Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

PBI Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya

×

PBI Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

PBI Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya

Example 300x600

 

SUKABUMI, 10 AGUSTUS 2026 —

 

Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) menggelar acara bakti sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap korban musibah kebakaran di kawasan permukiman adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

 

Dua pekan setelah musibah tersebut, PBI datang langsung menemui warga dan menyalurkan berbagai bantuan, antara lain pakaian layak pakai untuk anak-anak dan remaja, kebaya untuk ibu-ibu, obat-obatan dari Kementerian Kesehatan, serta perlengkapan pendidikan bagi anak-anak PAUD yang fasilitas belajarnya terbakar habis.

“Kami sangat prihatin melihat kondisi saudara-saudara kita di Kasepuhan Ciptamulya ini. Sebanyak 52 rumah terbakar habis akibat korsleting listrik 25 Juli 2026. Mereka terpaksa mengungsi dan menumpang tidur di rumah warga di kampung-kampung sekitarnya,” ujar Rahmi Hidayati, Ketua Umum PBI yang sebelumnya sudah berkali-kali berkunjung ke Kasepuhan tersebut.

Salah satu hal yang membuat PBI sepenuh hati menyalurkan bantuan adalah kondisi dimana ibu-ibu disana selalu berkebaya sebagai pakaian sehari-hari. Donasi pakaian sudah banyak yang mereka terima, tetapi jarang sekali menemukan kebaya. Oleh karena itu, bantuan kebaya dari berbagai cabang PBI membuat para ibu Ciptamulya merasa bahagia.

“Ratusan kebaya yang kami bawa ini berasal dari teman-teman PBI Jakarta, Bogor, Sukabumi, Tangerang Raya dan Grobogan. Mudah-mudahan segera menyusul dari teman-teman Cabang PBI lainnya. Kampung Adat memang harus dibangun kembali, pelestarian budaya berkebayanya jangan hilang,” kata Rahmi seraya menjelaskan bahwa aneka kebaya yang diserahkan menunjukkan keberagaman model seperti kebaya Kutubaru, Kartini, Janggan, Encim, Laboh, dan Basiba.

PBI berharap ketika kampung ini dibangun kembali, budaya dan tradisi yang sudah diwariskan leluhur tetap dipertahankan. Ibu-ibu tetap mengenakan kebaya dan bapak-bapak tetap memakai ikat kepala atau pangsi. Jangan sampai musibah ini membuat identitas budaya masyarakat Ciptamulya ikut hilang.

Warga Butuh Obat, Fasilitas PAUD & MCK
Selain menyerahkan kebaya sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa, PBI juga menggelar pemeriksaan kesehatan yang dipimpin dr. Isabella Koraag. Obat-obatan, vitamin, dan masker yang dibagikan berasal dari Kementerian Kesehatan yang kerap kali mendukung kegiatan sosial PBI ke desa-desa terpencil.

PBI juga menyalurkan bantuan berupa peralatan sekolah PAUD yang ikut terbakar habis. Bantuan berasal dari PT. Gajah Tunggal Tbk. Berupa meja dan peralatan belajar, aneka mainan yang menjadi pegangan anak-anak di sekolah, tempat minum, aneka biskuit, pakaian anak dan lain-lain. PBI berharap anak-anak tetap tabah dan dapat segera kembali menjalani kehidupan secara normal.

Kepala Desa Cipta Mulya, Jaro Iwan, menyampaikan apresiasi atas kepedulian PBI Pusat yang datang langsung memberikan bantuan kepada warga. Ia mengatakan berbagai bentuk bantuan yang diberikan sangat berarti bagi masyarakat yang masih menjalani proses pemulihan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan dan bantuan dari para pengurus PBI. Apapun bentuk bantuannya, kami terima dengan senang hati,” ujar Jaro Iwan.

Menurutnya, kebutuhan warga paska kebakaran masih cukup banyak. Selain pakaian dan kebutuhan sehari-hari, masyarakat juga membutuhkan fasilitas dasar untuk mendukung kehidupan di kawasan permukiman terutama fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). PBI berharap kebutuhan tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak sehingga proses pemulihan masyarakat dapat berjalan lebih cepat.

Bagi PBI, Kasepuhan Ciptamulya bukan hanya sebuah kawasan permukiman, tetapi juga komunitas adat yang menyimpan kekayaan budaya Sunda. Tradisi gotong-royong, pertanian, penghormatan terhadap alam, serta berbagai ritual adat masih dipertahankan secara turun-temurun. Karena itu, PBI berharap pembangunan kembali Cipta Mulya dapat dilakukan dengan semangat memulihkan kehidupan sekaligus mempertahankan identitas budaya.

“Kami ingin Cipta Mulya bangkit kembali. Rumah dan fasilitasnya dibangun, anak-anak kembali belajar, tetapi budayanya juga tetap hidup. Ibu-ibu berkebaya, bapak-bapak memakai pangsi, dan anak-anak mengenal serta bangga terhadap budaya leluhurnya,” ujar Rahmi. ***

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *