AIPI, Komisi EAT-Lancet, dan Mitra Tekankan Pentingnya Planetary Health Diets dan Transformasi Sistem Pangan Indonesia lewat Laporan EAT-Lancet 2025
JAKARTA, 18 Mei 2026 –
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama Komisi
EAT-Lancet meluncurkan Laporan EAT-Lancet 2025 di Indonesia. Laporan ini merupakan
pembaruan dari laporan asli yang telah disusun pada 2019.
Dalam laporan terbaru, sebanyak
76 akademisi bidang pangan dan gizi dari lebih dari 30 negara memperbarui basis ilmiah bagi
para pelaku sistem pangan untuk bersama-sama mendorong transformasi sistem pangan di
Indonesia. Laporan ini mengkuantifikasi target pola makan yang sehat, batas aman pangan dalam sistem Bumi, serta fondasi sosial dari sistem pangan yang berkeadilan.
Dalam paparannya, Prof. Dr. dr. Rina Agustina, M.Gizi menyoroti tantangan sistem pangan
Indonesia, mulai dari anemia dan defisiensi mikronutrien hingga meningkatnya konsumsi
ultra-processed food (UPF). Ia juga menekankan pentingnya penerapan planetary health diet
(PHD). “Di Indonesia, prevalensi stunting memang menurun, tetapi anemia dan defisiensi
mikronutrien masih mengkhawatirkan. Hanya separuh populasi Indonesia yang mampu
memenuhi kebutuhan diet dan nutrisi ideal, sementara konsumsi makanan tinggi sodium dan
makanan ultra proses terus meningkat. Karena itu, PHD menjadi penting sebagai pola makan fleksibel yang dapat mendukung kesehatan manusia sekaligus keberlanjutan lingkungan,”ujarnya.
Sementara itu, Dr. Shakuntala H. Thilsted selaku Co-Chair EAT-Lancet, menegaskan
pentingnya keadilan dalam transformasi sistem pangan.
“Peralihan menuju PHD perlu dilakukan secara adil, karena transformasi sistem pangan tidak boleh mengabaikan kelompok marjinal, petani, masyarakat miskin, dan masyarakat adat yang juga menjadi bagian penting dari sistem pangan itu sendiri,” ujarnya.
Terkait komitmen pemerintah, Dwi Puspasari – Plt Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan, menyampaikan, “Transformasi sistem pangan tidak
dapat dilakukan oleh satu sektor saja, diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan
kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, perdagangan, dan berbagai sektor lainnya. Penguatan
pangan dan gizi harus didasarkan pada sains dan pendekatan yang inklusif. Forum ini menjadi
ruang penting untuk membangun diskusi menuju sistem pangan yang lebih sehat, tangguh, dan
berkeadilan karena investasi pada pangan sehat adalah investasi untuk masa depan generasi
kita.”
Selain paparan dan diskusi panel, tujuh perwakilan pemerintah, swasta, masyarakat sipil, dan
akademisi mendeklarasikan komitmennya untuk mendorong terciptanya sistem pangan yang
sehat, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi manusia, alam, dan iklim. Poin-poin penting dalam
deklarasi tersebut adalah:
● Kolaborasi multisektor yang melibatkan pemerintah (Kementerian Kesehatan dan
Bappenas), akademisi (Universitas Indonesia dan UGM), industri, serta organisasi masyarakat sipil (GAIN, CISDI, KSPL/FOLU Indonesia) dalam percepatan solusi pangan.
● Penciptaan akses yang adil dan terjangkau dengan menekankan pola makan sehat
dan berkelanjutan sebagai kondisi yang terjangkau bagi setiap rakyat Indonesia tanpa memandang tingkat ekonomi.
● Pemanfaatan inovasi digital lewat teknologi yang dapat mendukung perubahan
perilaku pola makan berkelanjutan.
Mewakili organisasi masyarakat sipil, Romauli Panggabean, Knowledge Generation Lead
Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL)/FOLU Indonesia, menegaskan dalam sesi konferensi
pers, “KSPL percaya bahwa transformasi sistem pangan hanya bisa terjadi dengan kolaborasi
multipihak. Sejak 2020, KSPL telah mempertemukan lebih dari 30 mitra, mulai dari pemerintah,
sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil. Pendekatan berbasis kolaborasi multipihak
inilah yang kami yakini relevan untuk dapat mengoptimalkan rekomendasi-rekomendasi dari
laporan EAT-Lancet 2025 di tingkat nasional.”
Menutup rangkaian acara peluncuran, Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI, Prof. Dr.
Herawati Supolo-Sudoyo, menegaskan kembali urgensi dari data ilmiah yang dipaparkan,
“Indonesia saat ini berada dalam tarik-menarik yang berat menghadapi triple burden of
malnutrition.
Di satu sisi, kita masih berjuang mengangkat anak-anak kita keluar dari stunting, sementara kita juga menghadapi peningkatan cepat kelebihan berat badan, obesitas, dan penyakit tidak menular terkait pola makan. Ini bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis
pembangunan yang semakin diperburuk oleh perubahan iklim yang semakin tidak menentu.”
Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk menyusun policy brief sebagai langkah tindak
lanjut bagi pemerintah dalam mengimplementasikan rekomendasi EAT-Lancet 2025 di tingkat daerah maupun nasional, bahwa makanan sehat tidak boleh menjadi kemewahan. Sistem
pangan harus dibangun agar setiap orang, tanpa memandang tingkat ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat.
Akses Laporan EAT-Lancet 2025 di sini, dan materi para pembicara di sini.
****
Tentang EAT-Lancet Commission
Sebuah badan ilmiah global yang bertujuan menyelaraskan target kesehatan manusia dengan keberlanjutan HCCplanet melalui transformasi sistem pangan dunia.
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
X : AIPI_id
YouTube : AIPI_Indonesia
Kontak Media: humas@aipi.or.id
Tentang Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL)/FOLU Indonesia
Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) merupakan bagian dari komunitas global Food and Land Use Coalition (FOLU) yang bekerja dengan para mitra internasional, nasional, dan lokal dalam mendorong transformasi
sistem pangan dan tata guna lahan.
Indonesia merupakan salah satu negara pelopor dari inisiatif ini, bersama Brasil, Cina, Etiopia, India, Kenya, dan Kolombia. KSPL terdiri dari 11 mitra, yaitu: CIFOR-ICRAF, CIPS, GAIN,Garda Pangan, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, IBCSD, Yayasan Kehati, KRKP, Parongpong RAW Lab, Systemiq, dan WRI Indonesia.



















