Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANasional

KEPCO Tunda Pembahasan Pendanaan: Hasil Studi Kelayakan Awal KDI, Proyek PLTU Jawa 9&10: Tidak Layak Secara Ekonomi dan Kemanusiaan!

×

KEPCO Tunda Pembahasan Pendanaan: Hasil Studi Kelayakan Awal KDI, Proyek PLTU Jawa 9&10: Tidak Layak Secara Ekonomi dan Kemanusiaan!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KEPCO Tunda Pembahasan Pendanaan: Hasil Studi Kelayakan Awal KDI, Proyek PLTU Jawa 9&10: Tidak Layak Secara Ekonomi dan Kemanusiaan!

Jakarta, Gramediapost.com

Example 300x600

Baru-baru ini Korea Development Institute (KDI) mengeluarkan hasil studi kelayakan awal atas proyek PLTU Jawa 9 & 10 di Suralaya, Banten, Indonesia. Studi tersebut menunjukkan proyek emisi kotor di luar negeri tersebut minus. Studi ini membuat para direktur KEPCO, perusahaan listrik nasional Korea Selatan menunda pembahasan pendanaan Jawa 9&10 dalam agenda rapat dewan direktur.

Sebelumnya parlemen Korea Selatan juga membahas kontroversi proyek ini dalam beberapa rapat dengar pendapat dengan perusahaan keuangan publik yang mensponsori pendanaan Jawa 9-10 dan kementerian terkait. Lembaga publik Korea yang nilai investasi di atas 4,5 juta dollar Amerika, diwajibkan melakukan studi kelayakan awal.

Hasil studi ini membuktikan bahwa proyek PLTU tidak layak didanai karena berpotensi rugi dari sisi keuangan dan bisnis. Ini belum termasuk biaya eksternal seperti lingkungan dan kemanusiaan akibat paparan emisi.

Membiayai proyek batu bara hanya akan meningkatkan risiko dan ancaman kesehatan bagi masyarakat sekitar. KEPCO seharusnya tidak hanya menunda pembahasan pendanaan namun membatalkan secara permanen keterlibatannya dari proyek kotor ini. Ini juga harus diikuti oleh KDB, KEXIM dan K-SURE untuk tidak melibatkan warga Korea Selatan meracuni warga Indonesia,” kata Yuyun Indradi, Direktur Eksekutif Trend Asia.

Sementara pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim bahwa pendanaan proyek Jawa 9&10 hampir “closing” pada awal Januari 2020. Pemerintah Indonesia terlalu yakin proyek ini akan didanai di tengah kontroversi di dalam negeri Korea Selatan. Namun hingga akhir Januari ternyata klaim tersebut tidak terbukti.1]
Pada 5 Oktober 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan proyek PLTU Jawa 9 & 10. Kedua proyek masuk dalam program 35.000 Megawatt yang telah digadang-gadang Jokowi sejak Mei 2015 dan disebut menggunakan teknologi Ultra Super Critical (USC) yang diklaim “ramah lingkungan”.

“Presiden Jokowi harus sadar bahwa proyek emisi tinggi seperti PLTU kini tidak lagi diminati lembaga pendana karena dampak pada lingkungan dan manusianya. Jawa 9&10 harus dibatalkan untuk menyelamatkan masyarakat karena saat ini paparan polusi di Banten dan Jakarta sangat berbahaya, artinya jika diteruskan maka Pemerintah memang berniat membunuh rakyat Banten dan sekitar secara pelan-pelan dengan meracuni udara di Banten dan Jakarta,” ujar Didit Haryo dari Greenpeace Indonesia.

Ekspansi pembangunan PLTU batu bara ini diprotes warga karena akan semakin memperburuk kualitas udara dan mempengaruhi kesehatan warga yang tinggal di sana. Data Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun 2019 mengungkapkan penyakit yang paling banyak diderita oleh warga Cilegon adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), yakni sebanyak 39.455 kasus yang mayoritas diderita oleh balita.

Parahnya, angka ini justru meningkat dua kali lipat lebih dari data tahun 2017 yakni sebanyak 15.039 balita.
“Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Greenpeace, jika rencana ekspansi ini tetap dibangun dan beroperasi, diprediksi akan mengakibatkan 4.700 kematian dini selama 30 tahun masa operasi PLTU. Namun, angka ini bisa ditekan jika pemerintah Moon Jae-In menghentikan lembaga keuangan publiknya berinvestasi di proyek energi jika standar emisinya tidak sama dengan yang digunakan di dalam negeri. Dengan mengakhiri standar ganda ini, Korea Selatan bisa menyelamatkan ribuan nyawa dari investasinya di luar negeri, jika udara yang tercemar oleh PLTU Batubara tidak baik untuk rakyat Korea, maka hal yang sama berlaku untuk rakyat Indonesia,” tegas Didit.

Pada Agustus 2019, tiga warga Banten bersama warga Korea Selatan mengajukan gugatan hukum preliminary injunction* terhadap lembaga keuangan publik Korea Selatan ke Pengadilan Tinggi Tingkat I Korea Selatan. Selain itu, satu warga Banten juga mengirim petisi kepada Presiden Korea Selatan Moon Jae-In dan Pimpinan Dewan Nasional Iklim dan Udara Bersih Korea Selatan, Ban Ki-Moon. Tuntutannya agar lembaga keuangan publik terkait dan pemerintah Korea Selatan segera berhenti mendukung pendanaan pembangunan PLTU Jawa 9 & 10 di Suralaya, Cilegon, Banten.

(Hotben)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialisasi Program BERSIAP Academy Karawang, 22 Juni 2026 – Komitmen untuk memperluas akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas kembali diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP Academy, Pelatihan dan Penempatan Disabilitas di Kawasan Industri Kabupaten Karawang yang diselenggarakan di Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Kamis (18/6). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, organisasi penyandang disabilitas, hingga mitra industri untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait S. IP., M.A., Ketua Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., serta perwakilan industri di kawasan Kabupaten Karawang dan organisasi penyandang disabilitas. Kolaborasi Menuju Ketenagakerjaan Inklusif yang Berkelanjutan Sambutan dan peresmian pembukaan kegiatan Sosialisasi Program BERSIAP dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Ibu Rosmalia Dewi, S.H., M.H., yang menyambut baik pelaksanaan Program BERSIAP Academy dan menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan penempatan kerja yang lebih efektif bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, Ketua FKLPID Jawa Barat, Bapak Benny Tunggul HS., ST., MM., Ph.D., menyampaikan bahwa Kabupaten Karawang telah memiliki banyak praktik baik dalam penerapan ketenagakerjaan inklusif. Namun demikian, diperlukan dukungan yang lebih terstruktur agar perusahaan-perusahaan semakin siap menerima dan memberdayakan tenaga kerja penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan bagi perusahaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan dunia usaha dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif. “Di Kabupaten Karawang sebenarnya sudah banyak praktik baik yang dilakukan perusahaan dalam mempekerjakan penyandang disabilitas, ada perusahaan yang sudah memenuhi kuota 1 persen. Namun diperlukan dukungan dan pendampingan agar perusahaan semakin siap. Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, perusahaan-perusahaan di Karawang memiliki peluang untuk menjadi contoh praktik ketenagakerjaan inklusif yang dapat memperoleh apresiasi hingga tingkat nasional,” ujar Bapak Benny Tunggul. CEO dan Founder Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Sirait S. IP., M.A, memperkenalkan Program BERSIAP Academy yang didukung oleh DBS Foundation sebagai program yang dirancang untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, pendampingan karier, dan memberikan pemahaman mengenai disabilitas kepada perusahaan supaya lebih mengerti urgensi dan manfaat. Melalui tiga fokus utama DBS Foundation yakni menyediakan kebutuhan dasar, mendorong inklusi dan mempersiapkan komunitas menua agar lebih berdaya dan bermartabat, DBS Foundation berupaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih inklusif dan siap menghadapi masa depan (future ready). Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation mengatakan, “Kami mengapresiasi KONEKIN dan semua pemangku kepentingan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan terus memajukan agenda inklusivitas bagi tenaga kerja agar mereka lebih tangguh. Melalui program BERSIAP, kami yakin dapat membantu masyarakat rentan untuk mencapai kesetaraan dan memiliki daya saing yang adil. Inisiatif ini secara khusus selaras dengan fokus DBS Foundation pada pendidikan dan inklusivitas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan mendorong keterampilan siap masa depan, yang krusial untuk memberdayakan individu agar berkembang di dunia kerja.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina PTKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Asrian Darma Saputra, S.E., M.Si., menyampaikan materi “Arah Kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau memaparkan data terkini mengenai kondisi penyandang disabilitas berdasarkan ragam disabilitas dan jenjang pendidikan, sekaligus menjelaskan arah kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan dalam pengembangan tenaga kerja inklusif, penguatan layanan 1 penempatan tenaga kerja khusus bagi penyandang disabilitas, serta implementasi berbagai regulasi pendukung ketenagakerjaan inklusif. Selain itu, beliau juga menyampaikan kebijakan pemberian penghargaan dan insentif bagi pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta informasi mengenai terbitnya Permenaker Nomor 8 Tahun 2026 yang menggantikan Permenaker Nomor 3 Tahun 2021 sebagai bentuk penguatan kebijakan dalam penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di dunia kerja. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Koneksi Indonesia Inklusif dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelatihan dan meningkatkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas di kawasan industri. Kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan Program BERSIAP Academy, diskusi dan tanya jawab interaktif oleh peserta yang berasal dari Pemangku Kepentingan, HR Manager perusahaan, universitas lokal dan komunitas disabilitas, yang ditutup oleh penyusunan rencana tindak lanjut dan sesi networking yang melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan organisasi penyandang disabilitas, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi secara aktif di dunia kerja. Kabupaten Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan praktik ketenagakerjaan inklusif yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta memberikan kesempatan yang setara. Tentang Program BERSIAP Academy BERSIAP Academy adalah program pelatihan intensif daring yang dirancang khusus untuk membekali talenta muda penyandang disabilitas dengan keterampilan dan kesiapan kerja yang dibutuhkan di dunia industri. Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring yang dipandu oleh narasumber serta mentor profesional dari berbagai bidang. Program ini berfokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial sehingga peserta dapat berkembang menjadi talenta potensial yang siap direkrut perusahaan. Sejak tahun 2023, BERSIAP Academy telah diselenggarakan sebanyak tiga angkatan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, yaitu Unilever, DBS Bank Indonesia, dan Godrej Indonesia. Program ini telah menghasilkan 150 alumni penyandang disabilitas, dengan tingkat penyerapan kerja mencapai 51%. Program BERSIAP didukung oleh DBS Foundation melalui program Business for Impact 2025 sebuah inisiatif yang memperkuat komitmen Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven organisation dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, berkat dukungan tersebut KONEKIN kembali menyelenggarakan BERSIAP Academy di 5 kawasan industri yaitu Karawang, Batang-Kendal, Batam, Balikpapan, dan Morowali dengan tujuan untuk mendukung pemerataan dan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
Nasional

Sosialisasi Program BERSIAP Academy   Karawang, 22 Juni…