Oposisi Dua Kaki

0
59

*EDITORIAL MEDIA INDONESIA*

*Oposisi Dua Kaki*

*PRESIDEN Joko Widodo menepati janjinya. Kemarin pagi, Presiden RI yang baru saja dilantik MPR pada Minggu (20/10) itu mulai mengenalkan sosok-sosok yang bakal mengisi jajaran kabinet baru.* Mereka berdatangan ke Istana Kepresidenan untuk memenuhi panggilan Presiden.

*Melalui diskusi, Presiden mengaudisi para calon menteri yang pada hari pertama didominasi wajah-wajah baru*. Mereka yang bersedia menerima posisi sebagai anggota kabinet dan meneken pakta integritas akan dilantik esok.

*Presiden Jokowi pun memenuhi apa yang sudah dijanjikan sebelum dilantik*. Sosok-sosok muda akan menyokong kerja dirinya dan Ma’ruf Amin melalui kabinet. *Realisasinya, Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir tampak hadir mengikuti audisi kabinet, kemarin, sekaligus menyatakan bersedia menjadi pembantu Presiden.*

*Yang cukup mengejutkan, tetapi sesungguhnya juga sudah ditebak, ialah kemunculan Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, kemarin sore*. Datang dengan mengenakan kemeja putih seperti para calon menteri yang lain, Prabowo seakan mengafirmasi isu bergabungnya Partai Gerindra ke koalisi pemerintah. *Seusai menemui Presiden Jokowi, Prabowo pun memberi pernyataan yang mengubah isu santer sejak dua pekan belakangan itu menjadi sebuah realitas.*

*Mantan rival Jokowi-Ma’ruf Amin dalam kontestasi Pilpres 2019 tersebut mengaku telah menerima tawaran untuk menjadi anggota kabinet di bidang pertahanan*. Prabowo tidak sendiri. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo turut diangkut ke gerbong kabinet di periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi.

*Di satu sisi, masuknya Gerindra ke kabinet menunjukkan hubungan politik antara Presiden Jokowi dan mantan lawannya di dua pilpres sudah benar-benar cair.* Artinya, perseteruan politik telah usai dan keduanya siap bekerja sama memajukan negeri. *Begitu pun seharusnya para pendukung masing-masing.*

Baca juga  Migrant CARE dan Puluhan Ormas Menolak Eksekusi Mati Terhadap Tuti Tursilawati

*Di lain pihak, pengakhiran rivalitas dengan melebur di gerbong pemerintah memancing kekhawatiran*. Dengan langkah itu Gerindra melepas kesempatan menjadi oposisi yang mampu secara kritis menyeimbangkan penyelenggaraan negara.

*Betapa tidak? Tentu sangat tidak etis bila saat kadernya bekerja sebagai menteri, Partai Gerindra menentang kebijakan pemerintah*. Terlebih lagi bila kemudian sang menteri mengambil jalan sendiri menuruti arahan partai. *Tidak peduli meski jalan itu menyimpang dari hal-hal yang digariskan pemerintah.*

*Peran dua kaki, sebagai anggota koalisi sekaligus oposisi, atau mitra kritis, begitu istilah kamuflasenya, hanya akan merugikan di kemudian hari.* Jokowi bak memelihara anak macan yang akan berbalik menyerang di tengah jalannya roda pemerintahan.

*Bersikap kritis memang perlu*. Akan tetapi, bila datang dari anggota koalisi, eloknya tidak dilakukan secara frontal. *Lain halnya dengan partai politik yang tegas berperan sebagai oposisi.*

*Harus tegas dikatakan bahwa pembentukan kabinet merupakan wewenang Presiden sepenuhnya*. Meski demikian, perlu juga diingatkan bahwa koalisi gemuk tidak menjamin jalannya pemerintahan Jokowi-Amin bakal mulus.

*Belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak jarang terjadi partai di koalisi pemerintah justru berbeda sikap dengan pemerintah*. Manuver partai itu kian menguat mendekati pemilu sebab setiap partai berusaha menarik dukungan publik.

*Karena itu, harus dipastikan bahwa bergabungnya mantan rival ke koalisi pemerintah didahului dengan _gentlement agreement_ agar senatiasa menjaga etika sebagai anggota koalisi.* Bila tidak sanggup, alangkah lebih terhormat bila sedari awal memutuskan menjadi oposisi yang sebenar-benarnya, bukan oposisi dua kaki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here