Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (Japbusi) Gelar Deklarasi “Kolaborasi Bipartit GAPKI-JAPBUSI Mewujudkan Sawit Berkelanjutan Melalui Kerja Layak”

×

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (Japbusi) Gelar Deklarasi “Kolaborasi Bipartit GAPKI-JAPBUSI Mewujudkan Sawit Berkelanjutan Melalui Kerja Layak”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Example 300x600

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (Japbusi) Gelar Deklarasi “Kolaborasi Bipartit GAPKI-JAPBUSI Mewujudkan Sawit Berkelanjutan Melalui Kerja Layak”

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (Japbusi) menggelar deklarasi “Kolaborasi Bipartit GAPKI-JAPBUSI Mewujudkan Sawit Berkelanjutan Melalui Kerja Layak” di Hotel Shangrilla, Jakarta (16/2/23).

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (Japbusi) menandatangani Deklarasi Bersama tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan pekerjaan yang layak di industri sawit.

 


Kika: Sekretaris Eksekutif Japbusi Nursanna Marpaung dan
Ketua GAPKI Joko Supriyono

Deklarasi Bipartit itu ditandatangani oleh Ketua GAPKI Joko Supriyono dan Sekretaris Eksekutif Japbusi Nursanna Marpaung, serta sepuluh pimpinan federasi serikat pekerja maupun serikat buruh.

Dalam deklarasi Bipartit Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (Japbusi) tersebut disebutkan:

“Sektor kelapa sawit bagi Indonesia merupakan komoditas strategis nasional, salah satu penyumbang devisa dan sumber mata pencaharian bagi lebih dari 17 juta pekerja di seluruh rantai pasoknya. Keadilan sosial bagi seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok ini menjadi tantangan bersama bagi berbagai pihak dalam menjadikan sektor ini sebagai sektor yang berkelanjutan, dalam hal ini baik untuk masyarakat, pekerja, dunia usaha, kestabilan pertumbuhan ekonomi dan lingkungan.

 

Dialog sosial merupakan kunci dalam mendorong keadilan sosial. Berdasarkan diskusi yang telah dilakukan oleh pengusaha, dalam hal ini diwakili oleh GAPKI dan perwakilan organisasi Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang tergabung dalam JAPBUS (Jejaring Serikat Pekerja/Serikat Buruh Sawit Indonesia) sepakat bekerja bersama dalam forum dialog sosial yang didukung oleh pemerintah untuk mendorong pekerjaan yang layak di sektor kelapa sawit di Indonesia.

Forum ini diinisiasi oleh 10 (sepuluh) federasi serikat pekerja/serikat buruh yang tergabung dalam Jejaring Serikat Pekerja/Serikat Buruh Kelapa Sawit Indonesia (JAPBUSI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Forum ini merupakan wadah bersama yang bertujuan untuk:

a. Meningkatkan citra sawit Indonesia dengan jalan meningkatkan penyelesaian hubungan industrial melalui kerjasama yang efektif dan produktif melalui LKS bipartit di tingkat perusahaan; mendorong penghormatan terhadap kebebasan berserikat dan penyelesaian perselisihan melalui dialog sosial; mendorong peningkatan peran SP/SB dalam perjanjian bilateral terkait sektor kelapa sawit di tingkat nasional maupun internasional; dan mendorong peningkatan kepatuhan serta kerjasama lainnya untuk terciptanya kerja layak di rantai pasok kelapa sawit.

b. Melaksanakan rencana kerja bersama peningkatan kepatuhan terhadap norma-norma ketenagakerjaan dan hubungan industrial yang harmonis sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia maupun berbagai standar ketenagakerjaan international lainnya yang telah diratifikasi oleh pemerintah. Rencana kerja dimaksud meliputi area-area utama yang telah disepakati bersama antara lain: – Penguatan dialog sosial melalui penghormatan hak-hak atas kebebasan berserikat dan berunding bersama, dan hak-hak dasar di tempat kerja.

– Peningkatan kondisi kerja yang mencakup K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja); pencegahan dan menentang pekerja anak dan kerja paksa; pencegahan kekerasan terhadap perempuan serta kesetaraan gender;

– Penguatan dan peningkatan kepesertaan jaminan sosial bagi seluruh pekerja.

– Peningkatan kapasitas pengurus dan anggota serikat pekerja/serikat buruh.

Pelaksanaan rencana kerja tersebut diatas akan dilaksanakan bersama-sama oleh kelompok kerja yang terdiri dari tim gugus tugas (task force atau working group).

Untuk merampungkan panduan Kelompok-kelompok kerja bersama akan dibentuk oleh anggota forum untuk teknis implementasi komitmen dan rencana kerja yang telah disepakati, pelibatan pihak swasta nasional dan multinational, serta pelibatan pihak publik.”

Kepada para awak media yang mewawancarainya, Ketua GAPKI, Joko Supriyono menyatakan,”Penandatanganan Bipartit ini menandai kerja sama antara pengusaha dan pekerja industri kelapa sawit Indonesia untuk mendorong praktik kerja layak, kepatuhan peraturan ketenagakerjaan dan meningkatkan citra industri kelapa sawit Indonesia.Untuk meningkatkan citra sawit, kita perlu bekerja sama, termasuk meningkatkan komunikasi dan kemitraan dengan organisasi serikat pekerja dan serikat buruh.

Joko Supriyono menambahkan,’ GAPKI percaya dialog yang efektif dan konstruktf, yang menghormati hak-hak pekerja, tidak hanya baik untuk bisnis, tetapi juga baik untuk para pekerja.

Ungkap Ketua Umum Gapki Joko Supriyono lagi, jumlah perusahaan kelapa sawit yang tergabung dalam GAPKI lebih dari 700 perusahaan. Masing-masing memiliki praktik berbeda.
“Karena itu, kami mengupayakan dialog sosial dengan pekerja dikedepankan. Bekerja di perkebunan kelapa sawit yang remote tetap mendapat akses listrik, tempat tinggal layak, dan pendidikan juga jadi perhatian. Di sisi lain, kami (pengusaha) harus menghadapi tekanan kenaikan biaya operasional, seperti harga pupuk, tetapi saat bersamaan kami harus meningkatkan produktivitas,”

Sementara itu, mendampingi Ketua Umum Gapki Joko Supriyono saat diwawancara awak media, Sekretaris Eksekutif Jejaring Serikat Pekerja - Serikat Buruh Sawit Indonesia (Japbusi) Nursanna Marpaung menyatakan,”Jumlah pekerja di industri kelapa sawit, yakni mulai dari perkebunan sampai rantai pasok, diperkirakan lebih dari 17 juta orang. Permasalahan pengabaian kerja layak dan kebebasan berserikat dinilai masih kerap dialami para pekerja.Dari sisi pekerja perkebunan kelapa sawit, mereka bekerja dan tinggal di lokasi perkebunan yang tergolong remote dari perkotaan. Isu pelanggaran hak mereka selalu terulang. Belum lagi masalah keterbatasan akses pendidikan.

Tambah Nursanna lagi,”Japbusi terdiri atas 10 federasi pekerja perkebunan sawit. Dari kalangan serikat pekerja/buruh, upaya memperjuangkan kerja layak dinilai tidak mudah. Japbusi sudah lama menginginkan kerja sama bipartit dengan kelompok pengusaha kelapa sawit berwujud formal alias mengikat. Kami berharap, ke depan tidak ada lagi isu masalah pelanggaran hak pekerja/buruh perkebunan kelapa sawit. Sangat penting kolaborasi bipartit antara serikat buruh dan pengusaha demi memastikan keberlanjutan industri kelapa sawit. Kami yakin memadukan kekuatan dengan pemberi kerja melalui dialog sosial, kami dapat secara terbuka mendiskusikan upaya-upaya untuk meningkatkan kepatuhan pada peraturan ketenagakerjaan di industri kelapa sawit, meningkatkan produktivitas dan memastikan keberlanjutan sektor penting ini.”

Dalam kata sambutan deklarasi Bipartit GAPKI-JAPBUSI tersebut, Direktur Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk Indonesia dan Timor Leste Michiko Miyamoto menyampaikan, “Belum ada negara produsen minyak kelapa sawit yang memiliki deklarasi bipartit antara pengusaha dan serikat buruh/pekerja perkebunan sawit. Di Indonesia sendiri, deklarasi bipartit sektoral pun baru dilakukan oleh sektor industri minyak kelapa sawit. Perjuangan mencapai deklarasi bipartit itu butuh waktu lima tahun. Selama kurun waktu tersebut, baik pengusaha maupun pekerja kerap mengalami beda pandangan dan tidak saling percaya. Dialog bipartit merupakan solusi terbaik untuk mencapai industri sawit berkelanjutan, baik berkelanjutan dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,”

Tegas Michiko, ILO Indonesia akan mendukung langkah lanjutan pascapenandatanganan deklarasi bipartit Gapki-Japbusi. Misalnya, mendukung Japbusi untuk menggelar dialog lebih luas ke seluruh provinsi yang memiliki perkebunan kelapa sawit dan membantu Gapki agar semakin banyak perusahaan sawit yang mengimplementasikan kerja layak.

“Hubungan pekerja-manajemen yang baik sangat penting untuk penciptaan pekerjaan yang layak dan promosi kondisi kerja yang layak di sektor kelapa sawit yang pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan iklim investasi yang lebih baik,” pungkas Miyamoto.

Turut memberikan kata sambutan, Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Surya Lukita Warman.

Dalam kata sambutannya, Surya Lukita Warman, menyatakan, “Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor sawit utama di dunia. Industri minyak kelapa sawit juga memegang peran penting menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia.Tren yang kini berlangsung adalah sawit berkelanjutan. Kami menilai, deklarasi bipartit pengusaha - pekerja perkebunan kelapa sawit mampu membuat Indonesia lebih berdaya saing di pasar internasional,”

Dalam kata sambutannya, Elly Rosita Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), mengapresiasi Deklarasi Bersama antara Gapki dan Japbusi tersebut berfokus pada peningkatan isu-isu ketenagakerjaan yang mendorong pekerjaan yang layak di industri kelapa sawit. KSBSI mendukung Deklarasi Kolaborasi Bipartit GAPKI-JAPBUSI tersebut yang menghasilkan beberapa kesepakatan antara lain menghormati hak dasar atas kebebasan berserikat dan perundingan bersama, menyelesaikan perselisihan industri melalui dialog sosial, serta memastikan tempat kerja yang efektif. KSBSI mengapresiasi deklarasi tersebut. Dia berharap kolaborasi itu dapat diimplementasikan demi menjaga keberlanjutan dunia usaha kelapa sawit dan meningkatkan kesejahteraan buruh sawit.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…