Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

Sejak 2010-2015 Tren Analog Teresterial Alami penurunan dan penggunaan Tren Pay DTT Alami Peningkatan

×

Sejak 2010-2015 Tren Analog Teresterial Alami penurunan dan penggunaan Tren Pay DTT Alami Peningkatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Example 300x600

Sejak 2010-2015 Tren Analog Teresterial Alami penurunan dan penggunaan Tren Pay DTT Alami Peningkatan

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Pada tanggal 30 April 2022 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akan melakukan penghentian siaran TV Analog tahap 1. Masyarakat diharapkan untuk bersiap-siap untuk menggunakan Set Top Box (STB) bagi pengguna TV Analog agar mendapatkan siaran yang lebih bagus, jernih, dan canggih.

Untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah wilayah yang terdampak yaitu Kabupaten Blora, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kabupaten Pati, Kabupaten Jepara, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Brebes.

 

H. Bachrudin Nasori, S.Si., M.M selaku anggota komisi 1 DPR RI mengatakan, Era digital saat ini masyarakat sudah sepatutnya mengikuti perkembangan zaman, termasuk pada perkembangan siaran televisi. Hal ini dilakukan agar masyarakat seluruh Indonesia dapat mengkonsumsi siaran yang lebih bagus.

 

“Siaran digital terlihat lebih efisien dalam biaya infrastruktur dan biaya operasional lebih murah. Siaran digital juga memilki spektrum frekuensi yang berdapak pada big data akses internet,” sebut Bachrudin pada acara Sosialisasi Analog Switch Off (Aso) dan Seremoni Penyerahan Bantuan Set Top Box (STB) Kementerian Kominfo Bersama Komisi I DPR RI yang digelar oleh Direktorat Pengelolaan Media Kemkominfo RI dengan tema ‘Masyarakat Bersiap Migrasi dari TV Analog ke TV Digital; Bersih, Jernih, dan Canggih,’ Jakarta (25/04/2022).

Ia menambahkan, migrasi ke TV digital juga akan berdampak baik untuk ekonomi digital. Dimana akan lebih banyak pelaku UMKM yang berjualan secara online yang menjangkau banyak pembeli di seluruh Indonesia tanpa terkendala jaringan yang lemot.

 

“Bagi masyarakat miskin akan mendapatkan bantuan STB dari Lembaga Penyiaran MUX, bukan dari pemerintah atau dapat juga mengunjungi laman https://komin.fo/stbASO1 ,” tegas Bachrudin.

Sementara itu narasumber berikutnya, Dr. Rosarita Niken Widyastuti, M.Si selaku Staf Ahli Menkominfo mengatakan bahwa penghentian tersebut salah satunya untuk efisiensi frekuensi, dimana satu frekuensinya bisa digunakan untuk 6 sampai 12 TV.

“Perluasan frekuensi tersebut bisa juga digunakan untuk akses internet, peningkatan sinyal internet dari 4G ke 5G, dan daerah blankspot dapat berkurang dengan adanya perluasan frekuensi ini, sehingga semua masyarakat dapat menikmati siaran yang bersih gambarnya, jernih suaranya, dan canggih teknologinya,” kata Niken.
Untuk pengguna TV analog wajib menggunakan media set top box (STB) untuk menunjang tertangkapnya sinyal digital. Set Top Box ini sudah mendukung Digital Video Broadcasting –Second Generation Terrestrial (DVB-T2). Set Top Box tidak memerlukan antene parabola dalam menerima sinyal digital, cukup menggunakan antene televisi biasa (UHF).

“Adapun mekanisme pendistribusian bantuan STB hanya untuk rumah tangga miskin. Untuk masyarakat rumah tangga miskin akan mendapatkan bantuan STB bukan dari pemerintah, melainkan dari penyelenggara MUX, baik TVRI maupun tv swasta lainnya. Apabila bantuan yang diberikan kurang, makan pemerintah akan membantu pemberian STB yang akan dikirimkan melalui pos,” ujar Niken.

Terdapat 3 tahapan dari analog switch off, yaitu pada Tahap pertama dilaksanakan pada 30 April 2022 Waktu Setempat (56 Wilayah Layanan). Tahap kedua dilaksanakan pada 25 Agustus 2022 Waktu Setempat (31 Wilayah Layanan). Dan tahap ketiga dilaksanakan pada 2 November 2022 Pukul 24.00 ( 25 Wilayah Layanan).

 

Narasumber terakhir, Muhammad Aulia Assyahiddin, S.S selaku Ketua KPID Prov. Jawa Tengah mengatakan, Kominfo akan melakukan migrasi siaran TV Analog ke TV digital yang akan dilakukan di 221 kota/kabupaten yang dilakukan dengan menggunakan 2 skema, yaitu yang dimulai dari daerah hijau atau daerah merah. Sementara itu untuk wilayah yang tidak memiliki jaringan TV analog disolusikan dengan menggunakan satelit.

 

“Sejak tahun 2010-2015 Tren Analog Teresterial mengalami penurunan dan penggunaan Tren Pay DTT ( Digital Terestrial Television) mengalami peningkatan,” kata Muhammad.

 

Pengguna TV analog pada 2010 berjumlah 526,6 juta, sedangkan pada tahun 2015 menurun menjadi 261.9 juta pengguna.

 

Sementara itu, pengguna Pay DTT pada 2010 berjumlah 8.3 juta, sedangkan pada tahun 2015 meningkat menjadi 12,6 juta pengguna. Kemudian Tren FTA DTT sejak 2010 s.d 2015 mengalami peningkatan. Pengguna FTA DTT ada 2010 berjumlah 83 juta, sedangkan pada tahun 2015 meningkat menjadi 239,4 juta pengguna.

“Dengan adanya perubahan ASO (Analog Switch Off) diharapkan seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan siaran yang layak. Dengan adanya digital diharapkan semua siaran TV masuk ke digital, adapun nanti akan muncul channel baru siaran lokal,” harap ketua KPID Jawa Tengah.
Ada beberapa peran dari KPID Jawa Tengah mengenai migrasi TV analog ke TV digital, seperti melakukan kajian terhadap perkembangan dunia penyiaran, media konvensional, dan konvergensi media, kemudian mendorong upaya relevansi regulasi penyiaran sesuai dengan perkembangan media penyiaran, teknologi dan informasi. Dan mendorong penguatan kelembagaan, serta mendorong lahirnya pengawasan mandiri di masyarakat melalui gerakan literasi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…