ILUNI SIL UI dan IDN Global Gelar FGD Terintegrasi FEW Nexus: Solusi Strategi Program dan Rencana Aksi Nasional untuk Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Menuju Indonesia Emas 2045.
Jakarta, Gramediapost.com
Jakarta – Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI) bersama Indonesian Diaspora Network (IDN) Global menggelar Focus Group Discussion (FGD) Terintegrasi FEW Nexus bertajuk “Solusi Strategi Program dan Rencana Aksi Nasional untuk Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Menuju Indonesia Emas 2045” di Kompleks Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan akademisi, pemerintah, diaspora Indonesia, pakar lingkungan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, krisis energi, serta pengelolaan sumber daya air sebagai fondasi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua ILUNI SIL UI, Dr. Andre Notohamijoyo, S.Sos., MSM, menegaskan bahwa tantangan global tidak lagi dapat diselesaikan secara sektoral. Menurutnya, isu pangan, energi, dan air merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Kita membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah, masyarakat, dan diaspora Indonesia di berbagai negara untuk bersama-sama memberikan solusi terbaik bagi masa depan bangsa,” ujarnya.
Andre juga menyampaikan apresiasi kepada ekonom senior Prof. H. Emil Salim yang selama puluhan tahun konsisten menjadi inspirasi dalam pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Sementara itu, Presiden Indonesian Diaspora Network (IDN) Global, Nathalia Widjaja, menegaskan bahwa diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia memiliki komitmen kuat untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Menurut Nathalia, tantangan menuju Indonesia Emas 2045 semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, krisis energi hingga pengelolaan sumber daya air. Oleh karena itu, pendekatan Food-Energy-Water (FEW) Nexus menjadi solusi yang harus dikembangkan secara terintegrasi.
“Tiga elemen utama yaitu pangan, energi, dan air merupakan fondasi kehidupan yang saling berkaitan. Karena itu dibutuhkan solusi yang terintegrasi melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa, termasuk diaspora Indonesia di berbagai negara,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa FGD ini diikuti diaspora Indonesia dari Hong Kong, Taiwan, Meksiko, Qatar, Australia, Swiss, Belanda, dan sejumlah negara lainnya, baik secara luring maupun daring.
Nathalia berharap hasil diskusi tidak berhenti sebagai kajian akademik semata, tetapi diwujudkan dalam bentuk policy brief dan rekomendasi kebijakan yang dapat disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia sebagai masukan strategis menuju Indonesia Emas 2045.
Pada kesempatan yang sama, ekonom senior sekaligus pelopor pembangunan berwawasan lingkungan Indonesia, Prof. H. Emil Salim, mengingatkan bahwa dunia tengah menghadapi krisis pangan, energi, dan air akibat dampak perubahan iklim global.
Menurutnya, perubahan pola cuaca dan curah hujan telah meningkatkan ketidakpastian produksi pangan serta pengelolaan sumber daya air. Namun, solusi atas tantangan tersebut bukanlah rasa takut, melainkan penguatan ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi.
“Jawaban atas tantangan tersebut bukanlah rasa takut, melainkan penguatan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Para ilmuwan memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan solusi agar bangsa ini mampu menghadapi perubahan iklim,” tegas Prof. Emil Salim.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam, wilayah laut yang luas, tanah yang subur, serta sumber daya manusia yang harus terus ditingkatkan kualitasnya agar mampu menjadi bangsa yang unggul dalam inovasi dan ilmu pengetahuan.
“Menuju Indonesia Emas 2045, kita harus terus belajar, berkolaborasi, dan bekerja keras agar Indonesia menjadi negara maju yang disegani dunia,” pesannya.
Ketua Pelaksana FGD Terintegrasi FEW Nexus, Kolonel Laut Samuel Finley Panggabean, menegaskan bahwa pendekatan FEW Nexus merupakan kebijakan strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional secara terpadu.
Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan, energi, dan air merupakan tiga pilar utama yang saling berkaitan sehingga memerlukan perencanaan yang terintegrasi, kolaboratif dan sustainable.
“Melalui FGD ini, kami ingin menghimpun ide, gagasan, serta sumber daya untuk memperkuat kolaborasi lintas kementerian, akademisi, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan guna merumuskan strategi serta rencana aksi nasional yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Samuel.
Ia berharap hasil diskusi dapat menjadi rekomendasi strategis bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang adaptif, inovatif, sustainable dan berorientasi pada ketahanan nasional sehingga mampu menjamin ketersediaan pangan, energi, dan air bagi generasi mendatang.
Melalui FGD Terintegrasi FEW Nexus ini, ILUNI SIL UI dan IDN Global berharap terbangun system dan sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, akademisi, diaspora Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan, energi, dan air sebagai pilar utama pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.



















