MANUSIA YANG HARUS SENANTIASA MEMUJI TUHAN
Oleh: Johanes Libu doni, SS
Penerjemah ahli Muda Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Suatu sore yang cerah aku menemukan seorang nenek berjalan bungkuk dengan sekarung barang rongsok di punggungnya. Kedua tangannya memegang tongkat besi yang digunakannya untuk memapah langkahnya. Tiap langkahnya goyah dan tak berdaya oleh lelahnya yang seharian bekerja mencari nafkah memungut botol, besi, gelas plastik, dll. sang nenek menatap ke depan untuk melihat semua halangan yang menghambat jalannya. Aku berpapasan dengannya menawarkan sebotol minum kemasan agar meringankan lelahnya dan memuaskan dahaganya. Sang nenek tersenyum manis dengan gigi-giginya yang masih utuh karena sirih pinang yang ia kunyah. “terimakasih nak, “ujarnya.
“Tolong buka botolnya agar saya bisa minum.” Katanya. Kubuka botol minum kemasan tersebut dan kuhunjukan ke muka nenek tersebut agar segera diminum airnya. Segera sang nenek meneguk air dari botol minum kemasan tersebut dan merasa lega karena dahaganya sudah berakhir. Setelah sang nenek meneguk botol minuman kemasan tersebut, aku meneruskan perjalananku pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Rasa bahagia mengisi hidupku yang fana ini karena senyuman lega dari sang nenek yang identitasnya tidak kukenal sama sekali Bahagiaku sangatlah besar karena sang nenek memuji Tuhan dengan mengatakan.”terpujilah nama Tuhan.”
Lantas kuparkir sepeda motorku di garasi dan kurenungkan kejadian yang singkat tersebut karena Tuhan yang Maha Kuasa telah dipuji dan diagungkan oleh sang nenek. Itulah tujuan hidupku yang adalah memuji Tuhan yang kebaikan dan rahmatnya tidak pernah berhenti menguasai hidup manusia namun setiap orang tidak pernah menyadarinya.
Pertanyaanku berikutnya adalah mengapa tidak ada yang melihat sang nenek merasa dahaga tersebut? Mungkin Tuhan menghendaki agar diriku memberikan sebotol minuman kemasan tersebut agar diteguk oleh sang nenek dan nama Tuhan dimuliakan senantiasa. Orang di sekitarnya yang adalah pasar mungkin tidak dibuka mata hatinya oleh Tuhan sehingga derita sang nenek tidak ada yang memperhatikan.
Tujuan Tuhan dengan peristiwa tersebut adalah kemulaiaan nama-Nya berkumandang di muka bumi ini. Nama Tiuhan yang memang punya kuasa untuk melakukan segala sesuatu tanpa halangan apappun.
“Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu, puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” ( Mazmur 34:2). Raja Daud sangatlah merasa butuh untuk memuji Tuhan setiap waktu karena segala kebaikan-Nya yang begitu besar dalam hidupnya. Kebaikan Tuhan ini sungguh dirasakan oleh Raja Daud karena Tuhan senantiasa memberikan kasih dan rahmat-Nya secara berlimpah pada Raja Daud. Kebutuhan untuk memuji Tuhan itu merupakan hal yang senantiasa mengguasai Daud karena Kasih Tuhan menyelimuti hidupnya yang berlumur dosa. Baginya nama Tuhan adalah sesuatu yang harus dikedepankan dalam menjalani kehidupan sebab hanya Tuhanlah yang pasti menolong dan membimbingnya pada hidup bahagia yang penuh sukacita surgawi. Bahkan Raja Daud sungguh merasa sukacita yang teramat dalam karena berdiam di rumah Tuhan itu lebih baik daripada berhari-hari di tempat lain. ”
Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11).Bagi Raja Daud hidup dalam pelataran rumah-Nya lebih berharga dan membawa damai sejahtera daripada banyak hari di rumah orang yang tidak mengimani Tuhan. Pelataraan rumah Tuhan artinya adalah hadirat-Nya yang sungguh nyata dalam hidup setiap orang beriman.Hadirat Tuhan yang konkrit sebenarnya ada dalam hidup kita sehari-hari dan dekat sekali dengan diri kita saat kita melintasi jalan raya menggunakan sepeda motor atau kendaraan mobil pribadi. Banyak saudara-saudari kita yang belum beruntung hidupnya karena mereka harus menyambung hidup memungut botol bekas. Mengamen, mengemis, buta, tuli, lumpuh dll. ”
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Lukas 25: 35-40).
Dalam ayat ini Tuhan mau memberitahukan bahwa semua orang yang terpinggirkan, tersudutkan, terlupakan, terabaikan, terbelakang, terasing, teraniaya, dll merupakan representasi dari Tuhan sendiri yang memang peduli pada kaum lemah dan teraniaya. Para kaum rentan dan terlupakan tersebut memang seringkali menjadi bahan olok-olokan semua orang dan seringkali kehadirannya tertolak dan tidak diinginkan sama sekali. Tetapi hal tersebut merupakan kesempatan bagi kehadiran Tuhan yang Mahakuasa dan superpower untuk menghalau kesulitan yang menghambat kaum rentan dan terlupakan tersebut. Itu artinya Tuhan sangat mengasihi kaum rentan tersebut karena mereka begitu hina dan tak rupawan sehingga diabaikan kehadiran dan eksistensinya di tengah masyarakat.
Kehadiran Tuhan tersebut haruslah disadari oleh setiap orang sebab orang-orang teraniaya tersebut merupakan representasi Tuhan sendiri yang tidak boleh dianggap sepele. Rentan dan tak berdaya adalah bukti bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam kelemahan setiap orang yang mendambakan dan merindukan belaian kasih Tuhan. Kerinduan kaum lemah dan terlupakan akan kehadiran Tuhan senantiasa terpuaskan oleh usaha mereka untuk bekerja sebagai pemulung, pengemis, pengamen.
Kehadiran Tuhan ini bukanlah sebuah ilusi karena Ia adalah Tuhan yang hidup hingga saat ini menerangi hidup manusia untuk menyatu dengan diri-Nya.
Pujian kepada Tuhan merupakan keharusan bagi manusia untuk membesarkan nama-Nya yang Mahakudus.
Mengapa pujian kepada Tuhan merupakan sebuah keharusan? Pujian kepada Tuhan merupakan sebuah keharusan karena Tuhan merupakan sumber dan tujuan hidup manusia yang hidup di muka bumi ini. Hal ini berarti bahwa hadirat Tuhan merupakan sebuah kekuatan mahadahsyat yang akan mampu menyokonng hidup manusia untuk bergerak, berpikir, bertindak, menyelesaikan aneka permasalahan hidup, memuji Tuhan, berbuat baik, tersenyum, menangis dll. Pujian kepada Tuhan tidak bisa ditunda, dilupakan atau bahkan diabaikan karena kasih dan kebahagiaan itu hanya bersumber dari Tuhan Yang Mahakuasa.
“Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Matius 22: 37-40).
Tuhan Yesus melalui injil Matius menekankan hal yang amat fundamental dan hakiki yaitu kasih kepada Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi merupakan keharusan yang tanpa syarat karena hal tersebut langsung diperintahkan oleh Tuhan Yesus. Sang Penguasa dan Pemberi Hidup. Hidup manusia hanya bisa bermakna dan memiliki nilai bila persatuan dengan Tuhan Yesus terjadi melalui pujian dan kasih yang besar.
Bahkan Rasul Yohanes menyadari penuh bahwa bukanlah manusia yang mengasihi Allah namun Allah lah yang mengasihi manusia. “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.(1 Yohanes 4:10).
Kemampuan memuji dan memuliakan nama Tuhan akan terjadi jika kemurahan dan kebaikan Tuhan menyertai tiap langkah manusia yang pada dasarnya membutuhkan rahmat yang besar untuk masuk dalam pujian kepada Tuhan. Tanpa rahmat Tuhan manusia tidak dapat memuji Tuhan dengan sempurna dan penuh sukacita karena kemampuan berhubungan langsung melalui doa dan penyembahan tidak diberikan kepada setiap orang. Melainkan dianugerahkan kepada siapapun yang berkenan di hati Tuhan.Oleh karena itu, manusia membutuhkan rahmat pertobatan agar menerima kasih dan kemurahan Tuhan melalui Yesus, Sang Putera Allah yang telah mendamaikan manusia dengan Tuhan.Rahmat pertobatan ini adalah anugerah terbesar bagi manusia yang harus terus dijaga dan dipelihara supaya memberikan dampak luar biasa bagi hidup manusia dan sesama. Kasih Tuhan yang amat besar melalui peristiwa salib di bukit golgota merupakan bukti konkrit keseriusan Tuhan untuk membawa manusia kembali “PULANG KAMPUNG” ke kampung halaman surgawi.
Manusia yang membutuhkan pertobatan diakomodir oleh Tuhan melalui Tuhan Yesus yang akan mengalirkan kasih-Nya kepada setiap orang yang dikehendaki-Nya. Pertobatan yang dijalani manusia setiap hari akan memampukannya memuji Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi karena Tuhan sendiri hadir dalam diri oarng tersebut. Pujian kepada Tuhan pasti akan terjadi setiap hari karena Tuhan berkehendak agar setiap orang memperoleh keselamatan abadi yaitu hidup kekal bersama Tuhan Yesus dalam sinar kemuliaan baka yang tidak akan tergerus oleh waktu. Pujian kepada Tuhan tidak akan berhenti dengan sendirinya karena Tuhan sendiri yang akan memampukan manusia untuk menyembah Tuhan dalam roh dan kebennaran karena hati dan jiwa manusia telah menyatu dengan Roh Kudus yang dikaruniakan oleh Tuhan saat kita dibabtis.Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang memampukan manusia memuji Tuhan dengan mulutnya dan perbuatan nyata setiap hari. Kasih dan kebaikan Tuhan tidak akan pernah berhenti menyelimuti manusia yang berharap pada keselamatan kekal dalam Kristus Yesus Tuhan Kita.
Kasih dan kebaikan Tuhan merupakan pemberian cuma-cuma dari Allah agar manusia mengalami Tuhan yang benar-benar hidup mengiringi langkah hidup manusia menuju hidup yang kekal. Kasih dan kebaikan Tuhan yang membuat kita bertobat bukan merupakan usaha kita untuk meraihnya namun dicurahkan secara gratis tanpa pamrih oleh Tuhan sendiri. Oleh karenanya, manusia tidak bisa menyombongkan dirinya untuk bersikeras bahwa semua kebahagiaan, kekayaan, bakat, talenta, kegembiraan,sukacita dan damai sejahtera merupakan jerih payah manusia untuk mencapainya melalui perbuatan baik manusia. Hal tersebut merupakan kemurahan Tuhan yang tidak bisa dibeli dengan uang, emas, perak dan kerja keras manusia. Melainkan hal tersebut diberikan secara sukarela oleh Tuhan yanng telah mengasihi manusia tanpa batas melalui Tuhan Yesus yang mati di kayu salib dan dibangkitkan oleh Allah Bapa pada hari yang ketiga.
“Ia harus makin besar, sedangkan aku semakin kecil.” (Yohanes 3:30). Ketika Santo Yohanes Pembabtis melihat Tuhan Yesus lewat ia memberikan pernyataan bahwa Tuhan Yesus haruslah semakin besar sedangkan dirinya haruslah semakin kecil dan tak berarti. Santo Yohanes Pembabtis menyadari bahwa ia perlu rendah hati untuk menerima rahmat dan kebaikan Tuhan yan bersumber dari Allah Bapa di surga. Nama Tuhan haruslah semakin besar dimuliakan oleh semua orang dan manusia yang adalah abdi hanya menjadi sarana bagi hadirnya Tuhan dalam semua peristiwa hidup manusia.
Santo Yohanes pembabtis menghabiskan hidupnya di padang gurun dan mewarttakan pertobatan kepada setiap orang Yahudi yang hidup pada zaman Yesus. Siapapun yang percaya akan dibabtis dan menerima rahmat pertobatan yang merupakan pintu masuk bagi keselamatan kekal. Dia menganggap bahwa kemuliaan Tuhan haruslah semakin besar dan kehadirannya haruslah semakin tak dikenal serta tak masuk hitungan. Mengapa kemuliaan Nama Tuhan harus semakin besar sedangkan manusia semakin kecil? Kemuliaan Tuhan harus semakin besar karena Ia adalah Pencipta kita dan Pemberi Hidup bagi setiap manusia yang membutuhkan kasih dan pengampunan. Manusia harus menjadi semakin kecil dan tak dikennal karena manusia diprogram oleh Tuhan untuk menjadi sarana kehadiran-Nya bagi setiap orang yang hidup dalam kegelapan dan kejahatan.”
”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Matius 5:13-16).
Tuhan Yesus menekankan sebuah peran yang harus dilaksanakan oleh manusia yaitu menjadi garam dan terang dunia yang hidup dalam ketawaran hati dan kegelapan hati.Tugas manusia memang tidaklah mudah karena setiap orang harus menjadi wajah Allah di tengah-tengah dunia yang membutuhkan pertobatan dan kasih kepada Tuhan. Dengan menjadi garam dan terang dunia, manusia memuji Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya meskipun setiap orang seringkali meninggalkan Tuhan.Pujian kepada Tuhan melalui lagu lagu rohani dan perilaku yang sejalan dengan perintah Tuhan merupakan peran serta manusia untuk membawa Tuhan pada setiap orang yang membutuhkan pertobatan. Namun sebaliknya, jika manusia tidak dapat menjadi garam dan terang dunia, maka manusia tidak akan bisa menjadi rekan kerja Allah dan Nama Tuhan tidak dapat dimuliakann di seluruh bumi karena nama yyang dimuliakan adalah nama manusia itu sendiri. Artinya manusia lebih menyombongkan perannya dan kehadirannnya dibandingkan dengan kemuliaan Nama Tuhan yang jauh lebih penting dan utama. Kesombongann dan ketamakan manusia menutupi kemuliaan Nama Tuhan yang seharusnya terpancar dalam diri manusia yang mendambakan keselamatan kekal.
Oleh karena itu manusia membutuhkan kerendahan hati untuk membiarkan Tuhan menguasai hidupnya dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan sejati bagi manusia. Dengan begitu manusia akan menurunkan kesombongann dan ketamakannya agar kemuliaan Nama Tuhan jauh lebih tinggi daripada apappun yang menguasai dunia ini.
“Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yohanes 9:3). Saat Para murid bertanya tentang seorang yang buta sejak lahirnya.Apakah kesalahan ini merupaka kesalahan orangtuanya. Yesus menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kesempatan Tuhan memperlihatkan kemuliaan-Nya melalui pekerjaan Tuhan Yesus sendiri. Pekerjaan pekerjaan Tuhan haruslah diutamakan karena Tuhan berkehendak kemuliaan-Nya haruslah menyelimuti muka bumi ini. Kemuliaan Tuhan merupakan inti dari seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus selama menjalankan karya-Nya di muka bumi ini. Banyak manusia memuliakan dirinya karena kehebatannya, kekayaannya, keterampilannya,parasnya,keahliannya,dsb. Sehingga Nama Tuhan dilupakan dan dibelakangi oleh setiap orang yang dikuasasi oleh ketamakan dan kesombongan pribadi yang akan menjerumuskannya pada kebinasaan kekal.
Yesus sadar betul bahwa diri-Nya adalah pantulan kasih Allah yang harus menerangi dunia dengan pekerjaan pekerjaan baik yang membesarkan Nama Tuhan yang Mahatinggi.Keabadian dan kemuliaan kekal menunggu kehadiran orang yang beriman untuk melaksanakan kehendak Allah yang merupakan pencipta dan pemberi hidup bagi setiap manusia. Sudah selayaknya. Setiap orang melaksanakan seluruh keinginan Tuhan agar kemuliaan Nama-Nya senantiasa terucap oleh setiap orang yang merasakan kehadiran-Nya di muka bumi ini. Yesus sungguh tahu bahwa orang yang buta sejak lahirnya bukanlah merupakan pesakitan yang harus didakwa dan dihakimi melainkan merupakan sarana bagi kasih Allah untuk mengalir seccara deras bagi kehidupan manusia yang derap langkahnya terdengar setiap saat di bumi ini. Orang yang buta sejak lahirnya perlu dibimbing dan dituntun untuk mengarahkan hidupnya kepada Allah. Ia bersyukur bahwa kebutaannya menjadi sarana rahmat Allah yang bekerja bagi setiap manusia. Di akhir perikop, seorang yang buta sejak lahirnya disembuhkan oleh Tuhan Yesus dan mewartakan kesembuhannya kepada setiap orang yang ia jumpai di jalan dan rumah ibadat. Ia memberitakan bahwa Tuhan sungguh amat baik dan sudah selayaknya untuk dipuji dan disembah oleh setiap orang yang mendambakan kasih-Nya.
Orang yang buta sejak lahirnya menjadi agen Tuhan untuk memuliakan Nama-Nya di dunia ini.Kita yang masih hidup di dunia ini perlu meniru perilaku orang yang buta sejak lahirnya dan te;ah tahir sehingga menjadi sarana kehadiran Allah di muka bumi ini.



















