TUHAN YANG SENANTIASA MENEMANI MANUSIA DENGAN RAHMAT DAN KEMURAHAN-NYA
Oleh: Johanes Libu Doni, SS
Penerjemah Ahli Muda Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Suatu malam seorang pria tua menarik gerobak berisi barang rongsok menyusuri sebuah jalan yang gelap. Dengan gagah berani pria tua tersebut menyusuri jalan itu dengan langkah pasti menarik gerobaknya menuju jalan pulang.
Hujan rintik-rintik tidak menghalanginya untuk bergegas pulang karena hari sudah menunjukan pkl 20,00.
Aku yang berpapasan dengannya menyapanya dengan penuh perhatian.”selamat malam pak, ini ada nasi bungkus untuk makan malam.” Sapaku dengan ramah.
Sang bapak lantas menerima dua plastik berisi nasi bungkus yang telah kusiapkan di stang motorku sambil menyahut.”terimakasih banyak nak karena kebetulan bapak belum makan malam. Semoga kebaikan bapak dibalas Tuhan.”
Lalu kutanya kembali “memang di rumah ada siapa aja pak? Lalu dengan tatapan lelah ia berujar, “bapa hanya sendirian aja di rumah, nak dan tidak ada siapa siapa lagi,”
Lalu kutatap wajah bapak itu dengan penuh kasih dan kukatakan dengan nada ramah.”semoga sehat selalu bapak. Semoga perjalanannya lancar sampai di rumah ya.” Lantas kami berdua kembali melanjutkan perjalanan kami masing-masing.
Saat kukendarai motorku kembali, air mata menetes di pipiku dengan tiada hentinya. Kubertanya dalam hati, siapa yang akan memikirkan keberadaannya?, siapa yang akan mengkhawatirkannya? Dan siapa yang akan menunggunya pulang?, siapa yang akan memikirkan nasibnya? Aku yakin tidak akan ada orang yang peduli pada kehadiran bapak tersebut karena baginya ada atau tidaknya bapak tersebut, kehidupan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Tak tahan aku menahan tangis dan kuhentikan motorku sambil kuseka pipiku yang meneteskan air mata. Apakah saudara dan saudarinya masih peduli pada dirinya dan menanyakan keadaannya. Aku yakin tidak akan ada yang akan menyapanya dan memedulikannya karena usianya sudah uzur dan tak berpenghasilan pula. Siapa yang akan menuntunnya bila Ia sakit atau kecelakaan di jalan. Aku yakin tidak ada seorangpun yang akan memikirkannya. Lalu, siapa yang akan menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Aku yakin tidak akan ada orang yang akan menanyakannya.
Sang bapak adalah contoh dari orang yang terlupakan.terbuang, tersudutkan, terabaikan, terisolir, teraniaya, terhempas, dll.
Eksistensinya dilupakan zaman dan tidak diindahkan lagi oleh siapapun bahkan kerabatnya sekalipun akan melupakannya dan menyangkal keberadaannya karena tidak punya kekayaan dan status social yang bergengsi seperti yang dikehendaki oleh siapapun.
Sang bapak hanya memiliki satu hal yaitu kejujuran, keikhlasan, kasih sayang dan kemurahan hati.
Hidupnya dihindari orang karena miskin dan tak punya apa apa. Namun satu hal yang tidak bisa ia sangkal yaitu Tuhan senantiasa menemaninya dengan rahmat dan kemurahan-Nya yang tidak akan pernah berhenti dimakan oleh waktu. Cinta kasih Tuhan tidak pernah lekang oleh waktu karena kasih-Nya adalah sumber kehidupan kekal yang dibutuhkan oleh sang bapak untuk menjalani hidupnya yang fana ini.
Pengalamanku bertemu dengan sang bapak yang sudah lanjut usianya tersebut orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.” (Markus 14:7).
Sabda Tuhan Yesus ini mengisyaratkan satu hal yaitu semua orang miskin senantiasa ada di hidup manusia dan kita dapat membantu mereka namun kasih Yesus akan tetap tinggal di hati manusia meskipun secara fisik Tuhan Yesus telah berada di surga.
Kasih kepada yang terlupakan tidak boleh luntur dan habis karena kaum miskin dan rentan adalah representasi Tuhan sendiri di dunia untuk mendapatkan perhatian secara istimewa. Walaupun secara fisik Tuhan Yesus tidak hadir di bumi ini, rahmat dan kemurahan-Nya tidak pernah berhenti menemani manusia melangkah, berbicara, berbuat baik, berpikir, belajar, berolahraga, makan, beristirahat, kesulitan, kesukaran, dihimpit hutang, dihindari orang, dll. Rahmat dan kemurahannya senantiasa hadir untuk menjadi obat mujarab bagi jiwa yang rindu untuk disapa dan dibelai oleh kasih Tuhan yang tidak akan pernah habis ditempa oleh waktu.
Kehadiran Yesus yang adalah Tuhan merupakan hal nyata di muka bumi karena kasih Tuhan akan selalu ada menemani manusia yang mengidam-idamkan keselamatan dan kebahagiaan kekal. Kehadiran Tuhan Yesus dalam diri sang bapak yang tua renta membuktikan satu hal yaitu kasih Tuhan yang menyapa manusia akan selalu memberikan kesejukan dan sukacita bila kita mau menyapa balik sapaan-Nya melalui pemberian kita kepada sang bapak yang manula tersebut berupa makanan, minuman, pakaian, tempat berteduh, perhatian, sapaan, sentuhan kasih, dll, yang akan menyenangkan hati sang bapak.
Sapaan balik dari kita yang hidup berkecukupan kepada yang tua renta dan tak berdaya akan membantu mereka untuk terselamatlkan jiwanya karena mereka juga manusia yang penuh dengan kekecewaan kepada kerabatnya, perselisihan dengan orang terdekatnya, dsb. Belaian kasih kepada yang renta dan terbuang merupakan pancaran kasih Tuhan sendiri yang harus senantiasa kita alirkan karena Tuhan sendiri tidak pernah menutup rahmat dan kemurahan-Nya kepada mereka. Manusia yang hidup di dunia ini sangat wajib untuk mengedepankan kasih Tuhan lewat perbuatan baik kepada yang terabaikan dan teraniaya karena hal tersebut merupakan kewajiban kita sebagai manusia yang adalah abdi Tuhan untuk melaksanakan seluruh kehendak Tuhan dengan tiada bersungut-sungut.
Persoalannya adalah maukah kita menyampaikan rahmat dan kemurahan Tuhan kepada yang lemah dan tersingkir ini?
Pertanyaan ini hanya sanggup dijawab oleh manusia itu sendiri karena ketulusan dan keikhlasan itu hanya bisa dirasakan oleh manusia yang memang hidupnya berpaut pada Tuhan saja.
“Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:6).
Nabi Daud selaku penulis kitab mazmur amat menyadari bahwa Kemurahan Tuhan akan senantiasa menyertainya jika iman kita bergantung hanya kepada-Nya sebab manusia yang sepenuhnya bersandar hanya pada Tuhan maka kemurahan dan kebajikan akan mengikuti dia seumur hidup. Hidup tanpa kebajikan dan kemurahan Tuhan adalah hidup yang tidak berkenan pada Tuhan dan menuju pada kematian kekal.
Oleh karenanya setiap manusia yang hidupnya berpegang teguh pada sabda dan kehendak-Nya akan memperoleh kebahagiaan abadi. Iman yang teguh pada Tuhan artinya menyerahkan seluruh hidup pada penyelenggaraan Tuhan yang pasti akan memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Manusia yang hidupnya diletakan pada kebesaran Tuhan akan beroleh rahmat dan kemurahan Tuhan yang senantiasa menemani hidup manusia meskipun manusia tersebut hidup terhimpit oleh kesulitan yang besar.
Sang bapak yang hidupnya terbatas secara ekonomi telah merasakan kebaikan Tuhan yang memang lebih dahulu mengasihinya.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).
Tuhan Yesus dalam penggalan ayat ini mau menekankan satu hal fundamental yakni Allah Bapa di surga sangat mencinai manusia hingga Ia mengutus Yesus, Putera, untuk hadir di dunia mewartakan kebaikan dan mati di kayu salib mencurahkan rahmat dan kemurahan-Nya bagi manusia yang menghendaki kehidupan kekal. Begitu juga dengan sang bapak yang tak berdaya secara ekonomi tersebut yang memang bergantung sepenuhnya dari belas kasih orang lain tidak akan pernah lepas dari kemurahan dan rahmat-Nya karena Tuhan Yesus menitipkannya kepada umat-Nya untuk meneruskan belaskasih-Nya kepada sang bapa tua tersebut. Belas kasih dan kekusaan-Nya senantiasa menyertai hidup manusia meskipun manusia seringkali melupakan Tuhan namun Tuhan tidak pernah melupakan manusia karena Ia telah mengasihinya sejak dunia dijadikan seperti seorang ibu yang tidak akan pernah melupakan bayinya. “Oleh itu TUHAN menjawab, “Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, atau tidak mengasihi anak kandungnya? Sekalipun ibu melupakan anak, Aku tidak akan melupakan kamu. Hai Yerusalem, Aku tidak akan melupakan kamu! Aku telah menuliskan nama kamu pada tapak tangan-Ku.” (Yesaya 49:15-16).
Tuhan tidak akan pernah melupakan manusia sampai kapanpun bahkan ketika manusia menjauh dan berdosa, Ia tidak akan pernah lupa akan kasih setianya kepada setiap anak-anak-Nya. Meskipun seorang ibu bisa melupakan bayinya namun Tuhan akan selalu ingat akan anak-anak-Nya yang senantiasa berharap pada rahmat dan kemurahan-Nya. Rahmat dan kemurahan Tuhan tidak akan pernah berhenti menaungi manusia dari segala bentuk kesulitan hidup dan kesengsaraan karena memang sudah kodratnya Tuhan untuk mengasihi manusia yang menggantungkan pengharapan pada kasih karunia-Nya.
Bahkan Tuhan telah menuliskan nama kita di telapak TanganNya agar suatu hari kelak kita kembali pada pangkuan-Nya yang abadi. Tuhan bahkan tidak pernah sedetikpun berpaling dari kesulitan hidup kita karena kita seperti biji matanya yang akan selalu dirawat dan dijaga setiap hari, “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu – sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.” (Zakaria 2:8),
Biji mata merupakan sesuatu yang amat berharga dan bernilai sehingga dirawat serta dipelihara setiap hari. Biji mata merupakan metafora yang mau memberitahukan bahwa manusia memiliki nilai yang amat berharga dalam pandangan Tuhan karena manusia adalah anak-anaknya yang membutuhkan pertolongan-Nya setiap hari. Sehingga manusia dirawat dan dipelihara untuk hidup bahagia selama-lamanya. Kalau manusia adalah biji mata Tuhan maka pastinya kelangsungan hidupnya dipikirkan oleh-Nya agar tidak kekurangan satu apapun. Biji mata Tuhan tidak akan pernah lepas dari Tuhan karena Ia telah mengukir nama kita manusia di atas telapak tangan-Nya.
“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” (Amsal 3:1-8).
Nabi Salomo selaku penulis kitab amsal menekankan hal yang amat mendasar dan hakiki yaitu manusia yang memegang teguh perintah dan kehendak Tuhan akan memperoleh kebahagiaan sejati seperti yang dijanjikan-Nya yaitu umur panjang, sehat.dll. jadi bila manusia ingin ditemani oleh Rahmat dan kemurahan Tuhan, maka hal yang harus dilakukan adalah menaati perintah-Nya dan melaksnakan kehendaknya karena Tuhan menghendaki agar sabda-Nya dikalungkan pada leher kita dan terpatri di sanubari kita yang terdalam. Hanya dengan jalan demikian maka manusia akan memperloleh rahmat dan kemurahan Tuhan selama-lamnya. Tanpa ketaatan dan kesetiaan, manusia hanya akan berada dalam ketidakpastian dan kehampaan hidup. Mengapa sabda Tuhan harus dilaksanakan dalam hidup manusia? Manusia sangat perlu melaksanakan kehendak dan rencana Tuhan karena tujuan hidup manusia adalah hidup dalam kekekalan bersama Tuhan, Hanya dengan jalan menaati dan melaksanakan perintah-Nya, maka manusia akan tiba pada kesempurnaan hidup yakni bersatu dengan pencipta-NyA dan pemberi hidup. Sudah semestinya, setiap orang menjalankan perintah dan kehendak Tuhan karena jalan ini adalah satu-satunya untuk menggapai hidup abadi bersama Bapa di surga. Tanpa kekudusan manusia tidak akan melihat allah di surga. Pertanyaan selanjutnya, apakah manusia menyadari akan kehadiran rahmat dan kemurahan Tuhan dalam hidupnya? Pertnyaan ini hanya bisa dijawab oleh manusia itu sendiri karena setiap manusia pastinya bergelut dengan persoalan dan rintangan hidup yang akan mendewasakan langkahnya untuk bersatu dengan bapa di surga. Kesadaran akan rahmat dan kemurahan Tuhan merupakan sesuatu yang amat penting untuk merasakan kebaikan Tuhan yang tak lekang oleh waktu. Kebaikan Tuhan merupakan landasan utama agar manusia dipenuhi dengan ucapan syukur yang besar untuk membiarkan Allah merenda hidupnya agar selaras dengan grand design Allah Bapa saat menciptakan kita di firdaus.
Setiap gerak-gerik manusia telah dipenuhi oleh rahmat dan kemurahan Tuhan. Maka dari itu manusia tidak bisa menyombongkan diri bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya adalah usaha dan kerja kerasnya. Usaha dan kerja keras manusia hanyalah 20 persen untuk mewujudkan segala rencana dan kehendak manusia. 80 persen keberhasilan hidup manusia itu adalah peran Tuhan sendiri agar nama-Nya dimuliakan di muka bumi ini. Maka dari itu kesombongan dan ketamakan perlu sekali untuk ditenggelamkan agar kasih-Nya merambah jiwa kita yang gersang untuk memperoleh rahmat yang besar. Jiwa manusia yang dipenuhi dendam, iri hati, siasat jahat, pikiran cabul, dan kebebalan adalah sampah dunia yang akan menghancurkan hidupnya kelak. Maka dari itu, Rahmat dan kemurahan Tuhan perlu sekali merasuki hidup manusia agar pengampunan dan belas kasih kepada diri sendiri dan sesama menjadi terwujud. Tanpa rahmat dan kemurahan Tuhan, manusia tidak akan bisa mengampuni orang yang bersalah kepadamya. Dalam kitab amsal di atas pada ayat 8, menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan adalah obat paling mujarab untuk menyegarkan jiwa kita agar terbebas dari sakit dan wabah penyakit. Tanpa rahmat dan kemurahan Tuhan manusia akan tenggelam dalam kebinasaan kekal yang merupakan ujung dari hidupnya. Rahmat dan kemurahan Tuhan yang dianugerahkan lewat wafat Yesus di Kayu salib dengan darah-Nya yang tercurah merupakan obat paling mujarab untuk hidup abadi. Pergolakan batin yang akan mengarah kepada cahaya kemuliaan kekal memang tidak mudah karena manusia harus mengalahkan dirinya sendiri dan mengedepankan Tuhan menjadi komando utama dalam hidupnya. Kalau komando diambil alih oleh Tuhan Yesus, maka seluruh hidup manusia akan beroleh rahmat dan kemurahan Tuhan yang amat besar sekali untuk melawan dirinya dan mengampuni sesama yang melukai hati manusia tersebut. Perjuangan melawan darah dan daging adalah hal yang keliru karena perjuangan kita sebenarnya adalah melawan diri kita sendiri dan roh-roh yang mau menjerumuskan kita untuk masuk dalam kebinasaaan kekal. “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12). Rasul Paulus saat menuliskan suratnya kepada jemaat di efesus menjelaskan secara gamblang bahwa perjuangan kita yang sebenarnya adalah mengalahkan diri kita sendiri yang seringkali dikuasai oleh hawa nafsu, dendam, iri hati, rencana jahat, tipu muslihat, bebal, pikiran cabul, dll. Hal ini perlu dengan menghadirkan rahmat dan kemurahan Tuhan dalam hidup kita dengan lebih nyata lagi yaitu dengan terus melaksanakan sabda-Nya dan menjauhi kejahatan, hanya dengan cara demikian, setiap orang memperoleh hdiup yang kekal. Tanpa Rahmat dan kemurahan Tuhan, manusia hanyalah sampah yang tak berguna dan hidup dalam kesenangan duniawi dan hedonisme. Maka dari itu mohonkanlah rahmat dan kemurahan Tuhan untuk senantiasa menyertai langkah hidup kita meraih hidup abadi.















