Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Suara Mahasiswa Kristen Indonesia Untuk Perdamaian

×

Suara Mahasiswa Kristen Indonesia Untuk Perdamaian

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, Suarakristen.com

 
Hati-hati Bahaya Laten Intoleransi
 
Peningkatan tensi anti keberagaman di Indonesia sudah mengarah pada kondisi yang mencemaskan. Kondisi ini seharusnya dapat dipetakan dan dicegah oleh lembaga negara yang bertanggung jawab terhadap masalah keamanan dan kedamaian.
 
Namun, fenomena yang muncul menandakan kemandulan dari lembaga negara yang bertanggung jawab untuk persoalan di atas. Baik level terbawah sebagai pengumpul informasi dan pendeteksi dini, level menengah sebagai penyampai informasi dan pengambil tindakan perventif hingga ke level atas sebagai pengatur kebijakan sekaligus penanggung jawab penuh.
 
Ada dugaan, informasi dan deteksi dini tidak berjalan dengan baik sehingga setiap aksi yang ingin mengganggu ketentraman di tanah air ini dapat berjalan mulus. Walau Negara terus melakukan kampanye Indonesia adalah negara toleran, namun rakyat tertindas tidak setuju karena kondisi di lapangan justru bertolak belakang.
 
Bom Anak di Samarinda
Minggu, 13 November 2016

Example 300x600

Terorisme di Samarinda mengakibatkan korban 4 orang anak, Intan Olivia Banjarnahor (meninggal dunia), Triniti Hutahean, Alfaro Tristan Sinaga dan Anita Sitohang. Ketiganya mengalami luka bakar yang serius. Pelaku yang bernama Juhanda telah tinggal selama 2 tahun, tidak jauh dari tempat terjadinya peledakan bom.
 
Laporan tim yang dibentuk oleh Pengurus Pusat GMKI menyampaikan, bahwa ada kelemahan pada sistem Polri dan TNI. Sistem tidak berjalan dengan baik, fungsi Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Pos polisi yang bertugas sebagai pendeteksi dini tidak mampu mencegah terjadinya peristiwa ini. 
 
Teror Molotov di Singkawang
Senin, 14 November 2016

Walau tidak menimbulkan korban separah di Samarinda, teror kepada umat beragama di Singkawang, berhasil dilakukan. Keberhasilan kelompok masyarakat yang ingin negara ini menuju krisis perang saudara hampir berhasil akibat sistem pencegahan yang tidak berjalan. Lagi-lagi lembaga negara yang bertanggung jawab lalai dan tidak waspada. 
 
Pengusiran Perayaan Natal di Gedung Sabuga ITB, Bandung
Senin, 6 Desember 2016

Laporan tim yang diterjunkan Pengurus Pusat GMKI menyebutkan, pergerakan massa yang menamakan dirinya Pembela Ahlus Sunnah (PAS), dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jundullah, FUUI, FPI, KPUB dan API. Kebanyakan massa berasal dari Kabupaten Bandung Barat. Selain itu juga, laporan tim menyebutkan bahwa Polisi ikut serta memberi tekanan kepada panitia penyelenggara untuk segera membubarkan acara perayaan natal, sebagaimana tuntutan dari kelompok masyarakat tersebut. 
 
Teror FUI di Universitas Kristen Duta Wacana di Jogjakarta
Selasa, 7 Desember 2016

Kehadiran Forum Umat Islam di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dengan tuntutan meminta humas kampus menurunkan baliho kampus yang di dalamnya ada gambar mahasiswi-mahsiswi berhijab, walaupun kampus tersebut menrima mahasiswa tanpa membedakan agama. FUI menganggap gambara pada baliho yang memperlihatkan mahasiswi berjilbab dapat mneyesatkan umat Islam. 
FUI juga memberi ancaman kepada pihak kampus, apa bila tuntutannya tidak dipenuhi akan mengahdirakan masssa yang lebih besar dan massive. Aksi penolakan FUI ini sehari setelah penolakan yang terjadi di bandung.
 
Keempat kasus di atas hanya contoh dari beberapa kasus yang sangat sering terjadi. Seharusnya berbagai persoalan ini bisa dicegah dengan kayanya sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang dimiliki oleh lembaga negara. Jika kondisi ini terus terjadi, krisis perang saudara di negeri ini dengan cepat akan kembali terjadi seperti beberapa tahun lalu (2000-2002). 
Untuk itu kami Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) menyampaikan :
 
Pertama, GMKI dan seluruh mahasiswa Kristen Indonesia selalu berkomitmen terhadap NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 dan akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa. Mengajak kepada seluruh mahasiswa Kristen Indonesia untuk tetap teguh dan selalu menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan sesama warga negara tanpa tersekat oleh latar belakang suku, agama, ras, dan golongan.
Kedua, menyesalkan negara yang melakukan pembiaran terhadap kelompok intoleran yang melakukan penindasan dengan menggerakkan massa. 
Ketiga, Melarang warga negara melakukan peribadatan sesuai hak pemeluk agama merupakan penistaan kepada UUD 1945 dan semangat awal berdirinya Republik ini.
Keempat, Pemerintah harus segera mengevaluasi kinerja Kapolsek, Kapolres, dan Kapolda terkait sekaligus mendeteksi dan memecat perwira ataupun pejabat negara setingkat madya yang ikut terlibat maupun lalai dalam menjalankan tugas. 
Kelima, fungsi lembaga intelijen di setiap daerah sering sekali kalah cepat dalam mengantisipasi dan menangani potensi serta ancaman konflik horizontal yang terjadi di tengah masyarakat.
Keenam, menjelang hari Natal akan banyak perayaan yang dilakukan. Untuk itu, meminta GMKI di seluruh Indonesia untuk ikut berpartisipasi menjaga ketenteraman serta menekan pemerintahan setempat agar serius melakukan pencegahan dan pengamanan peribadatan.
Ketujuh, pemerintah Republik Indonesia harus menjaga mukanya di hadapan dunia Internasional dengan tidak boleh kalah pada tekanan massa yang intoleran. Karena kita adalah negara hukum yang berpegang pada Undang-Undang serta berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar.
Kedelapan, menilai pemerintah takut menindak tegas lembaga serta ormas radikal dan  intoleran yang ingin merusak tatanan bangsa yang sudah terbangun selama ini. 
Kesembilan, menyerukan kepada seluruh mahasiswa kristen di Indonesia untuk terus menjaga nilai-nilai ke-bhineka tunggal ika-an dengan menjalin komunikasi efektif dengan elemen bangsa yang lain, antara lain Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Masyarakat Indonesia harus bersatu dan tidak diam terhadap tindakan intoleran sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan agama.
Kesepuluh, mendesak pemerintah untuk mencabut Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah, karena lembaga-lembaga tersebut dalam prakteknya tidak berfungsi bahkan sangat diskriminatif terhadap kelompok tertentu, misalnya peristiwa Aceh Singkil, Manokwari, Bogor, Bekasi, dan lain-lain.
 
Dalam pandangan kami, permasalahan ini adalah “gerbang masuk” untuk kelompok-kelompok yang ingin meruntuhkan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa Indonesia. Pemerintah tidak boleh diam dan menunggu masalah ini menjadi fenomena bola salju, karena rakyat yang tertindas tidak akan diam apabila terlalu lama merasakan ketidakadilan dan penindasan yang berlarut-larut.
 
Jakarta, 07 Desember 2016

Teriring salam dan doa,
Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
 
Sahat Martin Philip Sinurat
Ketua Umum
Alan Christian Singkali
Sekretaris Umum
 
Alamat Sekretariat, Jalan Salemba Raya No 10, Jakarta Pusat
contact person:
Sahat : 085221272791
Alan: 081354892529

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…