MENGGUNAKAN ‘KATA’ DENGAN HIKMAT

0
22

Oleh: Weinata Sairin

“Unum bonum verbum tres hiemale menses calefacere potest. Sepatah kata yang manis dapat membuat hangat tiga bulan musim dingin.”

Kata-kata, words punya makna yang amat fundamental dan signifikan dalam kehidupan umat manusia. Kata-kata, apalagi yang diucapkan para pemimpin, pemimpin apapun, memiliki dampak yang amat besar dalam kedirian seseorang. Bahkan di zaman beheula tatkala manusia masih menghidupi zaman animisme, *kata* itu memiliki makna yang magis, yang memiliki power, yang punya “kekuatan dalam”. Untaian kata dari para dukun, peramal di zaman itu diasumsikan memiliki kekuatan sakral-vertikal yang mampu menyembuhkan atau sanggup menolak bala. Pada zaman seperti itu para dukun dan peramal memang mengandalkan kekuatan kata dalam menjalankan “profesi”nya. Dengan kekuatan kata mereka memanggil kuasa-kuasa yang “diatas” untuk menurunkan hujan, atau untuk mengusir hama yang mengganggu tanaman para petani.

Oleh karena bentuk komunikasi manusia itu melalui _kata_, maka _kata_ juga digunakan dan menguasai seluruh sektor kehidupan manusia. Relasi formal dan informal antar manusia, manusia dengan institusi dilakukan dalam bentuk kata, bahasa. Bidang-bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya selama ini selama ini mendayagunakan _kata_ dalam melaksanakan program-program ditengah masyarakat.

Pemilihan kata, diksi menjadi amat penting dalam banyak sektor kehidupan sehingga melalui pengunaan diksi yang tepat, masyarakat terhindar dari salah tafsir sehingga mereka dapat membantu sebuah program yang ditawarkan.

Bagi mereka yang sedang sakit, berada di penjara, mengalami masalah berat maka ‘kata-kata’ menjadi amat penting. Pada umumnya mereka yang sedang berduka, sedang di penjara, mengalami sakit yang berat, mengalami permasalan yang sulit, amat membutuhkan kata-kata penguatan, penghiburan, pengharapan sehingga mereka tabah dan tekun dalam menghadapi realita yang sedang terjadi.

Baca juga  Skrip Pemuridan

Pendampingan dalam bentuk kata-kata bagi mereka yang sedang dirawat di rumah sakit bisa menjadi pilihan sementara sebelum ia bisa dikunjungi secara langsung. Tahun 1974 – 1978 ketika menjadi gembala di jemaat Cimahi-Bandung aktivitas memberi penguatan dan penghiburan bagi mereka yang sakit dan berduka telah menjadi aktivitas rutin yang dilakukan hampir setiap hari. Bagi mereka yang dirawat dirumah sakit dan tidak mempunyai anggota keluarga maka kunjungan sambil memberi kata-kata penguatan menjadi sebuah ‘terapi’ tersendiri yang dapat ikut mempercepat proses penyembuhan.

Pilihan diksi bagi mereka yang sakit atau berada dipenjara harus dilakukan sangat hati-hati agar kunjungan kita kepada mereka tidak menjadi sesuatu yang mubazir. Penting untuk diperhatikan dalam kunjungan kepada mereka yang sedang dirawat di rumah sakit adalah untuk tidak mengungkapkan kata-kata yang cenderung menghakimi bahwa penyakit yang diderita itu sebagai akibat dosa yang telah dilakukan. Relasi “penyakit-dosa” kadangkala muncul dalam aliran teologi tertentu yang acap tidak membantu dan tidak bijak jika hal itu dikedepankan tatkala kita menjenguk seorang yang sakit.

Kata-kata yang diungkapkan bagi mereka yang sedang bergumul dengan penyakit di rumah sakit adalah kata-kata yang menguatkan seseorang untuk menghadapi derita dengan kekuatan optimal karena Tuhan yang menopang dan memberikan yang terbaik. Kata-kata yang diungkapkan tidak boleh ditafsir oleh si pasien sebagai penghakiman atas dosa yang telah ia perbuat diwaktu-waktu yang lalu. Disini pilihan diksi menjadi amat penting.

Agama-agama memahami _kata_ sebagai wahana untuk membangun harmoni diantara sesama selain sebagai kendaraan untuk menceritakan kasih sayang Tuhan kepada banyak orang. Itulah sebabnya para pemimpin agama dan pejabat agama menggunakan kata-kata secara tepat dan baku dalam pidato, ceramah, kotbah, tausyiah, kultum dan sebagainya. Dengan mengungkapkan kata-kata yang tepat, baku maka suasana kehidupan menjadi lebih baik dan lebih memberi pengharapan.

Baca juga  FORTIS CADERE, CEDERE NON POTEST: YANG BERANI MEMANG DAPAT JATUH, TETAPI DIA TIDAK PERNAH AKAN MUNDUR

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan “sepatah kata yang manis dapat membuat hangat tiga bulan musim dingin”. Disini kekuatan kata dinyatakan dengan amat kuat. Kata yang “manis” bisa memberi kehangatan dalam musim dingin. Kata-kata yang indah, elegan, simpatik, sopan, beretika memang amat penting untuk diungkapkan terus dalam ruang-ruang di negeri ini. NKRI yang berPancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945 tidak membutuhkan ujaran kebencian, kata-kata menghujat agama; kata-kata menghina SARA, menghina lembaga dan menghina/mendiskreditkan pihak lain. Mari ucapkan kata-kata manis, jalankan perintah agama! Jangan membelah masyarakat dan melukai umat terkasih dengan kata-kata.

Kita prihatin bahwa sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, bangsa yang beragama, bangsa yang dikenal ramah tamah namun dalam ‘tahun politik’ ini dunia kita dikuasai oleh kata-kata bernada fitnah, hujat, ujaran kebencian yang sangat bertentangan dengan hakikat kedirian kita sebagai bangsa yang berbudaya luhur.

Di medsos satu kelompok “menghewankan manusia”; membuat metafora binatang untuk orang/kelompok yang tidak disukai atau berbeda afiliasi politik. Kita harus mengakhiri dan melawan kecenderungan seperti ini. Kita harus menebar diksi yang sejuk, sopan elegan, penuh cinta dan membangun silaturahim. Kita bisa saja berbeda dari segi suku, etnik, agama, afiliasi politik, strata sosial, dan sebagainya. Tetapi yang berbeda itu tetap orang yang kita kasihi, ia warga bangsa kita juga, ia samasekali bukan untuk dimusuhi apalagi untuk dihancurkan.

Mari kita saling mengasihi; bukan membenci dan atau menolak mereka yang berbeda dengan kita.
Mari gunakan ‘kata’ dengan penuh hikmat.

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here