Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Pengurus Pusat Pemuda Katolik Gelar Diskusi “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI Dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)”.

×

Pengurus Pusat Pemuda Katolik Gelar Diskusi “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI Dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)”.

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pengurus Pusat Pemuda Katolik Gelar Diskusi “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI Dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)”.

 

Example 300x600

Bernegara Era AI Dengan Kompas Pancasila Dan Prinsip Magnica Humanitas.

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Pada hari Jumat tanggal 5 Juni 2026 pada jam 16.30 WIB sore hari yang indah bertempat di Posto Domire Hotel Sudirman di adakan sebuah diskusi publik dari Pengurus Pusat Pemuda Katolik dengan tema “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI Dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)”.

iDiskusi ini dihadiri dengan narasumber RD Aloysius Budi Purnomo,PR sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI;Sabrang Mowo Damar Panuluh sebagai Pemerhati Sosial Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional;Nurul Arifin sebagai Anggota Komisi I DPR RI;Dokter Lukas sebagai Ketua Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS) dan RD Ferry Sutrisna Wijaya sebagai Aktivis Lingkungan Hidup Ketua EcoCamp.
Menurut Dokter Lukas mengambil tema “Melawan Eksploitasi Digital Dengan Magnifica Humanitas”.Tiga resiko yang harus kita akui bersama adalah opaqueness (kotak hitam);eksploirasi buruh digital dan ketimpangan baru.Yang tidak bisa di tawar:akuntabilitas manusia ialah human in the loop,larangan senjata otonom dan audit berkala.Saya memilih menjinakkan,bukan menyerah.AI bukan musuh.Tapi AI yang tidak di kendalikan etika yaitu alat berbahaya.Dengan AI sebagai teknologi mampu mempunyai kapasitas dibandingkan manusia.Manusia lebih tinggi daripada AI.Kita sebagai manusia jangan pasif untuk AI dan kita sebenarnya punya kendali untuk AI.AI bisa membatu guru untuk menjelaskan ini ada yang kurang supaya melatih berpikir kritis.Jangan khawatir kita bisa hidup tanpa AI.
Menurut Nurul Arifin mengambil tema “Magnifica Humanitas,Etika AI,Dan Pancasila”.Poin kunci Humanitas Magnifica (2026) adalah teknologi tidak pernah netral:setiap algoritma membawa implikasi moral dan tanggung jawab langsung dari penciptanya;Babel vs Yerusalem:menolak “Menara Babel” (monopoli kekuasaan digital yang angkuh dan terpusat) dan mendorong “Yerusalem baru” (teknologi yang inklusif untuk membangin komunitas manusia);kendali mutlak manusia:keputusan krusial terkait hukum,nedis,dan nasib hidup manusia tidak boleh di serahkan pada robot AI dan nilai sebuah jiwa tidak bisa di reduksi menjadi sekadar tren data dan angka statistik;pemberantasan senjata otonom:Gereja Katolik mengutuk keras integrasi AI dalam sistem persenjataan militer dan penghapusan tanggung jawab moral dalam perang membuat Just War Theory (Teori Perang yang Adil) menjadi usang dan keadilan sosial dan krisis kebenaran:menolak otomatisasi industri yang memicu PHK masssal tanpa jaminan kesejahteraan pekerja dan melawan penyebaran hoaks dan deepfakes yang merusak kepercayaan publik pada realitas.Pancasila dalam kontrks etika AI ialah sila 1:menolak penyembahan berhala teknologi AI ialah alat,bukan pencipta kebijaksanaan;sila 2:manusia berhak atas privasi dan kebenaran AI di larang mereduksi harkat manusia menjadi sekadar angka algoritma komersial;sila 3:melawan bias algoritma pemecah belah dan manipulasi informasi demi persaudaraan:sila 4:kebijaksanaan dalam adopsi teknologi AI tidak boleh menggantikan musyawarah,mufakat,dan diskresi hukum manusia dan sila 5:menentang monopoli ekonomi digital oleh segelintir korporasi teknologi global AI wajib inklusif dan menyejahterahkan selurub rakyat,bukan memicu kasta sosial baru.Regulasi AI di Indonesia yaitu kondisi hukum saat ini yaitu Surar Edaran Menkominfo No.9/2003:mengatur 9 prinsip AI,namun sebatas imbauan moral (soft law) tanpa sanksi hukum;UU PDP dan UU ITE:mengamankan data pribadi dan system digital,tetapi belum menyentub tata kelola algoritma AI secara spesifik dan Kebijakan Sektoral (2026):Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri membatasi pemakaian AI di sekolah dasar atau menengah untuk memitigasi penurunan kognisi anak.Celah hukum yang dapat di isi yaitu:dapat di dorong lahirnya regulasi tata kelola AI (hard law) agar pelanggaran moral etika teknologi bisa di pidana atau di denda dan dapat mewajibkan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk memberi label digital otomatis pada video atau audio hasil AI guna memberantas deepfakes.AI tidak ingin didrive,dikolonisasi kita sedang dibodohkan dan kalau dibiarkan terus bisa terjadi konflik dan perang saudara..Media sosial yang banyak digunakan seperti facebook,you tube,instagram dan lain-lain.yang terjadi hoaks seperti ibu-ibu dan bisa dikenai undang-undang ITE.AI ini sudah darurat Kita di drive sinyal kepala kita diambil oleh satelit masuk ke otak kita.AI bisa membuat kurikulum atau silabus.Jangan sampai kita di bodohi oleh Ai.Kita harus menggunakan otak kita dan menyaringnya untuk AI.
Menurut Sabrang Inti “Magnifica Humanitas” dalam Ensiklik Perdana Paus Leo XIV, 15 Mei 2026 adalah Inti “Magnifica Humanitas” = Menjaga martabat manusia di zaman AI.Judulnya Latin:Magnifica Humanitas adalah “Kemanusiaan Yang Agung”.Pesan utama Paus Leo XIV adalah:Manusia tidak bisa direduksi jadi data.AI bisa proses info cepat, bisa “meniru” bahasa, empati, analisis.Tetapi AI tidak punya jiwa, hati nurani, kasih, kebebasan moral.“Teknologi tidak pernah netral” karena membawa nilai orang yang buat dan memakai;martabat manusia adalah gambar Allah, bukan hasil algoritma.

Manusia diciptakan seperti imago Dei sesuai dengan gambar Allah Tritunggal. Nilai manusia tidak diukur dari produktivitas, data, atau efisiensi ekonomi.Bahaya terbesar: manusia dinilai dari statistik perilaku atau kemampuan konsumsi, lalu kehilangan kedalaman spiritual;pilihan zaman ini adalah Babel vs Yerusalem.Babel adalah membangun dunia dengan kuasa, dominasi, swasembada, perang.Yerusalem adalah membangun kota tempat Allah dan manusia tinggal bersama, dengan keadilan, dialog, tanggung jawab bersama.Jadi AI harus melayani seperti common good bukan menggantikan manusia;AI boleh dipakai, tapi butuh kewaspadaan dan tata kelola untuk kerja yang melindungi martabat pekerja dari otomatisasi yang menghilangkan tujuan hidup,kebenaran AI bisa buat ilusi relasi dan deepfake politik. Butuh “ekologi komunikasi” dan perang.Mengecam AI dalam peperangan yang hilangkan kendali manusia. “Teori perang adil sudah usang”;pertobatan historis.Paus minta maaf karena Gereja 18 abad tidak mengutuk perbudakan secara mutlak. Ini jadi cermin: manusia bisa tahu kebenaran tapi tetap override hati nurani. AI hari ini bisa jadi bentuk “perbudakan baru”.Bedanya dengan Humanisme Sekuler pada dasar martabatnya:manusia bernilai karena akal, otonomi, hak asasi. Sumbernya manusia sendiri.

Manusia bernilai karena di ciptakan segambar dengan Allah seperti Imago Dei.Martabat pemberian, bukan pencapaian;ukuran agung:potensi manusia: sains, kreativitas, kemajuan. “Manusia ukuran segala sesuatu.” Cenderung ke transhumanisme manusia upgrade diri pake teknologi jadi “lebih dari manusia”.Kemegahan manusia justru karena terbatas, berelasi, bisa kasih dan terima kasih.

Yang “lebih dari manusia” sejati adalah rahmat bukan chip di otak;kebebasan:Otonomi mutlak. Bebas dari agama, tradisi, otoritas luar. Kebebasan untuk mengasihi dan bertanggung jawab.Kebebasan sejati adalah komuni dengan Allah dan sesama;solusi masalah AI:regulasi, etika berbasis konsensus manusia, HAM.Regulasi,pertobatan hati dan prinsip ajaran sosial gereja,common good,solidaritas,subsidiaritas dan keadilan sosial.

AI dinilai dari apakah dia bikin manusia makin “berkomuni” atau makin “mendominasi”;nasib penderitaan dan batas:batas adalah masalah teknis untuk diatasi. Penderitaan harus dihapus dengan teknologi.Batas adalah bagian dari kemanusiaan.Penderitaan, relasi, kehilangan justru tempat kita alami “hati” yang tidak bisa diprogram dan tujuan akhir:manusia sejahtera di bumi.Surga tidak perlu.Membangun kota tempat Allah dan manusia tinggal bersama.Teknologi harus bantu manusia sampai ke tujuan akhir: persekutuan dengan Allah.

Kalimat kunci Paus Leo XIV adalah “Ketika martabat manusia terancam oleh bentuk-bentuk dehumanisasi baru, kewajiban kita yang mendesak adalah tetap menjadi manusia seutuhnya. Kita harus dengan penuh kasih menjaga kemegahan kemanusiaan yang dianugerahkan kepada kita, kemegahan yang tidak akan pernah dapat digantikan oleh mesin”.Pada tahun 1891 Paus Leo XIII menjawab zaman revolusi industri ada buruh ditindas mesin uap, kesenjangan kaya dan miskin meledak dan keluarga pecah karena urbanisasi.

Pada tahun 2026 Paus Leo XIV menjawab pada zaman revolusi AI ada manusia ditindas algoritma, martabat kerja kabur, kebenarandibanjiri deepfake, perang bisa jalan tanpa hati nurani.Kata Paus Leo XIV AI adalah salah satu aspek penentu dari perubahan zaman kontemporer.Kalau Gereja diam sekarang, sama seperti diam pas buruh diperbudak pabrik abad 19.“Teknologi tidak pernah netral, karena ia mengambil sifat orang yang merancang, mendanai, mengatur, dan menggunakannya”.Kita punya identitas sebagai sudut pandang dan kita harus punya martabat.Indonesia membutuhkan orang-orang yang peduli.

RD Aloysius Budi Purnomo,PR mengatakan dalam terang Sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, AI bukan tujuan.AI ialah alat gotong royong digital untuk membuat “seluruh rakyat” berbagi.Paus Leo XIV di Magnifica Humanitas mengatakan: “Teknologi tidak netral. Ia harus untuk common good.Sila 5 itu versi Pancasila dari common good.Jadi kalau AI tidak di pakai buat angkat yang tertinggal, itu bukan keadilan. Itu Babel digital.Dialektika Sila 5 vs AI ialah:tesis sila 5:Negara wajib hadir agar si miskin, si pinggir, si sakit dapat akses sama;antitesis AI liar:digital divide semakin lebar.Yang kaya punya tutor AI 24 jam, dokter AI, lab AI. Yang miskin? Sinyal saja susah dan sintesis:”Negara pakai AI sebagai “subsidiaritas digital”.AI turun tangan justru di titik yang swasta tidak mau masuk karena tidak cuan.Masalah sila 5:anak Papua vs anak Menteng kualitas gurunya beda langit-bumi. 3T kekurangan 50.000 di tambah guru.AI sebagai alat keadilan sosial:tidak ada guru berkualitas:Tutor AI Nasional.LLM dilatih kurikulum Merdeka di tambah budaya lokal. Gratis di HP. Bisa ngobrol bahasa daerah. Anak Nias tanya fisika pakai bahasa Nias. Data dilatih bebas bias Jawa-sentris.Guru sebagai manusia tetap pegang peran kasih dan karakter.AI ialah asisten,bukan pengganti;buta huruf dan numerisasi dasar:deteksi dini kesulitan belajar.AI scan tulisan atau tangkapan suara anak TK-SD. Kalau disleksia atau diskalkulia, langsung kasih modul adaptif di tambah alert ke Puskesmas dan guru.Data anak dijaga ketat. Tidak dijual. Orang tua ikut memutuskan intervensi. Sila 4: musyawarah;putus sekolah karena miskin:jalur kredit dan keahlian mikro.AI nilai portofolio anak magang di bengkel atau kebun. Konversi jadi SKS atau sertifikat. Ijazah tidak harus dari sekolah gedung. Negara akui sertifikat AI. Sila 5: buka akses kerja formal buat anak pinggir;guru terbebani administrasi:asisten guru AI.Membuat RPP, koreksi esai, lapor nilai otomatis. Guru 3T bisa fokus mengajar dan mendengar hati murid.Guru dilatih pakai AI. Tidak PHK guru. Sila 2: kerja harus memanusiakan.Kunci AI di pendidikan ialah pemerataan guru hebat.Kalau dulu cuma anak kota bisa les sama dosen UI, sekarang anak Asmat bisa tanya Einstein versi AI jam 2 pagi.AI dalam konteks Paus Leo memang mengandung bahaya dalam konteks religius.Dalam konteks pancasila ada 5 unsur ada hembusan Roh atau ruah dan menghasilkan nada.Orang sudah dikuasai oleh AI bagaimana AI jangan diperbudak tetapi jadikan persatuan musyawarah mufakat mwnyangkut yang lemah maka ensiklik ini sumbernya Ketuhanan Yang Maha Esa.AI itu bermoral kalau jujur.Di KWI ada asupan magisterium ajaran katolik dan dokma doktrin tertentu supqya AI tidak salah menjawab.Tetaplah gunakan akal sehat dan hati murani.
RD Ferry Sutrisna Wijaya mengatakan Paus Leo XIV di Magnifica Humanitas menegaskan:AI dapat memproses informasi dengan sangat cepat, tetapi tidak memiliki jiwa, hati nurani, kasih, ataupun kebebasan moral. Mesin dapat ‘meniru’ bahasa manusia, tetapi tidak dapat sungguh mengasihi.Magnifica Humanitas tidak meminta Gereja membuat AI sendiri.Tetapi meminta Gereja hadir biar AI tidak membuat lupa manusia siapa dirinya.

Paus Leo XIV mengatakan teknologi mengambil sifat orang yang menggunakan.Jadi kalau hati umat buduk,AI juga busuk.Kalau hati umat terang,AI juga bisa jadi terang.Ada salah satu tokoh demonstratif pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil bersujud.Paus Leo sedang menghadapi suatu krisis yang sangat berat di seluruh dunia.

Gereja Katolik tugasnya di tengah masyarakat bukan hanya di dalam gereja.AI itu sebagai konteks yang di terbitkan dalam bertumbuh bukan ensiklik.AI kalau dibiarkan akan menjadi menara babel.Magnica Humanitis untuk semua umat manusia.Dokumwn ini mengingatkan manusia harus bermartabat.Mari baca Magnifica Humanitas.

 

(Susan Sandy)

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *