Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Guru Besar Komunikasi Politik dari London School of Public Relations, Prof. Leli Aryani: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Dinamika Politik Berubah menjadi Sistem yang lebih Terkondisikan.

×

Guru Besar Komunikasi Politik dari London School of Public Relations, Prof. Leli Aryani: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Dinamika Politik Berubah menjadi Sistem yang lebih Terkondisikan.

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Guru Besar Komunikasi Politik dari London School of Public Relations, Prof. Leli Aryani: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Dinamika Politik Berubah menjadi Sistem yang lebih Terkondisikan.

 

Example 300x600

Jakarta, Gramediapost.com

 

Guru Besar Komunikasi Politik dari London School of Public Relations, Prof. Leli Aryani, menilai demokrasi di Indonesia saat ini cenderung bergerak ke arah demokrasi prosedural, di mana proses politik dinilai semakin dikendalikan oleh sistem dan kekuatan partai politik.

Dalam sebuah diskusi kebangsaan di Jakarta, Prof. Leli mengatakan semangat reformasi yang dulu membuka ruang kebebasan berpendapat kini mulai mengalami kemunduran. Menurutnya, dinamika politik yang sempat hidup pada awal reformasi perlahan berubah menjadi sistem yang lebih terkondisikan.

“Di awal reformasi masyarakat bisa bersuara lebih bebas, parlemen hidup dengan perdebatan-perdebatan terbuka. Namun sekarang demokrasi terasa semakin prosedural karena banyak hal sudah diatur oleh sistem politik,” ujarnya.

Akademisi dari LSPR Institute of Communication and Business itu menegaskan bahwa hak memilih secara langsung masih menjadi ruang penting bagi rakyat untuk menentukan masa depan politik bangsa.

Karena itu, ia mengingatkan agar hak tersebut tidak dikurangi atau dikendalikan oleh kepentingan elite tertentu.

Menurutnya, masyarakat perlu mempertahankan kesadaran politik agar tidak mudah terjebak pada praktik politik transaksional yang hanya menguntungkan segelintir kelompok.

“Rakyat harus tetap memiliki hak untuk memilih secara langsung. Jangan sampai demokrasi hanya menjadi formalitas tanpa makna,” katanya.

Prof. Leli juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “inflasi pejabat”, yakni kondisi ketika banyak pejabat menduduki posisi strategis tanpa latar belakang kompetensi yang sesuai. Ia menilai hal itu terjadi karena kuatnya hubungan patronase dan kedekatan politik dalam proses rekrutmen elite.

“Kita membutuhkan pemimpin yang merekrut orang berdasarkan kualitas, kapasitas, dan integritas, bukan hanya karena relasi atau kedekatan politik,” tegasnya.
Selain itu, ia menilai Indonesia tengah mengalami krisis negarawan dan melemahnya pendidikan karakter kebangsaan. Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan harus kembali diperkuat sejak dini agar lahir generasi pemimpin yang memiliki komitmen terhadap bangsa dan negara.
Prof. Leli juga mengajak masyarakat sipil, penggiat demokrasi, serta organisasi non-pemerintah untuk terus meningkatkan pendidikan politik masyarakat agar kesadaran kolektif tetap terbangun.

Meski mengakui situasi demokrasi saat ini penuh tantangan, ia tetap optimistis Indonesia masih memiliki peluang untuk melahirkan kepemimpinan yang lebih baik di masa depan.
“Saya tetap percaya selalu ada harapan. Suara rakyat mungkin kecil, tetapi ketika terus disuarakan, itu bisa menjadi kekuatan perubahan,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *