Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Pokok-Pokok Pikiran dan Pernyataan Sikap Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dalam Lokakarya Pilar-Pilar Demokrasi dan Paskah Nasional GMKI

×

Pokok-Pokok Pikiran dan Pernyataan Sikap Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dalam Lokakarya Pilar-Pilar Demokrasi dan Paskah Nasional GMKI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

 

 

Example 300x600

Manokwari, Gramediapost.com

 

Pokok-pokok Pikiran

1. Di era milenial saat ini cakrawala informasi terbuka lebar, dengan berbagai perangkat teknologi yang diciptakan manusia. Segala hal dapat diakses dengan mudah dan dibutuhkan kekritisan dan kebijaksanaan dari setiap individu yang merupakan pelaku media sosial. Adapun tawaran preventif GMKI yaitu bagi pelaku media sosial diharapkan dapat mengkonsumsi konten berita/ informasi dengan pemikiran yang kritis-analitis-positif. Bila berita tidak kredibel dan terklarifikasi (hoax dan ujaran kebencian) maka jangan diteruskan, agar tidak menjadi genderang permasalahan berkelanjutan yang berujung konflik.

2. Terhadap pelanggaran HAM berat yang terjadi di Papua harus dipahami bahwa dipengaruhi banyak faktor yang  mengakibatkan banyak gesekan. Sampai saat ini, kasus-kasus pelanggaran HAM berat itu belum tuntas karena lembaga peradilan yang ada, tidak mampu menyelesaikan semua kasus tersebut. Kami mendorong dibentuknya lembaga peradilan HAM berat untuk menuntaskan semua kasus HAM di Tanah Papua, sebagai bentuk pengakuan sosial orang Papua secara sosio-historis.

3. Orang Papua juga harus punya tempat  yang layak yang diperuntukkan bagi peningkatan dan proteksi ekonomi Orang Asli Papua yang biasa disebut Pasar Mama Papua, sebagai bentuk pengakuan sosial orang Papua-Melanesia di bidang ekonomi.

4. Pemerintah Indonesia selama ini belum optimal memperkenalkan budaya Papua ke masyarakat luas, sehingga perlu untuk mengangkat budaya-budaya masyarakat Asli Papua di panggung masyarakat internasional dengan pendekatan kearifan lokal, sebagai bentuk pengakuan sosial orang Papua-Melanesia di bidang budaya.

5. Sikap masyarakat Indonesia lewat media massa, juga pemerintah termasuk Aparatur Sipil Negara kadang sangat diskriminatif terhadap masyarakat Asli Papua. Perlu ketegasan hukum untuk menyejajarkan masyarakat Papua dengan masyarakat Indonesia lainnya, sebagai bentuk pengakuan sosial orang Papua –Melanesia di bidang hukum.

*Pernyataan Sikap*

1. GMKI menyerukan tagline di medsos yaitu #basketping (baca, kritis, analitis, positif thinking).

2. Mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk menghentikan diskriminasi terhadap rakyat Papua mengenai akses lapangan pekerjaan dan juga lebih memprioritaskan kesetaraan ekonomi rakyat Papua.

3. Mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam mengangkat budaya-budaya Papua di level nasional dan internasional serta memberikan ruang yang lebih kepada rakyat Papua untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat Papua.

4. Mendorong legislatif Papua Barat untuk merumuskan dan bersama pemerintah mengesahkan tentang Raperdasus dan Raperdasi dana Otonomi Khusus untuk sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

5. Mendorong pemerintah membentuk lembaga pendidikan vokasional untuk memberdayakan masyarakat Papua.

6. Menuntut kepada lembaga peradilan dan penegak hukum Indonesia untuk menindak tegas pelaku diskriminatif yang berbau SARA terhadap masyarakat Papua dan menuntut Pemerintah mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM berat serta mengadili seadil-adilnya terhadap pelaku pelanggar HAM berat yang terjadi di Papua melalui pengadilan HAM.

Ut Omnes Unum Sint, Syalom!

Manokwari, Sabtu, 7 April 2018,

Teriring salam dan doa,

*Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia*

 

Example 300250
Example 120x600
Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…