Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli: Pelemahan Rupiah dan ketidakpastian Kebijakan Menyebabkan Ekonomi Indonesia Saat ini Sedang Kuning Menuju Merah

×

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli: Pelemahan Rupiah dan ketidakpastian Kebijakan Menyebabkan Ekonomi Indonesia Saat ini Sedang Kuning Menuju Merah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli: Pelemahan Rupiah dan ketidakpastian Kebijakan Menyebabkan Ekonomi Indonesia Saat ini Sedang Kuning Menuju Merah

 

Example 300x600

Jakarta, Gramediapost.com

 

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tekanan berat akibat pelemahan Rupiah, meningkatnya ketidakpastian usaha, hingga persoalan struktural yang belum terselesaikan.

Menurut Dipo, berbagai instrumen moneter yang telah dikeluarkan Bank Indonesia sejauh ini baru mampu menjaga stabilitas pergerakan harga di pasar, namun belum menyentuh akar persoalan pelemahan mata uang nasional.

Ia menjelaskan, kebijakan seperti swap currency dan bond stabilization hanya berfungsi menahan gejolak agar tidak terlalu fluktuatif. Namun apabila tren Rupiah memang sedang melemah, maka kondisi tersebut tetap akan berlangsung.

“Yang kurang justru ada di sisi kebijakan pemerintah secara keseluruhan, terutama fiskal dan strategi industrinya,” kata Dipo.

Ia menilai pelemahan Rupiah telah memberi dampak langsung terhadap industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan komponen berbasis minyak. Sejumlah sektor seperti tekstil, plastik, otomotif, hingga elektronik disebut mulai merasakan tekanan serius.

Dipo mengutip survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menunjukkan sekitar 67 persen perusahaan memilih menahan ekspansi usaha. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar ancaman pengangguran dalam beberapa waktu ke depan.

Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah lebih konkret untuk menyelamatkan industri strategis nasional. Salah satunya melalui investasi pada industri nafta sebagai bahan baku utama tekstil dan plastik, serta penguatan industri baja nasional seperti Krakatau Steel.

Ia menyebut pemerintah selama ini terlalu fokus pada hilirisasi sektor minerba, sementara industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja justru belum mendapat perhatian optimal.

Selain menyoroti sektor industri, Dipo juga mengkritik kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai belum membaik secara merata. Meski pertumbuhan ekonomi triwulan pertama tercatat positif, ia menilai kenaikan konsumsi rumah tangga hanya dinikmati kelompok menengah atas.

“Kelas menengah masih tertekan dan masyarakat miskin masih banyak. Ini masalah struktural yang serius,” ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga kebutuhan di lapangan mulai dirasakan masyarakat sehingga pemerintah harus fokus menjaga daya beli agar tekanan ekonomi tidak semakin berat.

Dipo juga menyoroti persoalan kepercayaan pasar terhadap pemerintah. Menurutnya, dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, sementara saat ini banyak regulasi yang dianggap berubah-ubah dan belum matang.

Ia mencontohkan kebijakan ekspor terbaru pemerintah yang dinilai masih memiliki banyak celah dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.

“Kalau aturan berubah terus, dunia usaha jadi menunggu dan akhirnya menahan investasi,” katanya.

Terkait kondisi Rupiah, Dipo menilai pelemahan mata uang Indonesia terhadap sejumlah negara tetangga seperti Dolar Singapura, Ringgit Malaysia, dan Baht Thailand menjadi sinyal adanya persoalan fundamental ekonomi nasional.

Ia menyebut Indonesia saat ini menghadapi tiga tekanan utama, yakni pelemahan Rupiah, imported inflation, dan persoalan fiskal negara.

“Tidak ada solusi instan untuk situasi ini. Semua sangat bergantung pada kebijakan pemerintah ke depan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Dipo juga menyinggung pentingnya strategi pemerintah dalam menjalankan program ekonomi agar benar-benar berdampak pada masyarakat daerah dan pelaku usaha lokal.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang terlihat dalam data makro belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat di lapangan, terutama bagi kelompok kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *