Tirai yang Robek dan Kemenangan di Golgota: Menyelami Penderitaan, Keterpisahan, dan Seruan ‘Tetelestai’ Melalui Lensa Teologi Surat-Surat Rasul Paulus
Penulis oleh: Johanes Libudony S.S Penerjemah madiya Litbang kumdil MA
Pengantar:
Salib Kristus sebagai Titik Balik Sejarah Kosmis
Bagi rasul Paulus, salib Kristus bukanlah sebuah tragedi kebetulan atau kecelakaan sejarah yang menyedihkan. Di bawah ilham Roh Kudus, Paulus melihat kayu salib sebagai pusat gravitasi alam semesta, tempat keadilan Allah dan kasih karunia-Nya bertemu secara sempurna.
Banyak orang merenungkan penderitaan fisik Yesus—paku yang menembus tangan dan kaki, tikaman tombak di lambung, serta sesahan cambuk Romawi. Namun, dalam surat-suratnya, Paulus menyingkapkan pendarahan rohani yang jauh lebih dahsyat: keterpisahan sementara Sang Anak dari keintiman kekal bersama Allah Bapa, ketika Yesus menanggung seluruh murka Allah atas dosa umat manusia.
Artikel ini mengajak Anda menelusuri kedalaman makna penderitaan tersebut dan deklarasi kemenangan “Tetelestai” (Sudah Selesai) ditinjau secara komprehensif dari seluruh surat Rasul Paulus.
1. Surat Roma: Menanggung Murka Allah dan Pendamaian yang Sempurna
Dalam surat Roma, Paulus meletakkan fondasi hukum dan teologis yang kokoh mengenai dosa manusia (“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”, Roma 3:23). Karena keadilan Allah menuntut hukuman atas dosa, murka Allah harus dinyatakan.
Di sinilah kita memahami betapa beratnya keterpisahan di kayu salib. Paulus menjelaskan dalam Roma 3:25 bahwa Allah telah menetapkan Yesus “menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” Kata “pendamaian” (dalam bahasa Yunani: hilasterion) merujuk pada tutup pendamaian di Tabut Perjanjian, tempat darah korban disemburkan untuk memalingkan murka Allah.
Ketika Yesus tergantung di salib, Ia tidak hanya menderita secara fisik; Ia berdiri di tempat kita sebagai sasaran murka Allah atas dosa-dosa kita. Keterpisahan dari Bapa terjadi karena Yesus “dibuat menjadi dosa” (2 Korintus 5:21), menanggung keterasingan spiritual dari neraka agar kita dibenarkan secara cuma-cuma melalui kasih karunia.
2. Surat 1 & 2 Korintus: Tukar Guling Rohani dan Kemenangan atas Kuasa Maut
Dalam surat-suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menyoroti dimensi pertukaran kosmis yang terjadi pada kayu salib. Dalam 2 Korintus 5:21, Paulus menuliskan ayat yang sangat kuat:
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”
Bayangkan pertukaran ini: Yesus, yang selama kekekalan menikmati persekutuan yang tak terputus dan penuh sukacita dengan Bapa, harus mengalami “pemutusan hubungan” rohani yang paling mengerikan. Ia mengalami kegelapan total dan keterpisahan agar kita, yang tadinya adalah musuh Allah karena dosa, diadopsi ke dalam keluarga-Nya.
Selanjutnya, dalam 1 Korintus 1:18, Paulus menyebut pemberitaan tentang salib sebagai “kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan, kekuatan Allah.”
Seruan Tetelestai yang dikumandangkan Yesus di salib menggemakan kemenangan mutlak atas maut, maut yang kehilangan sengatannya karena utang dosa telah dibayar lunas.
3. Surat Galatia: Kristus yang Menjadi Kutuk demi Memerdekakan Kita
Salah satu surat Paulus yang paling berapi-api dalam membela kemurnian Injil adalah surat Galatia. Di sini, Paulus menjelaskan persis arti penderitaan Yesus di kayu salib dari sudut pandang hukum Taurat.
Dalam Galatia 3:13, Paulus menuliskan:
“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah siapa yang digantung pada kayu salib!’”
Kutuk utama dari Hukum Taurat adalah pemisahan dari Allah—kematian rohani. Untuk menebus kita dari kutuk tersebut, km harus rela menanggung kutuk itu sepenuhnya atas diri-Nya sendiri.
Keterpisahan dari Bapa di kayu salib adalah puncak penanggung kutukan tersebut. Ketika Yesus berseru (Tetelestai), kutuk itu telah dipatahkan untuk selama-lamanya, dan berkat Abraham kini mengalir kepada setiap orang yang percaya.
4. Surat Efesus & Filipi: Kerendahan Hati yang Total dan Pendamaian yang Merubuhkan Tembok Pemisah
Dalam surat Efesus dan Filipi, Paulus membawa kita melihat isi hati Yesus dalam menghadapi penderitaan di salib.
Dalam Filipi 2:6-8, Paulus memaparkan inkarnasi hingga kematian Yesus:
“…walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba… dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Pengosongan diri (kenosis) mencapai titik nadirnya di kayu salib, di mana keterpisahan dari Bapa menjadi harga tertinggi dari ketaatan-Nya.
Sementara itu, dalam Efesus 2:13-14, Paulus menunjukkan hasil dari pengorbanan itu: “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah ‘dekat’ oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita…” Keterpisahan Yesus dengan Bapa di kayu salib justru merubuhkan tembok pemisah antara Allah dan manusia, serta antara sesama manusia.
5. Surat Kolose: Menghapuskan Surat Hutang di Kayu Salib
Jika kita mencari korelasi langsung antara teologi Paulus dengan kata “Tetelestai” (sudah Lunas dibayar), surat Kolose memberikan penjelasan yang sangat terang-benderang.
Dalam Kolose 2:13-14, Paulus menuliskan:
“Kamu, yang pada waktu itu mati karena pelanggaranmu dan karena tidak disunat secara daging, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakannya dengan memakukannya pada kayu salib.”
Frasa “memakukannya pada kayu salib” merupakan gambaran stempel pelunasan. Ketika Yesus berseru “Tetelestai”, Ia sedang menyatakan bahwa seluruh surat dakwaan atas dosa-dosa kita telah dibatalkan, dicap lunas, dan ditandatangani dengan darah-Nya sendiri di atas kayu salib.
Penderitaan berat keterpisahan-Nya menghasilkan kebebasan mutlak bagi kita.
6. Surat-surat Lainnya (Tesalonika, Pastoral, hingga Ibrani): Buah Kekekalan dari Salib
Melalui surat-surat penggembalaan dan eskatologisnya (1 & 2 Tesalonika, Timotius, Titus), Paulus secara konsisten mengarahkan pandangan jemaat kepada keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus sekali untuk selamanya.
Meskipun penulis Kitab Ibrani sering kali diperdebatkan apakah itu murni tulisan tangan Paulus atau lingkaran teologinya, pesannya sejalan dengan semangat Paulus: Yesus masuk ke dalam tempat yang makakudus sekali untuk selamanya bukan dengan darah domba, melainkan dengan darah-Nya sendiri, membawa penebusan yang kekal (Ibrani 9:12). Keterpisahan sesaat itu membuka jalan masuk yang kekal bagi kita ke dalam takhta kasih karunia.
Kesimpulan: Dari Keterpisahan Menuju Persekutuan yang Tak Terpisahkan
Menelaah pengorbanan Yesus melalui kacamata seluruh surat Rasul Paulus membawa jiwa kita pada rasa syukur yang tak terhingga.
Yesus mengalami keterpisahan yang paling berat dari Allah Bapa di kayu salib,
Agar kita yang percaya tidak akan pernah mengalami keterpisahan kekal dari Allah,
Dan mendeklarasikan “Tetelestai” sebagai tanda bahwa keselamatan kita telah rampung, tuntas, dan dibayar lunas sepenuhnya.
Salib bukan lagi lambang kekalahan, melainkan mercusuar kasih karunia terbesar di alam semesta.



















