Selingkuh Anak Bangsa

0
156

Oleh: Lintong Manurung

Konsep kebangsaan Indonesia bersumber dari perjuangan anak bangsa untuk mewujudkan cita-cita bersama menjadi bangsa yang bersatu, sejahtera, berkeadilan dan bermartabat. Konsep kebangsaan bertujuan untuk membangun dan mengembangkan persatuan dan kesatuan. Wawasan Kebangsaan yang digagas oleh para pendiri bangsa (founding fathers) ini menolak segala bentuk perbedaan (diskriminasi): suku, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ras, warna kulit, golongan dan status sosial.

Namun sejak merdeka hingga sekarang ini perwujudan dan pertumbuhan nilai kebangsaan di negeri ini mengalami pasang surut sesuai dengan perobahan dan penggantian era rezim penguasa dan pada tahun-tahun terakhir ini, dengan derasnya pengaruh globalisasi serta cepatnya perobahan peradaban dunia dari era industri kepada era “informasi dan berjejaring dengan ketergantungan terhadap gawai dan media sosial” mengakibatkan terganggunya proses pendewasaan bahkan tergerusnya nilai dan wawasan kebangsaan di tengah-tengah masyarakat.

Elite-elite politik tertentu untuk tujuan kepentingan kelompoknya berulang kali sudah memobilisasi massa dengan berbagai cara dan metoda melalui sosialisasi yang terarah, masif dan terstruktur menggunakan media sosial yang murah, cepat dan dapat bersosialisasi tanpa bertemu muka untuk menebarkan isu-isu: politik identitas, isu ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi, issu sektarian, dan dalam dekade terakhir ini, berkembang ideologi populisme yang ditujukan untuk memisahkan masyarakat dalam dua kelompok, rakyat kebanyakan dan elite yang menjadi musuh rakyat.

Selingkuh elit-elit politik yang tidak bertanggung jawab ini semakin meningkatkan kadar intoleransi ditengah masyarakat dan semakin tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok sektarian dan kelompok radikal yang mengingkari dan menghambat maksud dan tujuan kita sebagaimana diamanatkan oleh para pendirni bangsa dan negara kita ini.

Untuk menumbuh-kembangkan kembali wawasan dan nilai kebangsaan tersebut dan guna meredam serta menangkal gerakan kelompok sektarian dan gerakan radikal perlu dipulihkan rasa percaya diri, meningkatkan rasa saling percaya (mutual trust) dan saling menghormati dalam perbedaan dan keberagaman ditengah masyarakat.

Baca juga  GEREJA DAN POLITIK: BAGAIMANA SEHARUSNYA PERAN PIMPINAN GEREJA DALAM POLITIK?

Diperlukan upaya dan langkah-langkah konkrit yang harus menyentuh masyarakat akar rumput untuk;

1) Merawat dan melestarikan Pancasila, melalui pemberdayaan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) dalam pendidikan Pancasila, dengan menggalakkan dan meningkatkan peranan seluruh pihak terutama jaringan dan organ masyarakat yang berminat pada Pancasila.

2) Merawat dan melestarikan budaya daerah dan budaya Indonesia untuk menangkal pengaruh budaya impor yang merusak keIndonesiaan kita.

3) Melestarikan kearifan lokal.

Oleh : Lintong Manurung/Ketua Umum Komunitas Jabar Sejati