RPA INDONESIA DIPERCAYA KESBANPOL DKI BERSAMA 19 ORMAS: “PERAN ORMAS HARUS DIRASAKAN MASYARAKAT”
JAKARTA, 21 AGUSTUS 2026 —
Relawan Perempuan dan Anak (RPA) Indonesia menjadi salah satu dari 20 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang diundang Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta dalam persiapan agenda “Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan dalam Pembangunan” yang akan digelar pada September 2026.
Ketua Umum RPA Indonesia, Jeannie Latumahina, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan tersebut. Menurutnya, keterlibatan RPA Indonesia bersama 19 ormas lainnya bukan sekadar kesempatan untuk bertemu dan bertukar pengalaman, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana keberadaan ormas benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Bagi RPA Indonesia, kepercayaan ini bukan hanya sebuah undangan, tetapi juga tanggung jawab. Keberadaan ormas harus memberikan manfaat yang nyata. Ukuran keberhasilan sebuah ormas bukan seberapa banyak kegiatannya, tetapi seberapa besar masyarakat merasakan dampak positif dari kehadirannya,” tegas Jeannie.
Ia menilai agenda Kesbangpol tersebut penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Tantangan sosial yang dihadapi masyarakat semakin kompleks sehingga membutuhkan kerja bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
RPA Indonesia sendiri terus membangun sinergi dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional, terutama dalam perlindungan perempuan dan anak, pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), serta pendampingan masyarakat yang menghadapi kekerasan dan persoalan sosial lainnya.
“Kami menerima berbagai laporan masyarakat, termasuk PMI yang menjadi korban TPPO, kekerasan oleh majikan, serta berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. RPA Indonesia berupaya hadir bukan hanya setelah persoalan terjadi, tetapi juga melakukan pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi,” jelas Jeannie.
Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari lingkungan masyarakat dengan melibatkan anak, orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat setempat, hingga aparat penegak hukum. Edukasi juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang mudah diterima masyarakat, termasuk melalui sosialisasi langsung, kegiatan komunitas, dan media film.
Jeannie mengapresiasi agenda Kesbangpol DKI Jakarta pada September mendatang dan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada seminar atau diskusi, tetapi menghasilkan langkah nyata yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
“Masyarakat tidak hanya membutuhkan wacana. Masyarakat membutuhkan kehadiran, solusi dan program yang tepat sasaran. Karena itu, pemberdayaan ormas harus diarahkan pada kerja nyata sesuai persoalan dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan, sementara ormas memiliki kedekatan dengan masyarakat. Jika keduanya dibangun dalam semangat kolaborasi, maka berbagai persoalan sosial dapat ditangani secara lebih cepat, tepat, dan manusiawi.
“Mari kita manfaatkan kepercayaan yang diberikan pemerintah dengan sebaik-baiknya. RPA Indonesia bersyukur dapat menjadi bagian dari 20 ormas yang dilibatkan dalam agenda ini. Kepercayaan tersebut harus kita jawab dengan kerja, integritas, kolaborasi, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Jeannie Latumahina.
Ia menambahkan, pembangunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, RPA Indonesia akan terus mengambil bagian dalam membangun masyarakat melalui perlindungan, pencegahan, pendampingan, edukasi, dan kolaborasi.
“Pada akhirnya, keberadaan sebuah ormas tidak diukur dari seberapa sering tampil, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan. RPA Indonesia akan terus berupaya hadir di tengah masyarakat, mendengar persoalan mereka, membangun sinergi, dan menghadirkan solusi,” pungkas Jeannie Latumahina.



















