MEMBERLAKUKAN KEHENDAK BAPA DI TENGAH DUNIA YANG TERLUKA

0
45

 

Oleh: Weinata Sairin

 

_”Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”_ (Matius 12:50)

Dalam rentang hidupNya yang relatif singkat Yesus Kristus amat aktif dalam menjalankan tugasNya. Ia “blusukan” kemana-mana, ia menyembuhkan orang sakit, Ia menghidupkan orang mati, Ia bertemu dan berbincang dengan banyak orang dari berbagai lapisan, Ia makan bersama dengan orang berdosa, Ia berdialog dengan perempuan yang dituduh a moral di zaman itu. Tanpa jargon, banner, flyer atau bentuk-bentuk promosi apapun, Yesus itu menjalankan tugas : kerja. Kerja. Kerja. Kerja. Melalui perjalanan dan tugas-tugas pelayanan yang Ia lakukan, Yesus mengartikulasikan nilai-nilai Injil secara kontekstual. Pada saat itu Ia juga berkotbah, Ia mengajar, Ia membuat mujizat yang kesemuanya merupakan wujud dari konkretisasi nilai-nilai Injil ditengah kehidupan masyarakat.

Yesus bisa dikategorikan sebagai figur yang workaholic, yang sangat memberikan perhatian pada aspek kerja, bahkan acap orang menyebutnya “gila kerja”. Dalam kenyataan empirik, biasanya orang yang dijuluki workaholic memang sangat mementingkan kerja, bahkan hingga mengorbankan yang lain, termasuk keluarganya sendiri.

Alkitab dengan jelas memberitakan bahwa Yesus _berkeliling_ keberbagai kota, mengajar, melenyapkan segala penyakit (Mat. 4:23-25). Artinya Yesus bergerak kesana kemari mendatangi orang, mencari orang. Ia tidak duduk-duduk manis saja menunggu laporan. Ia menjemput bola bukan menunggu bola. Menurut Pdt D.R. Maitimu ahli pembinaan DGI tahun 60-an yang memperkenalkan istilah “Jemaat Misioner”; gaya Yesus itu disebut “go structure” bukan “come structure”.

Aktivitas Yesus amat tinggi dalam memberitakan Injil, orang banyak selalu mencari Dia, apalagi mereka yang sakit yang merindukan penyembuhan; demikian juga orang-orang yang mempunyai pergumulan khusus selalu ingin bertemu dengan Yesus. Yesus dan murid-muridNya tak sempat jeda sedikitpun, bahkan makanpun mereka tak sempat (Markus 6:31). Yesus sadar betul akan waktu yang terbatas dan pentingnya Injil diberitakan kepada semua orang agar mereka mengalami pembaruan dan keselamatan.

Baca juga  Peringkat Utang Naik Daya Saing Meningkat

Ayat Alkitab yang dikutip dibagian awal tulisan ini adalah bagian dari sebuah perikop yang oleh LAI diberi judul “Yesus dan sanak saudaraNya”. Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, sedang memberitakan Injil, Kabar Kesukaan, sementara itu ibu dan saudaraNya berdiri diluar dan berusaha menemui Dia. Yesus agaknya tahu bahwa ada ibu dan saudara-saudaranya di luar sana. Tapi Yesus merasa bahwa tugas yang Ia emban belum selesai. Keluarga tidak bisa interupsi dan intervensi terhadap tugas suci yang sedang Ia tunaikan.

Yesus amat profesional dan _zakelijk_ untuk urusan seperti ini. Ia tidak mau mengorbankan yang sifatnya resmi/dinas demi kepentingan pribadi/privat. Salah seorang muridNya juga ikut mengingatkan Yesus bahwa ada ibu dan saudaraNya diluar menunggu. Yesus tetap pada sikapNya.Ia taat pada *rundown* yang sudah dibuat.

Malah kemudian Ia berkata, sambil menunjuk kearah murid-muridNya : “Ini ibuku dan saudara-saudaraku”( 12:49). Kemudian dilanjutkan dengan ayat 50 yang dikutip di awal tulisan ini.

Perikop ini bagus menjadi bahan refleksi kita sambil terus belajar memahami pemikiran Yesus. Sikap Yesus yang memberi prioritas pada tugas pelayanan ketimbang “urusan pribadi” menjadi amat pnting ditengah keprihatinan publik terhadap lemahnya profesionalisme ASN.

Kita sebagai komunitas kristiani bisa belajar dari sikap tegas Yesus dalam hal memberi tempat bagi urusan pribadi/ privat/primordial.

Pernyataan Yesus pada ayat 50 menantang kita sebagai pribadi dan sebagai Gereja agar kita mau dan mampu melakukan kehendak Bapa di surga sehingga kita bisa disebut Saudara atau Ibu Yesus.

Umat Kristen dan Gereja-gereja di Indonesia harus menampilkan kekristenan yang cantik dan elegan, cerdas memahami tanda-tanda zaman, cerdik merespons dinamika, mampu menampilkan diksi yang teduh, apresiatif, empati dan inklusif demi menghadirkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, dan sejahtera.
Mari barui dunia yang penuh luka menganga. Wujudkan dan berlakukan Injil Kristus ditengah sejarah berlumur darah. Gereja dan kekristenan takboleh
hidup dalam ghetto dan teralienasi dari konteks historisnya.
Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

Baca juga  NKRI Bersyariah, Piagam Jakarta dalam Praksis Wahabis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here