Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

PGI dan Aktivis se Asia Menggumuli isu Pekerja Migran, Pengungsi dan Orang-orang Terusir

×

PGI dan Aktivis se Asia Menggumuli isu Pekerja Migran, Pengungsi dan Orang-orang Terusir

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Example 300x600

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

 

“Kasus pekerja migran, pengungsi, dan orang-orang yang terusir merupakan persoalan kemanusiaan dan ketidakadilan yang terjadi di bumi ini. Tercatat 260 juta orang mengalami persoalan tersebut, termasuk di Indonesia. Sebab itu, persoalan ini memang harus menjadi perhatian gereja-gereja bahkan semua orang apa pun agama dan keyakinannya,” demikian diungkapkan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Dr. Albertus Patty, saat membuka kegiatan Interfaith Mission for Solidarity and Service with Migrants, Refugees and Uprooted People di Lt. 3 Grha Oikoumene, Jakarta, (12/10).

 

Sebanyak 50  peserta yang merupakan perwakilan gereja dan LSM pekerja migran dari berbagai negara seperti Indonesia, Pilipina, Banglades, Thailand, Sri lanka, Singapura, dan Hongkong mengikuti kegiatan yang akan berlangsung pada 12-14 September 2018 ini.

 

“PGI sendiri ikut terlibat dalam persoalan ini, seperti kasus Mary Jane Veloso, pekerja migran yang kami yakini ditipu oleh pelaku perdagangan orang  sehingga dia terancam hukuman mati. Kami berusaha membebaskannya  dari hukuman tersebut, bahkan jika bisa membebaskannya dari penjara. Kami juga menggumuli korban-korban perdagangan orang dan pekerja migran yang dieksploitasi majikannya hingga cacat bahkan meninggal, terutama di Nusa Tenggara Timur. Sayangnya juga, di  negara tempat mereka bekerja, mereka juga sering  dikriminalkan,” papar Pdt. Albertus.

 

Selain itu, lanjut Pdt. Albertus, juga kasus jemaat Ahmadiyah di Lombok dan komunitas Syiah di Sampang, Madura, yang diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan imannya . “Ironis, karena mereka harus mengungsi di tanah airnya sendiri oleh kelompok-kelompok tertentu yangintoleran terhadap perbedaan, dan lebih ironis lagi pemerintah lokal justru mendukung tindakan diskriminasi tersebut,” tandasnya.

 

Ketua PGI berharap,  konsultasi ini akan melahirkan kesepakatan-kesepakatan terutama untuk  memperkuat komitmen, kerjasama, jejaring dan  upaya-upaya kemanusiaan lainnya serta mencari solusi-solusi strategis dan berkelanjutan untuk dunia yang lebih baik terutama bagi pekerja migran, pengungsi maupun orang-orang yang terpinggirkan.

 

Sementara itu, mewakili peserta, Pdt. Mariesol Villalon dari Asia Pasific Mission for Migrants (APMM) dalam sambutannya menegaskan,  kasus pekerja migran, perdagangan manusia dan penyelundupan orang, dibantu dan didukung oleh pemerintah pengirim migran, yang menganggap hal itu sebagai program ekspor ketenagakerjaan, dan dianggap sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan. Akibatnya, rakyat miskin rentan terhadap eksploitasi dan pelecehan.

 

Menurut Mariesol, migrasi saat ini terglobalisasi dan bersifat nasionalistis, rasialis dan etnis, meningkatkan diskriminasi rasial dan kebencian di antara orang-orang. Para migran dikriminalisasi, direduksi sekadar pekerja migran berdokumen dan tidak berdokumen.  Migrasi saat ini tidak dapat dipisahkan dari kekhawatiran akan pekerjaan yang layak dan perjuangan untuk mendapatkan upah layak. Pekerjaan yang layak membutuhkan upah layak, sebagai kebutuhan publik global, dengan lingkungan kerja yang aman dan aman.

 

“Pekerja migran adalah manusia. Mereka bukan dokumen atau pemasok devisa dari gaji mereka. Seorang buruh  migran, Leni Lestari dari Aliansi Migran Internasional IMS, mengatakan, “Jangan bicarakan kami tanpa kami.  Kami punya  jawaban dan kami telah menyuarakannya. Para pekerja migran di seluruh dunia secara kolektif berjuang dan berorganisasi untuk mewujudkan impian kami,” jelasnya.

 

Lanjut Mariesol, untuk merespon migrasi paksa dewasa, perlu mendefinisikan kembali misi Kristen dan oikoumenis kita. Dalam terang Injil, karakteristik dan tantangan untuk migrasi saat ini menuntut agar komunitas iman kita dan badan-badan oikoumenis meninjau kembali,  bahkan perlu memeriksa ulang misi gereja dan cara kita mengelola gereja  untuk menggerakkan pelayanannya agar misi  terlihat.

 

“Ini membutuhkan eklesiologi yang mengakui kenekatan umat Allah, baik dalam lingkungan orang-orang yang berkumpul maupun yang tersebar, yang membawa misi gereja, setidaknya melalui migrasi. Ini juga membutuhkan Kristologi yang tidak hanya mengakui karakter multi-agama dari populasi Asia dan diasporanya tetapi juga apa yang membuat tugas penginjilan bermartabat dan berintegritas dalam situasi seperti itu. Missiologi saat ini juga harus memahami bagaimana melakukan misi dalam diaspora majemuk dan beragam, dan dengan cara yang seturut kehendak Tuhan untuk seluruh oikoumene,” katanya.

 

Kegiatan Interfaith Mission for Solidarity and Service with Migrants, Refugees and Uprooted People yang akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, merupakan prakarsa  bersama kelompok agama, lembaga yang melayani migran, advokasi, dan organisasi migran, seperti PGI, National Council Churches of Philipines (NCCP), Kabar Bumi, Migrante International, dan Asia Pasific Mission for Migrants (APMM), untuk mengatasi masalah migrasi paksa dan perdagangan manusia. Kegiatan ini bertujuan memberi kontribusi bagi kampanye global penyelamatan Mary Jane Veloso dan  memperkuat dukungan, jejaring, kerjasama di antara para buruh migran, gereja-gereja dan lembaga oikoumenis dan lainnya, melibatkan organisasi-organisasi di Asia Pasifik dan Timur Tengah untuk mengembangkan  solidaritas dan memberikan layanan kepada buruh migran, pengungsi dan orang-orang yang terusir di Asia.

 

Kegiatan ini merupakan tindak-lanjut setelah Konsultasi Asia tentang Perdagangan Manusia dan Migrasi Paksa: Panggilan untuk Pekerjaan Layak dan Upah Layak di Yangon, Myanmar.

 

Selama workshop, peserta akan sharing mengenai kasus pekerja migran, pengungsi, dan perdagangan manusia, termasuk dari perspektif teologia, yang akan disampaikan oleh para narasumber, yakni  Arman Hernando (Migrante Philippines), Erwina Sulistyaningsih (Kabar Bumi), Mandeep Sigh Bela (UNEMIG), Glorene Amala Das (TENAGANITA, Malaysia), Ronald Rone Samdder (National Council of Churches in Bangladesh), James Thomson (Act for Peace Australia),  Pdt.  Dr. Lintje Pellu (PGI), Mervin Sol H. Toquero (Churches Witnessing with Migrant-CWWM), Atty. Josalee Deinta (National Union of People’s Lawyer), Atty, dan Agus Salim (Pengacara Mary Jane). Para peserta juga berdiskusi bersama Dirjen Binapenta Kemenaker RI Maruli A. Hasoloan.

 

Di akhir kegiatan direncanakan akan mengunjungi Mary Jane Veloso di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan, Jogjakarta, untuk mendengar secara langsung cerita dan pergumulannya.

 

 

 

 

Humas PGI

Irma Riana Simanjuntak

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…