Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

7th Annual Indonesia Economic Forum: “5 Kunci Utama untuk Menata Ulang Tatanan Ekonomi Dunia.”

×

7th Annual Indonesia Economic Forum: “5 Kunci Utama untuk Menata Ulang Tatanan Ekonomi Dunia.”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Example 300x600

7th Annual Indonesia Economic Forum: “5 Kunci Utama untuk Menata Ulang Tatanan Ekonomi Dunia.”

Jakarta, Gramediapost.com

Indonesia Economic Forum yang ke 7 mempertemukan para pemimpin politik, bisnis, pemerintah, pemrakarsa dan pemimpin komunitas untuk membahas visi Indonesia di tahun 2020 untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi pasca Covid-19. Forum ini pertama kalinya akan diselenggarakan secara virtual pada Selasa-Kamis, 24-26 November 2020.

Berkolaborasi dengan HSBC Indonesia untuk ketiga kalinya, Indonesia Economic Forum tahun ini mengusung tema “2020 Vision: Rebooting Economic Growth Post Covid-19.” Setelah mengalami penurunan ekonomi yang tajam sejak Krisis Keuangan Asia, Indonesia sedang berada dalam masa pemulihan perekonomian. Covid-19 telah mempercepat perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan telah menciptakan peluang baru.

Pada hari pertama di sesi pagi yang mengambil tema “Positioning The Economy For The Next New Normal dan terbagi dalam 3 sesi diskusi panel.

Di sesi ini, para pembicara membahas mengenai 5 kunci utama untuk menata ulang tatanan ekonomi dunia.

Dalam pembukaannya, Shoeb Kagda selaku Founder & CEO Indonesia Economic Forum mengungkapkan bahwa kita harus melihat ke depan di tahun 2021, dimana kita akan hidup di tatanan yang baru dan berbeda. Berbeda dengan 2020 yang dipenuhi oleh berbagai hambatan dan tantangan, 2021 memberikan harapan untuk masa depan yang cerah bagi kita semua.

Professor Kishore Mahbubani, Dosen Tamu Kehormatan dari National University of Singapore menyatakan salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari Covid-19 adalah kita tidak dapat memprediksi bagaimana masa depan akan berjalan. Di tahun 2019, orang banyak membuat prediksi tentang bagaimana 2020 akan berjalan. Kenyataannya, semua prediksi yang telah diproyeksikan salah besar. Satu hal yang pasti, tidak satu pun dari kita telah memprediksi datangnya Covid-19. 2020 menjadi tahun yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kita harus melihat bagaimana hubungan antara Cina dan Amerika Serikat yang sulit untuk berubah secara struktural. Dengan adanya paradoks dan gejolak politik di Amerika yang tengah terjadi saat ini, dapat mempengaruhi dunia ekonomi secara global. Amerika harus dapat bertahan di tengah kegentingan dan itu akan menjadi hal yang cukup sulit. Berbeda dengan China yang telah melakukan investasi dan hal yang benar sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti melakukan hubungan ekonomi dengan negara lain. Dengan adanya hal tersebut, maka China diharapkan akan terus berhasil dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Pertanyaan sebenarnya ialah bagaimana kompetisi antara China dan Amerika Serikat akan berjalan?,” kata Professor Kishore Mahbubani, Dosen Tamu Kehormatan dari National University of Singapore.

Hal ini ditimpali oleh Gita Wirjawan, Pendiri Ancora Capital yang mengungkapkan bahwa kedudukan China saat ini menjadi keuntungan bagi negara di Asia Tenggara, karena saat ini Asia Tenggara menjadi incaran pasar bagi China. Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) merupakan hal yang sangat sesuai bagi perjalanan ekonomi negara di Asia. Akan tetapi, hal ini akan menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih lemah akan kesadaran kekayaan intelektual, pentingnya untuk menciptakan hal yang bersifat ramah lingkungan dan hal lainnya yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita.

“Terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, kesepakatan mengenai kegiatan investasi bagi 15 anggota RCEP agar menjadi lebih mudah. Kedua, keberadaan UKM yang dimudahkan untuk kegiatan ekspor-impor. Dan yang terakhir ialah efek samping yang dihasilkan oleh pemerintah mengenai penyederhanaan perjanjian perdagangan antar negara.” Kata Gita Wirjawan, Pendiri Ancora Capital.

Ali Setiawan, Managing Director, Head of Global Markets & Securities Services PT Bank HSBC Indonesia berkata, “Sebenarnya sangat sulit untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Namun apabila dilihat dari konsensus kebanyakan pelaku pasar, 2021 nampaknya akan menjadi tahun yang lebih positif. Indonesia adalah salah satu pasar berkembang di ASEAN yang cukup banyak menerima portofolio investasi dari offshore, sehingga tentunya juga tidak kebal dari situasi pandemi saat ini. Sebagai contoh, perlu diketahui aliran dana keluar yang sangat besar terjadi di bulan Maret dan April, hampir USD 11 miliar di pasar obligasi dan saham. Akibatnya, pasar finansial di Indonesia menjadi sangat volatile, termasuk di pasar obligasi dengan valas.”

Ali Setiawan memaparkan bahwa ia percaya bahwa Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang sangat menarik bagi para investor. “Apabila dilihat melalui portofolio investasi yang ada saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang menyediakan imbal hasil yang cukup menarik dan tertinggi dibanding instrumen lain di kawasan ASEAN. Itulah yang sebenarnya terjadi dari kuartal kedua ke kuartal ketiga, dimana kami mulai melihat aliran dana asing mulai masuk kembali ke pasar finansial indonesia. Sebagai contoh kita melihat posisi investasi dana asing di bulan Januari yang hamper mencapai IDR 1100 triliun turun ke IDR 917 triliun sampai bulan April. Tetapi mulai meningkat kembali ke IDR 965 triliun sampai di bulan November 2020. Walaupun peningkatan ini belum sebanyak yang kita harapkan tapi setidaknya kita melihat hampir sekitar USD 3 miliar dolar AS yang kembali dan kebanyakan di pasar obligasi pemerintah dan itu menunjukkan kepercayaan investor asing untuk kembali berinvestasi di Indonesia.”

“Jadi kita melihat masih ada faktor pendorong untuk perbaikan di tahun 2021. Memang di sektor korporasi masih belum banyak aktivitas dan suntikan investasi tapi setidaknya mulai ada peningkatan dari sisi penjualan dari bulan September hingga oktober di beberapa sektor industri. Pemerintah harus terus proaktif dan konsisten, tidak hanya melalui inisiatif kebijakan dari besaran stimulus tapi juga dari sisi penyaluran stimulus tersebut untuk membantu pemulihan ekonomi Indonesia. Kedua, konsisten melalui reformasi struktural yang sudah dipaparkan sehingga bisa menarik lebih banyak investasi asing (FDI) dan kita melihat salah satunya ada momentum baik seperti UU Cipta kerja yang baru saja disetujui,” Lanjut Ali Setiawan.

Namun, bagaimana konflik antara Hong Kong dan China dapat mempengaruhi ekonomi Asia? Bagaimana persepsi negara-negara di Asia mengenai konflik politik dan militer China ketika melihat fakta bahwa China dahulu merupakan negara yang bersahabat namun saat ini bertindah agresif?

Professor Kishore Mahbubani memaparkan bahwa saat ini terdapat 2 naratif. “Naratif yang pertama ialah bagaimana dunia melihat China sebagai negara yang agresif terhadap Hong kong, melakukan pembantaian terhadap Hong kong dan hal buruk lainnya. Hal ini dapat dilihat sebagai sebuah agenda oleh Hong Kong. China yang memiliki penduduk lebih banyak dari Hong Kong akan lebih mudah memenangkan konflik yang sengit ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh Hong Kong ialah mengubah kebijakan perumahan rakyat yang masih sangat rendah. Hampir 5% warga negara Hong Kong tidak memiliki tempat tinggal. Hong Kong harus memperhatikan hal ini agar dapat berjalan dengan baik.”

Posisi Indonesia saat ini pun dijelaskan oleh Gita Wirjawan. “Bagaimana Indonesia ditempatkan dalam situasi ini menjadi sangat penting. Kita harus dapat mempertahankan bagaimana Indonesia dilihat sebagai negara yang stabil. Dengan adanya persepsi tersebut, FDI (Foreign Direct Investment) akan meningkat. Ekonomi akan pulih secara perlahan. Dan dengan adanya Omnimbus Law, dapat mendukung peningkatan investasi asing. Sosialisasi dengan para stakeholders menjadi sangat penting karena mereka merupakan peran utama dalam hal ini, dan saat ini hal itu menjadi isu yang sensitif.” ujar Gita Wirjawan.

Professor Kishore menekankan 3 poin utama, yang pertama adalah kita harus berpikir secara positif. Media akan selalu menampilkan berita negatif. Kita harus percaya bahwa ekonomi dapat berangsur pulih. Yang kedua, seluruh negara di Asia harus sepakat bahwa kita harus menjadi satu suara. Kita harus menegaskan bahwa Asia memiliki perekonomian yang kuat. Dan yang terakhir adalah kita harus selalu siap untuk kejutan yang akan datang. Tidak ada yang mengira bahwa pandemi ini akan datang, sehingga kita harus memiliki terobosan untuk mengatasinya.

Hari pertama IEF di tutup dengan presentasi oleh Ford Professor of Economics and Associate Department Head of MIT’s Department of Economics, David Autor dengan membahas “Masa Depan Pekerjaan”. Pada sesi ini, David Autor memberikan pandangannya mengenai pekerjaan di masa depan.

Ia menjelaskan bagaimana pekerjaan dimasa lalu dan di masa sekarang, memiliki banyak perubahan signifikan yang muncul. Banyak penemuan hebat dalam 200 tahun terakhir yang dirancang khusus untuk menghemat tenaga kerja, seperti komputer misalnya. Penemuan tersebut terbukti bekerja dengan baik. Manusia tidak lagi melakukan pekerjaannya secara manual. Teknologi telah berhasil mengubah jumlah tenaga kerja dengan penggunaan mesin.

“Perubahan teknologi terjadi secara bertahap tentu memberikan dampak, seperti 3D printing, robot industri, rantai pasok yang cerdas, serta kecerdasan buatan. Tentu, hal tersebut bukanlah hal yang pernah kita perkirakan sebelumnya.“ kata David Autor.

Ia menekankan beberapa hal penting terkait bagaimana pekerjaan di masa depan. “Seiring berjalannya waktu, kita akan mengalami kehilangan lapangan pekerjaan, namun hal tersebut akan diimbangin oleh kemunculan lapangan pekerjaan baru seiring dengan berkembangnya teknologi. Skill baru, pelatihan, dan edukasi sangat penting karena akan membuka peluang dimasa depan. Satu hal yang pasti, pekerjaan dimasa depan akan berbeda dengan pekerjaan yang ada di masa lalu, atau bahkan di masa sekarang.

Terkait hilangnya lapangan pekerjaan akibat dampak automasi, Ia menekankan bahwa manusia tidak perlu takut akan kehilangan pekerjaan. “Interaksi antara keunggulan komparatif mesin dan manusia memungkinkan komputer untuk menggantikan pekerja dalam melakukan tugas rutin yang dapat dilakukan secara sistematis, sambil memperkuat keunggulan komparatif pekerja dalam menyediakan keterampilan pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, dan kreativitas. Manusia harus bisa menjadi master dalam bidangnya, karena penilaian manusia tidak dapat dikalahkan oleh mesin. “ tambah Professor David Autor.

Indonesia Economic Forum adalah platform multi-stakeholder yang mempertemukan semua pihak. Indonesia Economic Forum memiliki visi untuk mempromosikan kemajuan ekonomi dan sosial Indonesia dengan mengidentifikasi tren dan peluang. Sejak didirikan pada tahun 2014, setiap tahun Indonesia Economic Forum telah melibatkan pemerintah Indonesia, masyarakat sipil, komunitas bisnis, akademisi dan organisasi pemuda dalam forum tahunan.

Tahun ini, Forum Indonesia Economic Forum menjadi forum virtual terbesar di Indonesia, dan dihadiri oleh 1.000 peserta dari Amerika Serikat, Australia, India, Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Melalui platform digital, Indonesia Economic Forum telah menjangkau lebih dari 3.000 pemimpin eksekutif dan bisnis senior serta lebih dari satu juta pengikut di Indonesia.

Tentang Indonesia Economic Forum

Indonesia Economic Forum (IEF) menyatukan para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, pengusaha dan pemrakarsa di Indonesia. Didirikan pada tahun 2014, IEF berfokus pada tema unik setiap tahunnya yang merupakan dasar dari kisah pertumbuhan Indonesia. IEF bertujuan untuk menciptakan informasi dan pengetahuan yang dapat membantu para pemimpin bisnis berkontribusi pada pertumbuhan perusahaan dan negara. Melalui platform digitalnya, IEF menjangkau lebih dari 3.000 pemimpin eksekutif dan pebisnis senior serta lebih dari satu juta pengikut di Indonesia.

***

(Hotben)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…