjawab segala tantangan kemanusiaan dan problem kebangsaan yang sedang terjadi di Indonesia.

Ditengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang mempunyai latar-belakang yang berbeda-beda secara suku, agama, ras, budaya dan ideologi, gereja harus terus hadir dan menyatakan suara kenabiannya. Gereja harus terus menerus membenahi dan memberdayakan dirinya agar semakin kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar bisa menjadi agen pembaharuan dan lembaga pembangunan, dengan menawarkan solusi-solusi baru yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama sebagai bagian integral NKRI. Gereja harus bisa menjadi sumber rujukan atau sumber acuan, teladan dan inspirasi bagi pembangunan bangsa dan masyarakat, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Sehingga pada akhirnya pembangunan membuat manusia tidak teralieneasi (tidak mengasingkan diri) dari hubungannya dengan Allah, dengan sesamanya dan dengan alam (lingkungan hidup), tetapi semakin mendekatkan diri secara utuh dengan sang Pencipta, dengan sesama dan dengan alam secara harmonis, etis dan normatif. Dalam hubungan itulah maka Missio Dei dan mandat Allah berfungsi.

Baca juga  MEMBANGKITKAN KEMBALI SPIRIT NASIONALISME YANG RAPUH

Dalam konteks kehidupan politik kebangsaan saat ini maka Gereja harus memiliki peran dan tanggung jawab strategis terhadap perkembangan demokrasi serta pembangunan bangsa. Sebab, gereja merupakan salah satu komponen inti yang mampu menjadi katalisator, mobilisator, dinamisator, motivator dan kontributor untuk mendorong penyelenggara negara berjalan di rel yang benar.untuk mewujudkan masyarakat adil, harmonis dan makmur.

Untuk itu, Gereja-gereja sebagai wadah perkumpulan umat harus membangun jaringan kerjasama strategis yang saling memperkuat dan saling mendukung masing-masing pihak, Gereja harus bisa bersinergi, berjejaring dan bermitra menjadi sebuah perhimpunan dan persekutuan yang besar, kuat, dinamis dan diperhitungkan, sehingga gereja mampu mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang Pancasilais, humanis dan beradab.

M. Hokli H. Lingga, S.H., adalah seorang pengacara dan Mahasiswa S-2 FH UKI Jakarta.