Aznaib Iriansyah Gindo, Direktur PT Nova Prima Utama: Pelopor EMR yang Kini Bidik Efisiensi Klaim BPJS Lewat AI
Jakarta, Gramediapost.com
Di tengah gelaran Indonesia International Hospital Expo 2026 di ICE BSD City, 7–10 Oktober 2026, AI Gindo mengungkap tantangan dan peluang transformasi digital di industri kesehatan Indonesia—dari penolakan dokter hingga fragmentasi sistem di rumah sakit pemerintah.
Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, kembali menjadi pusat perhatian industri kesehatan Asia Tenggara. Indonesia International Hospital Expo 2026 yang berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 mempertemukan lebih dari 600 perusahaan dan institusi dari dalam maupun luar negeri. Pameran teknologi medis terbesar di Asia Tenggara ini bukan sekadar ajang pamer produk, melainkan cermin pergeseran lanskap alat kesehatan Tanah Air: dari teknologi pendukung menjadi tulang punggung operasional rumah sakit.
Di tengah keramaian itu, satu nama mencuat sebagai pelopor transformasi digital kesehatan Indonesia. PT Nova Prima Utama, perusahaan penyedia sistem informasi rumah sakit, telah menerapkan Electronic Medical Record (EMR) sejak 2004–2008—jauh sebelum Kementerian Kesehatan mewajibkan integrasi dengan platform Satu Sehat.
AI Gindo, Direktur PT Nova Prima Utama, menuturkan bahwa perusahaannya termasuk yang pertama mengimplementasikan Hospital Information System (HIS) paperless di Indonesia yang Bernama VESALIUS. Di “Tahun 2004–2008, kita salah satu sistem yang pertama implementasi EMR (Electronic Medical Record). Waktu itu di RS Pondok Indah dan EKA Hospital, dan terakhir 2018 di Kasih Ibu Hospital Bali”, ujarnya di sela-sela acara Indonesia International Hospital Expo 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Namun, perjalanan itu tidak mulus. Tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan kesiapan sumber daya manusia dan resistensi budaya kerja. “Dokter juga harus pakai sistem. Tidak semuanya familiar dengan komputer. Mereka yang harus melakukan input order lab, radiologi, hingga resep elektronik. Itu bukan hal mudah,” kenang AI Gindo.
Fragmentasi sistem di rumah sakit pemerintah juga menjadi hambatan struktural. “Sistemnya terpisah-pisah. Billing punya sistem sendiri, lab sendiri, radiologi sendiri. Ada tiga sampai empat sistem, dan masing-masing punya ‘raja-raja kecil’. Butuh dorongan kuat dari pimpinan untuk mengubahnya,” tambahnya.
Regulasi Baru dan Momentum Satu Sehat
Kebijakan baru Kementerian Kesehatan yang mewajibkan EMR untuk integrasi dengan Satu Sehat menjadi titik balik. “Sekarang, mau tidak mau, rumah sakit harus beralih ke EMR. Ini momentum yang tepat,” tegas AI Gindo.
Ia menilai, integrasi data pasien dalam satu platform nasional akan meningkatkan kualitas layanan sekaligus efisiensi. “Dengan EMR, data pasien bisa diakses lintas fasilitas kesehatan. Ini akan sangat membantu dalam penanganan pasien secara holistik,” ujarnya.
Momentum ini juga sejalan dengan tema besar Indonesia International Hospital Expo 2026 yang menyoroti pergeseran pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dari sekadar teknologi pendukung menjadi bagian dari operasional pelayanan rumah sakit. Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-38 ini menjadi titik temu antara kebutuhan rumah sakit dan perkembangan teknologi kesehatan terkini.
AI untuk Optimasi Klaim BPJS
Tantangan berikutnya yang disorot AI Gindo adalah proses klaim BPJS. “Klaim BPJS sering menjadi beban administratif. Dengan AI, proses klaim bisa dioptimalkan,” jelasnya.
Menurut AI Gindo, AI dapat merumuskan diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, hasil laboratorium, dan radiologi, lalu menentukan ICD-Code yang tepat. “Prosesnya lebih cepat, pendapatan rumah sakit pun lebih cepat diterima. Efisiensi benar-benar dimunculkan,” ujarnya.
Optimalisasi klaim ini menjadi krusial di tengah tekanan efisiensi anggaran yang melanda industri kesehatan nasional. Dengan skema konsolidasi pengadaan dan efisiensi belanja pemerintah, rumah sakit dituntut untuk lebih cermat dalam mengelola sumber daya, termasuk memastikan klaim yang diajukan dapat diproses secara cepat dan akurat.
Mindset Pemilik Rumah Sakit Masih Jadi Kendala
Meski teknologi semakin matang, adopsi di lapangan masih terkendala pola pikir beberapa pemilik rumah sakit. “Tantangan terbesar masih mindset owner. Beberapa dari mereka berpikir, “Dengan kondisi existing system yang ada, dan rumah sakit masih beroperasi dan memberikan keuntungan, mengapa harus ada perubahan system?” “Padahal, transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” tegas AI Gindo.
Ia menekankan bahwa investasi teknologi kesehatan bukan sekadar biaya, melainkan investasi jangka panjang untuk efisiensi dan daya saing. “Kami punya paket yang disesuaikan, bahkan untuk klinik yang memiliki beberapa cabang atau rumah sakit yang memiliki 50-100 beds. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi ini dapat membantu,” pungkasnya.
Hospital Expo 2026: Panggung Transformasi Digital Kesehatan
Indonesia International Hospital Expo 2026 yang berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 di ICE BSD City menjadi panggung bagi perusahaan seperti PT Nova Prima Utama untuk menunjukkan solusi mereka. Pameran teknologi medis terbesar di Asia Tenggara ini menyoroti pergeseran pemanfaatan AI dari sekadar teknologi pendukung menjadi bagian dari operasional pelayanan rumah sakit.
Direktur Marketing dan Finance PT Okta Sejahtera Insani, Yudha Imam Sutedja, menegaskan bahwa perkembangan teknologi kesehatan membuat pemanfaatan AI perlu dilihat dari kebutuhan pelayanan rumah sakit, bukan hanya dari sisi kecanggihan teknologi. “Hospital Expo kami hadirkan sebagai titik temu antara kebutuhan rumah sakit dan perkembangan teknologi kesehatan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, dr. Bambang Wibowo, menambahkan bahwa AI kini telah masuk ke berbagai lini pelayanan rumah sakit. “Kecerdasan artifisial bukan lagi sekadar wacana masa depan, namun kenyataannya saat ini telah masuk ke dalam lini operasional klinis, manajemen data, hingga peningkatan mutu layanan pasien,” katanya.
Tren ini menjadi konteks penting bagi perusahaan seperti PT Nova Prima Utama. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dan portofolio implementasi EMR yang mumpuni, perusahaan berada di posisi yang relevan untuk menjembatani kebutuhan rumah sakit Indonesia dalam mengadopsi teknologi yang tengah berkembang pesat.
Catatan Redaksi
Perjalanan PT Nova Prima Utama di bawah kepemimpinan AI Gindo menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor kesehatan bukanlah sprint, melainkan maraton. Dibutuhkan ketekunan, visi jangka panjang, dan kemampuan beradaptasi dengan dinamika regulasi yang terus berubah. Keberhasilan adopsi EMR dan AI di rumah sakit Indonesia akan sangat bergantung pada tiga hal: kesiapan ekosistem rumah sakit dalam mengintegrasikan teknologi ke alur kerja klinis, kemampuan membangun kepercayaan tenaga medis terhadap sistem digital, serta dukungan regulasi yang konsisten dari otoritas kesehatan.
Jika ketiga prasyarat itu terpenuhi, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin dalam penerapan layanan kesehatan digital di kawasan regional—dari yang selama ini bersifat kuratif menjadi preventif, dari reaktif menjadi prediktif. (*)
—
Tentang PT Nova Prima Utama
PT Nova Prima Utama adalah perusahaan penyedia solusi sistem informasi rumah sakit (SIM RS) yang bernama VESALIUS yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade. Fokusnya meliputi implementasi EMR, integrasi sistem, dan optimalisasi proses bisnis rumah sakit. Dengan komitmen pada inovasi dan kualitas layanan, PT Nova Prima Utama terus mendorong transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia.



















