Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

IKN Harus Aman dan Dapat Dioperasikan, Bukan Sekadar Indah: Catatan Maret Samuel Sueken, A.Md.T., B.Sc.Eng., CGOP, QRGP, CGRCEO

×

IKN Harus Aman dan Dapat Dioperasikan, Bukan Sekadar Indah: Catatan Maret Samuel Sueken, A.Md.T., B.Sc.Eng., CGOP, QRGP, CGRCEO

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

IKN Harus Aman dan Dapat Dioperasikan, Bukan Sekadar Indah: Catatan Maret Samuel Sueken, A.Md.T., B.Sc.Eng., CGOP, QRGP, CGRCEO

 

Example 300x600

Jakarta — Minggu (28/06/2026)

 

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah Proyek Strategis Nasional yang menjadi simbol Indonesia masa depan. Konsep _green city_, _smart city_, serta pemanfaatan utilitas bawah tanah melalui Multi Utility Tunnel (MUT) dan Single Utility Tunnel (SUT) merupakan langkah maju yang patut diapresiasi.

Namun, keberhasilan IKN tidak bisa diukur hanya dari desainnya yang megah. Sebuah kota modern harus aman, andal, mudah dioperasikan, mudah dipelihara, dan cepat pulih ketika terjadi gangguan.

Penegasan itu disampaikan Ketua Umum Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP), Maret Samuel Sueken, setelah meninjau langsung infrastruktur kelistrikan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN pada 13 Juni 2026.

“Saya tegaskan, tulisan ini bukan untuk mencari kesalahan atau menyalahkan pihak mana pun. Ini bentuk kepedulian agar penyempurnaan dilakukan sedini mungkin, sehingga IKN menjadi contoh infrastruktur modern yang aman, andal, dan berkelanjutan,” ujar Maret, Senin 30 Juni 2026.

*Temuan Lapangan: MUT Terendam Lumpur dan Lumpur*

Multi Utility Tunnel (MUT) adalah koridor utilitas bersama yang menampung kabel listrik 20 kV, jaringan telekomunikasi, air bersih, hingga air limbah.

Hasil peninjauan menunjukkan beberapa segmen MUT tergenang air dan dipenuhi endapan lumpur. Di sejumlah titik, air dan lumpur bahkan sudah mencapai permukaan lantai akses. Padahal kedalaman koridor mencapai sekitar empat meter.

“Kondisi ini harus jadi perhatian serius. Risikonya tidak hanya mengganggu instalasi kelistrikan,” kata Maret.

Bahaya terbesar muncul karena MUT dipakai bersama oleh lintas operator. Di dalam satu koridor ada jaringan listrik tegangan menengah 20 kV yang berisiko tinggi jika terjadi gangguan, apalagi dengan kondisi air dan lumpur.

Petugas PLN sudah terikat prosedur keselamatan ketat. Tapi personel utilitas lain, seperti teknisi telekomunikasi, air bersih, atau air limbah, bisa masuk kapan saja tanpa mengetahui kondisi keseluruhan sistem di dalam MUT.

“Jika terjadi gangguan isolasi di ruang tertutup sedalam empat meter, risiko sengatan listrik dan kesulitan evakuasi menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi,” jelasnya.

Karena itu, Maret menilai MUT harus diperlakukan sebagai _Critical Utility Infrastructure_. Pengelolaannya perlu _Integrated Utility Safety Management System_ yang mencakup izin masuk terintegrasi, koordinasi lintas utilitas, informasi kondisi real-time, prosedur tanggap darurat bersama, dan pengendalian keselamatan sebelum personel masuk.

“Tujuannya bukan hanya menjaga keandalan infrastruktur, tapi yang paling penting adalah mencegah kecelakaan kerja serius dan korban jiwa sebelum terjadi,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan IKN bukan hanya soal infrastruktur yang selesai dibangun, tetapi juga soal jaminan negara bahwa setiap orang bisa bekerja dengan aman. “Keselamatan harus jadi indikator utama keberhasilan, bukan target yang baru diingat setelah kecelakaan terjadi,” ujarnya.

*Akses Gardu Induk dan Gardu Hubung Terhalang Semak*

Temuan kedua adalah akses menuju Gardu Induk (GI) dan Gardu Hubung (GH), tulang punggung distribusi listrik di KIPP.

Saat meninjau salah satu lokasi, Maret harus melewati pagar pembatas jalan utama dan berjalan melewati area bersemak untuk mencapai gardu.

“Ini bukan persoalan operasional PLN. Ini terkait perencanaan kawasan yang belum mengintegrasikan kebutuhan utilitas sejak tahap desain,” ujarnya.

Dalam dunia rekayasa, ada empat prinsip dasar yang harus dipenuhi: _accessibility_ agar mudah dijangkau, _constructibility_ agar mudah dibangun dan diganti, _maintainability_ agar mudah dipelihara, dan _operability_ agar mudah dipulihkan saat gangguan.

“Jika akses GI dan GH tidak memadai, inspeksi, pemeliharaan, hingga pemulihan sistem saat gangguan akan melambat. Dalam kelistrikan, keterlambatan itu bisa mengganggu pelayanan ke fasilitas strategis negara,” kata Maret.

*Momentum Perbaikan Sebelum Beroperasi Penuh*

Menurut Maret, temuan ini justru menjadi momentum untuk menyempurnakan IKN selagi masih dalam tahap pembangunan.

JPKP merekomendasikan lima langkah: mengevaluasi sistem drainase dan operasional MUT, membangun sistem keselamatan lintas utilitas dengan mekanisme izin masuk, memastikan GI dan GH memiliki akses permanen, mengevaluasi kembali empat prinsip rekayasa pada infrastruktur strategis, dan memperkuat koordinasi lintas instansi untuk utilitas bawah tanah.

“Kami yakin masukan ini adalah bentuk dukungan. Jangan menunggu kecelakaan besar baru diperbaiki. Risiko harus dikenali dan diselesaikan sejak sekarang,” pungkasnya.

“IKN adalah warisan besar bangsa Indonesia. Karena itu ia harus menjadi kota yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga aman, andal, mudah dioperasikan, dipelihara, dan melayani pemerintahan serta masyarakat secara berkelanjutan selama puluhan tahun ke depan,” tutup Maret.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…