Aktivis KAHMI Pare-pare Rahman Saleh: Masa Depan Demokrasi Indonesia Semakin Gelap, Perlu Revolusi Damai
Jakarta, Gramediapost.com
Aktivis Rahman Saleh menyoroti persoalan penegakan hukum dan kondisi demokrasi Indonesia dalam sebuah diskusi publik yang membahas berbagai isu nasional, mulai dari kasus hukum yang melibatkan tokoh publik hingga arah demokrasi ke depan.
Rahman Saleh, yang berasal dari KAHMI Kota Parepare, Sulawesi Selatan, mengungkapkan bahwa dirinya aktif memantau sejumlah kasus yang dinilai menjadi perhatian masyarakat, termasuk persoalan dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo serta kasus yang menyeret nama Jusuf Kalla (JK).
“Saya sejak tahun lalu mengikuti perkembangan kasus ijazah palsu Jokowi. Saya bahkan datang ke Solo dan UGM bersama teman-teman dari Aliansi Rakyat Menggugat dan KMPRI untuk memantau langsung perkembangan persoalan ini,” ujarnya.
Ia juga mengaku hadir dalam agenda di kejaksaan terkait desakan eksekusi perkara yang disebut telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah. Menurutnya, lambannya penyelesaian kasus tersebut menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia.
“Kalau tokoh seperti Pak JK saja bisa dipermainkan dalam proses hukum, bagaimana dengan masyarakat biasa. Ini menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum kita,” katanya.
Rahman menilai berbagai kasus yang belum terselesaikan tidak lepas dari adanya pengaruh kekuasaan. Ia menyebut persoalan hukum di Indonesia saat ini bukan sekadar “no viral no justice”, tetapi juga terkait perhatian dan kepentingan elite kekuasaan.
Menurutnya, masyarakat sipil, NGO, dan berbagai elemen gerakan sosial perlu memperkuat solidaritas untuk menjaga keadilan dan demokrasi di Indonesia.
“Kita harus membangun kebersamaan di antara civil society untuk menegakkan keadilan dan kebenaran,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rahman juga menyampaikan pandangannya terkait masa depan demokrasi Indonesia. Ia mengaku pesimis terhadap kondisi demokrasi ke depan apabila praktik kekuasaan dan oligarki terus dibiarkan berkembang.
“Kita semakin pesimis. Demokrasi dan ekonomi bisa semakin rusak jika tidak ada kontrol dan kepedulian bersama,” katanya.
Ia mengibaratkan kondisi politik saat ini seperti “keluar dari mulut buaya masuk ke harimau”, sebagai bentuk kekhawatiran terhadap arah pemerintahan dan kondisi bangsa di masa mendatang.
Meski demikian, Rahman tetap berharap ada kesadaran kolektif masyarakat untuk melakukan perubahan secara damai dan cerdas melalui semangat kebersamaan.
“Perubahan harus dilakukan dengan revolusi yang cerdas, bukan sekadar emosi. Harus ada kesadaran kolektif untuk memperbaiki bangsa ini,” tegasnya.
Rahman juga menyinggung reformasi 1998 yang menurutnya banyak ditunggangi “penumpang gelap”, sehingga sejumlah pihak yang dahulu memperjuangkan reformasi justru tersingkir dari kekuasaan.
Di akhir pernyataannya, ia berharap Presiden terpilih Prabowo Subianto dapat mendengarkan aspirasi rakyat dan menjaga stabilitas demokrasi Indonesia.
“Harapan rakyat hari ini ada pada Pak Prabowo agar bisa melakukan perenungan dan menjaga harapan masyarakat terhadap demokrasi dan masa depan bangsa,” tutup Rahman Saleh.



















