Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Renungan

Kasih Allah Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia

×

Kasih Allah Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kasih Allah Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia

Penulis oleh:Johanes Libudony S.S. Penerjemah madya Litbang kumdil MA

Example 300x600

 

Di bukit Golgota, di antara kayu salib dan langit yang menggelap, sebuah kalimat pendek terucap dari bibir Yesus: Tetelestai—sudah selesai. Dua kata itu bukan sekadar penutup dari rangkaian penderitaan seorang manusia yang dihukum mati.

Bagi umat Kristen, seruan itu menjadi penanda selesainya sebuah misi: penebusan dosa dan pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah.

Makna terdalam dari peristiwa itu tidak hanya tersimpan dalam catatan para saksi mata yang berdiri di sekitar salib. Puluhan tahun setelah peristiwa Golgota,

Rasul Yohanes kembali merenungkan maknanya melalui surat-surat penggembalaannya. Murid yang dikenal sebagai “murid yang dikasihi Yesus” itu tidak hanya membawa kesaksian tentang apa yang ia lihat, tetapi juga tentang apa yang ia pahami: bahwa inti dari salib adalah kasih yang rela mengorbankan diri.

.
Yohanes adalah salah satu orang yang berada dekat dengan Yesus pada malam terakhir sebelum penyaliban. Dalam Injilnya, ia menggambarkan kedekatan itu dengan menyebut dirinya sebagai murid yang bersandar dekat kepada Yesus saat perjamuan malam terakhir. Namun, dalam surat-suratnya—1, 2, dan 3 Yohanes—ia tidak berhenti pada kenangan.

Ia menggali makna rohani dari penderitaan Kristus dan menempatkan kasih sebagai pusat dari seluruh karya penyelamatan Allah.

Kasih yang Hadir sebagai Pendamaian

Dalam surat pertamanya, Yohanes memberikan definisi tentang kasih yang melampaui sekadar perasaan atau ungkapan emosional. Ia menulis:

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10)

Kata “pendamaian” (hilasmos) menunjuk pada tindakan penghapusan dosa melalui pengorbanan Kristus. Dalam pemahaman Yohanes, salib menjadi tempat ketika Yesus mengambil posisi manusia yang berdosa dan menanggung akibat dosa tersebut.

Di titik inilah tragedi Golgota menemukan kedalamannya. Yesus tidak hanya mengalami penderitaan fisik berupa luka dan kematian, tetapi juga penderitaan rohani ketika Ia menanggung beban dosa dunia. Persekutuan kekal antara Bapa dan Anak yang selama ini tidak terpisahkan digambarkan mengalami kesunyian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kasih Allah, dalam pandangan Yohanes, bukanlah kasih yang berhenti pada kata-kata. Kasih itu bergerak menuju pengorbanan Sang Anak menyerahkan diri agar manusia yang jauh dapat kembali memiliki hubungan dengan Allah.

Salib dan Runtuhnya Kuasa Kegelapan

Yohanes juga melihat salib sebagai titik balik dalam peperangan melawan kuasa dosa dan kejahatan. Dalam 1 Yohanes 3:8 ia menulis bahwa Anak Allah menyatakan diri untuk membinasakan pekerjaan-pekerjaan Iblis.

Bagi Yohanes, dosa bukan sekadar pelanggaran moral. Dosa adalah kekuatan yang memisahkan manusia dari Allah dan menjerumuskan manusia ke dalam ketakutan akan maut. Karena itu, salib menjadi tempat ketika kuasa tersebut dihadapi secara langsung.

Di mata banyak orang saat itu, kematian Yesus tampak seperti kekalahan. Seorang guru dari Nazaret berakhir di kayu salib, ditinggalkan para pengikutnya, dan mengalami penghinaan publik. Namun, bagi Yohanes, justru di situlah kemenangan Allah dinyatakan.

Ketika Yesus mengucapkan Tetelestai, penderitaan itu mencapai penyelesaiannya. Seruan tersebut dipahami sebagai deklarasi bahwa karya penebusan telah digenapi dan kuasa dosa tidak lagi memiliki kata terakhir.

Dari Keterasingan Menuju Persekutuan

Salah satu gagasan penting dalam surat-surat Yohanes adalah tentang persekutuan (koinonia). Dalam 1 Yohanes 1:3, ia menjelaskan tujuan pemberitaannya:

“Supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”
Namun, pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana manusia yang penuh dosa dapat kembali mendekat kepada Allah yang kudus?

Bagi Yohanes, jawabannya terletak pada salib. Jalan menuju persekutuan itu terbuka karena Yesus terlebih dahulu mengalami keterpisahan yang paling dalam. Ia menanggung hukuman dosa agar manusia tidak mengalami keterpisahan kekal dari Allah.

Melalui pengorbanan Kristus, Yohanes melihat adanya perubahan besar: manusia yang sebelumnya hidup dalam kegelapan dipanggil untuk berjalan dalam terang. Darah Kristus yang menyucikan dosa menjadi simbol pemulihan hubungan antara manusia dan Pencipta.

Tetelestai dan Berakhirnya Ketakutan

Bagi Yohanes, salib tidak berakhir pada kematian. Salib membawa manusia menuju kehidupan baru. Ia menulis bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

Seruan Tetelestai menjadi gambaran tentang sebuah karya yang telah selesai: tidak ada lagi penghalang yang tidak dapat dijembatani, tidak ada lagi tuduhan dosa yang menjadi akhir perjalanan manusia, dan tidak ada lagi jarak yang tidak dapat dipulihkan.

Karena Allah telah lebih dahulu mengasihi manusia, Yohanes kemudian mengarahkan umat percaya untuk meneruskan kasih tersebut kepada sesama. Salib bukan hanya peristiwa yang dikenang, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih.

Pada akhirnya, kisah Golgota menurut kesaksian Yohanes adalah kisah tentang pertukaran yang agung: Kristus menanggung penderitaan agar manusia menerima pemulihan; Ia mengalami kesunyian agar manusia memperoleh persekutuan; Ia menyerahkan hidup agar manusia menemukan kehidupan.

Di bawah bayangbayang kayu salib, seruan Tetelestai tetap bergema sebagai pesan tentang kasih yang dianggap telah menyelesaikan seluruh karya penebusan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *