DARURAT!!! Rakyat Harus Bergerak Bersama Haidar Alwi & Jokowi Tumpas Radikalisme!!*

0
525

 

Perkembangan radikalisme di kampus-kampus kita sudah sangat parah. Mereka bukan saja ada di sana, tapi mereka juga menguasainya. Sel-sel radikal di dunia pendidikan berkembang seperti ganasnya sel-sel kanker yang tidak terkendali.

BIN dan BNPT sudah mendapat kajian bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia mendukung radikalisme. Bahkan, Setara Institute mengabarkan bahwa, ada 10 kampus negeri yang sudah terpapar radikalisme. Lebih parahnya lagi, sasaran utama mereka adalah kampus-kampus negeri yang punya nama besar dan sering kali menjadi idola anak-anak kita untuk berkuliah di sana. Mulai dari UI, ITB sampai ke UNAIR.

Radikalisme di kampus-kampus bukan lahir dengan tiba-tiba, mereka sudah masuk sejak tahun 1981 melalui kampus negeri yang ada di Bogor. Dan di sana, kelompok itu terlebih dahulu menguasai rumah ibadah dan membuat pengajian eksklusif. Proses pengkaderan pun berjalan dengan menempatkan kader-kader mereka di posisi strategis. Mulai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi kemahasiswaan terutama bidang rohani, para Dosen sampai Rektor mereka kuasai.

Dari sini, mereka mulai menyebarkan kadernya ke banyak Perguruan Tinggi sampai ke pemerintahan, di BUMN dan kementerian. Mereka menguasai beasiswa untuk anak-anak pintar dan mulai melakukan pengkaderan melalui kegiatan rohani di sekolah menengah. Mereka memberi fasilitas kepada siswa pintar dari daerah mulai dari kos gratis, sampai dikawin-kawinkan dengan kader wanita mereka.

Jadi, ketika melihat demo mahasiswa kemarin, saya sudah menduga kelompok radikal ini mulai mengaktifkan sel-sel mereka di Perguruan Tinggi untuk membuat kerusuhan termasuk membangun propaganda aksi yang mirip tahun 1998. Mereka sukses menggerakkan massa karena sudah menguasai BEM di banyak Perguruan Tinggi. Mahasiswa lain yang tidak terpapar hanya ikut-ikutan demo tanpa tahu ada persoalan apa.

Baca juga  Gelar Vaksinasi Booster di 4 Pulau, Polsek Kep Seribu Utara Kejar Target Capaian Vaksin

Meskipun perwakilan mahasiswa membantah hal ini, tak dapat dipungkiri dan tak terbantahkan bahwa mereka telah ditunggangi. *Apalagi, 3 tokoh utama penggerak demo mahasiswa beberapa waktu yang lalu merupakan alumni jama’ah pengajian yang ada di Bogor, dan kita semua tahu kalau Bogor adalah salah satu wilayah yang terindikasi kuat menjadi sarang radikal.*

Jika mahasiswa saja yang notabene adalah generasi intelektual penerus bangsa sudah mereka kuasai, apalagi masyarakat biasa dengan mudahnya dibodoh-bodohi. Sehingga, dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang dalam keadaan darurat radikalisme.

Baru-baru saja seorang dosen di IPB tertangkap Densus 88 karena membuat dan menyimpan bom molotov yang rencananya akan dipakai untuk membakar ruko-ruko di sepanjang Grogol sampai ke Roxy di Jakarta.

Ini menjadi bukti kuat bahwa dunia pendidikan memang sarang utama kelompok radikal. Mereka menyebar sampai ke Dinas Pendidikan dan Pendidikan Tinggi. Menguasai buku yang harus dibaca pelajar dan mahasiswa sehingga bisa mendoktrin mereka sejak dini. Bahkan, beberapa kampus memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa yang hafal Kitab Suci. Sebuah program diskriminatif yang memanfaatkan dunia pendidikan untuk satu agama saja.

Melawan radikalisme di dunia pendidikan memang bukan tugas mudah. Mereka sudah ada di sana puluhan tahun lamanya. Bersarang dan beranak-pinak. Ada HTI, ada Ikhwanul Muslimin, ada Salafi dan Wahabi serta masih banyak lagi aliran yang punya agenda sama, yaitu membangun negeri khilafah di tanah air Indonesia. Meski konsep mereka sebenarnya berbeda. Dan kelak ketika mereka menguasai negeri ini, mereka akan bertarung sendiri satu sama lain untuk berebut konsep khilafah sesuai dengan kelompok mereka masing-masing.

Dan negeri yang indah ini kelak akan hancur tanpa warna ketika mereka mulai memaksakan hukum agama sebagai hukum negara. Selesai sudah Indonesia. Tidak ada lagi Pancasila yang dibangun di atas tetesan keringat, air mata dan darah para pejuang. Indonesia yang berdiri di atas perjuangan dan pengorbanan dari banyak suku, agama dan budaya, akan lenyap tak bersisa.

Baca juga  Cegah COVID-19, Hari ini Polres Kep Seribu Bagikan 350 Masker dan Sampaikan Imbauan ProKes ke Warga

Kini, pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan berjuang mempertahankan NKRI dan Pancasila, atau malah tunduk tak berdaya di bawah panji radikal dan khilafah.

Dan kesempatan kita hanya ada di lima tahun yang sangat menentukan ini. Saat Jokowi masih memerintah dan sedang berjuang melawan radikalisme. Kita harus ada disampingnya, mengawalnya sampai masa jabatannya berakhir. Dia adalah Panglima Perang terbaik yang pernah ada. Siapa yang mau berjuang bersama saya dan Jokowi??????

Jika bukan kita siapa lagi. Jika bukan sekarang kapan lagi. Bersama Haidar Alwi dan Jokowi, Lawan!!! Lawan!!! Lawan!!!

*R. HAIDAR ALWI*

*Penanggungjawab Tunggal Aliansi Relawan Jokowi (ARJ)*

*Tokoh Anti Radikalisme, Intoleransi, Rasisme & Terorisme* ; “Pembela Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Nasionalisme dan UUD’45” dan “Promotor Islam Rahmatan Lil Alamin”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here