Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Panen Perdana Sorgum, KOWANI Dorong Diversifikasi Pangan dan Kemandirian Ekonomi

×

Panen Perdana Sorgum, KOWANI Dorong Diversifikasi Pangan dan Kemandirian Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Panen Perdana Sorgum, KOWANI Dorong Diversifikasi Pangan dan Kemandirian Ekonomi

 

Example 300x600

 

BOGOR, 21 Agustus 2026 —

 

Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan lahan produktif dan pengembangan komoditas pangan berbasis potensi lokal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan demplot pertanian di Jl. Pesantren, Cibanon, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16710, yang ditutup dengan panen perdana sorgum, Jumat (21/8/2026).

Bagi KOWANI, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas budidaya dan panen. Pengembangan lahan diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan yang terintegrasi, mulai dari produksi, pengolahan, pemberdayaan perempuan dan petani, penguatan UMKM serta koperasi, hingga perluasan akses pasar.

Ketua Umum KOWANI Periode 2024–2029, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., mengatakan pemanfaatan setiap jengkal lahan secara produktif dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Apa yang kita implementasikan sangat bermanfaat bagi kita semua. Apa yang kita lakukan untuk negeri ini, meskipun dimulai dari sekecil atau sejengkal tanah, tetap dapat memberikan manfaat bagi negara.”

Menurut Nannie, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga harus mampu menciptakan kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat.

“Ketahanan pangan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, keluarga, dan seluruh warga, sehingga kehidupan kita menjadi aman, sejahtera, tenteram, dan damai. Semua itu dapat terwujud berkat tanah yang subur, tanah yang dimanfaatkan dengan baik, serta memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat.”

Ia menegaskan, pengembangan program tersebut merupakan bagian dari langkah KOWANI dalam mendukung implementasi Asta Cita melalui kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Program Asta Cita terus kita lanjutkan dan wujudkan melalui berbagai kegiatan KOWANI, termasuk upaya mencegah stunting dan penyalahgunaan narkoba. Insyaallah, melalui langkah-langkah nyata ini, kita dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan bangsa.”

Dari Demplot hingga Produk Bernilai Tambah

Sementara itu, Direktur PT DASS sekaligus Staf Ahli KOWANI, Anneke Runtulalo, menjelaskan bahwa demplot tersebut dikembangkan dengan konsep pemanfaatan lahan secara produktif dan berkelanjutan. Berbagai komoditas ditanam di lokasi tersebut, mulai dari sawi, singkong, cabai, melon, timun hingga tanaman buah seperti durian.

Menurut Anneke, keberhasilan demplot tidak cukup diukur dari hasil panen. KOWANI juga mendorong agar hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Ini adalah salah satu program kami ke depan. Bukan hanya cabai seperti ini, tetapi cabai ini akan kami kembangkan menjadi produk KOWANI yang memiliki nilai tambah, salah satunya melalui produk rica roa.”

Pengembangan produk olahan tersebut, lanjut Anneke, membuka peluang pasar yang lebih luas. Ia menyebut adanya permintaan terhadap produk rica roa dari Singapura dan Malaysia.

“Singapura meminta rica roa menggunakan cabai seperti yang kita tanam di sini. Rica roa ini harganya cukup mahal. Untuk kemasan kecil saja bisa mencapai sekitar Rp50 ribu.”

Karena itu, KOWANI akan menghubungkan produksi di demplot dengan kebutuhan bahan baku produk olahan. Dengan pola tersebut, petani tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang untuk mendapatkan nilai tambah melalui proses hilirisasi.

“Nanti KOWANI yang akan memproduksi. Cabainya kita ambil dari sini dan kita tanam lagi cabainya.”

Menurut Anneke, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Ketahanan Pangan Didorong dari Hulu hingga Hilir

Anneke menilai pengembangan demplot tersebut menjadi contoh bahwa lahan dapat dimanfaatkan secara produktif untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.

“Kenapa saya memilih tempat ini? Karena kita bukan lagi mau bertanam, tetapi hari ini kita sudah mau panen. Di sini ada sawi, singkong, cabai, melon, timun, dan berbagai tanaman lainnya. Ini menjadi contoh bahwa lahan dapat dimanfaatkan dan menghasilkan pangan.”

Dalam kegiatan budidaya tersebut, Anneke juga memperkenalkan penggunaan Layla Enzim, produk pupuk/enzim pertanian yang diproduksi oleh PT DASS (Delta Anugerah Sejahtera Subur Sejahtera). Produk tersebut disebut digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan kesuburan lahan.

Menurut Anneke, Layla Enzim dibanderol sekitar Rp175 ribu per liter dan menjadi salah satu produk yang digunakan dalam pengembangan demplot.

“Kita menggunakan pupuk organik yang terjangkau. Salah satunya Layla Enzim yang diproduksi PT DASS. Harganya sekitar Rp175 ribu per liter dan digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman serta membantu menjaga kondisi lahan.”

Anneke sebelumnya menjelaskan bahwa penggunaan produk tersebut memungkinkan tanaman tertentu dipanen berulang kali.

“Fungsinya sangat luar biasa karena dengan penggunaan pupuk tersebut, tanaman dapat dipanen berkali-kali. Cabai, misalnya, sudah setahun terus dipanen.”

Selain ketahanan pangan, KOWANI juga melihat potensi pengembangan program tersebut untuk mendukung sektor lain, termasuk UMKM, pariwisata dan budaya.

“Karena di dalam Asta Cita juga ada pariwisata dan budaya. Itu semua akan dilakukan oleh KOWANI. UMKM juga tidak boleh dilupakan.”

Bidik Pengembangan Sorgum 500 hingga 1.000 Hektare

Ke depan, KOWANI juga menyiapkan pengembangan budidaya sorgum dalam skala lebih luas. Anneke menyebut terdapat pembahasan pengembangan lahan sorgum hingga 500 hektare, yang selanjutnya diarahkan untuk mencapai 1.000 hektare.

Pengembangan sorgum tersebut diharapkan tidak berhenti pada produksi bahan pangan, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari rantai ekonomi baru yang melibatkan petani, perempuan, UMKM, koperasi, pesantren, dunia usaha, dan mitra strategis lainnya.

Anneke juga mengungkapkan rencana pengembangan sektor peternakan sebagai bagian dari penguatan ekosistem ketahanan pangan.

“Insya Allah KOWANI juga akan membuka peternakan sapi. Saya sudah menghubungi pihak dari Australia dan mudah-mudahan ini juga bisa dikembangkan. Insya Allah.”

Ia menekankan bahwa seluruh agenda tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Jadi semuanya bisa. Bukan saya, bukan Ibu Ketum. Semuanya bisa, baik yang ada bersama saya maupun yang tidak. Kita saling bersinergi.”

Sorgum Berpotensi Dipanen hingga Tiga Kali Setahun

Menjelang pelaksanaan panen perdana, Anneke menjelaskan teknik pemanenan sorgum yang diterapkan di demplot tersebut. Menurutnya, tanaman sorgum tidak dipotong pada bagian atas, melainkan pada bagian bawah agar tanaman dapat kembali tumbuh dan menghasilkan panen berikutnya.

“Untuk pemanenannya, kita tidak memotong bagian atas, tetapi bagian bawah. Dengan cara ini, tanaman sorgum masih dapat tumbuh kembali dan bisa dipanen hingga tiga kali dalam satu tahun.”

Menurut Anneke, sorgum memiliki potensi besar sebagai salah satu alternatif pangan untuk mendukung diversifikasi pangan nasional, termasuk sebagai pengganti beras. Selain dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, sorgum juga memiliki potensi pemanfaatan untuk berbagai kebutuhan lainnya.

“Sorgum tidak hanya dapat menjadi alternatif pangan pengganti beras, tetapi juga memiliki berbagai manfaat dan nilai tambah. Sorgum dapat diolah menjadi gula sorgum yang memiliki potensi sebagai alternatif pemanis, serta dikembangkan untuk berbagai produk lainnya.”

Anneke juga menjelaskan potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Ia menyebut pihaknya telah melakukan uji coba bersama Pertamina terkait pengembangan bioetanol berbasis sorgum.

“Sorgum juga dapat diolah menjadi bioetanol sebagai bahan bakar alternatif. Kami sudah melakukan uji coba bersama Pertamina dan hasilnya memiliki angka oktan mencapai 108.”

Panen Perdana Jadi Puncak Kegiatan

Rangkaian pengembangan demplot tersebut kemudian mencapai puncaknya melalui panen perdana sorgum bersama Ketua Umum KOWANI Periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto.

Sebelum panen dilakukan, Anneke memberikan penjelasan sekaligus contoh teknik pemanenan kepada Nannie. Pemotongan dilakukan pada bagian bawah tanaman agar sorgum tetap dapat tumbuh kembali.

“Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini kita melaksanakan panen perdana bersama Ibu Ketua KOWANI, Ibu Nannie Hadi Tjahjanto. Ini merupakan salah satu hasil pertanian yang dapat menjadi alternatif pangan, khususnya sebagai pengganti beras.”

Anneke kemudian mengajak Nannie melakukan panen secara simbolis.

“Ibu Nannie, silakan mengambil bagian tanaman dari sini. Pemotongan dilakukan di bagian bawah agar tanaman dapat kembali tumbuh dan menghasilkan panen berikutnya.”

Panen perdana tersebut menjadi penanda bahwa pengembangan ketahanan pangan yang dilakukan KOWANI diarahkan tidak hanya pada aktivitas penanaman, tetapi juga pada pembentukan ekosistem pangan yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial.

Nannie Hadi Tjahjanto menegaskan bahwa sorgum merupakan salah satu komoditas yang dapat dikembangkan untuk memperkuat diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Yang kita panen hari ini bukan hanya sorgum. Yang kita tumbuhkan adalah kemandirian, kesempatan kerja, kesejahteraan keluarga, dan kekuatan ekonomi masyarakat.”

KOWANI mendorong agar pengembangan sorgum dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan melibatkan petani, perempuan, UMKM, koperasi, pesantren, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai mitra strategis.

Sinergi dengan INKOPONTREN juga diharapkan dapat memperluas pengembangan produk berbasis sorgum melalui jaringan koperasi pondok pesantren serta membuka ruang pemberdayaan bagi santri dan santriwati.

Melalui panen perdana tersebut, KOWANI menargetkan pengembangan pangan lokal tidak hanya menjawab kebutuhan pangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi rakyat, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dari pangan lokal kita bangun kemandirian.
Dari ekonomi rakyat yang kuat kita wujudkan Indonesia yang maju dan berdaulat.

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *